Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 09 Apr 2012 12:03 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Tradisi Mapeed, Iring-iringan Unik Membawa Sesajen Khas Bali

I Putu Sukmana Ghitha
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Ibu-ibu peserta Mapeed yang berbaris panjang membawa Gebongan, sesajen khas Bali yang terdiri atas rangkaian buah dan sesajen.
Ibu-ibu peserta Mapeed yang berbaris panjang membawa Gebongan, sesajen khas Bali yang terdiri atas rangkaian buah dan sesajen.
detikTravel Community -

Ini pemandangan unik yang sering Anda lihat di berbagai gambar tentang Bali. Para perempuan Bali berkebaya putih berbaris panjang dengan susunan buah dan sesajen di atas kepalanya. Inilah tradisi Mapeed, perwujudan rasa syukur umat Hindu Bali kepada Yang Maha Kuasa.

Bila Anda beruntung dan datang tepat 10 hari setelah Hari Raya Kuningan, ritual Mapeed bisa menjadi pengalaman yang menarik dalam liburan Anda. Dalam bahasa Indonesia, Mapeed memiliki arti berjalan beriringan. Ritual ini dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam ritual ini peserta biasanya terdiri atas ibu-ibu rumah tangga yang menggunakan seragam berupa pakaian adat. Pada bagian rambut mereka ditata dengan sanggul. Kebaya khas Bali yang mereka gunakan pun memakai warna yang sama dan berbalut sarung khas perempuan Bali yang diikat dengan selendang pada bagian pinggang yang juga seragam. Selain itu, para peserta Mapeed ini juga ditemani oleh suami dan anak-anak mereka. Sanak keluarga yang ikut mengiringi perjalanan ritul Mapeed ini juga menggunakan pakaian adat Bali yang lengkap.

Sampai saat ini ritual Mapeed masih terus dilakukan di Pura Adem Alas Kedaton, Kabupaten Tabanan, Bali. Ibu-ibu peserta Mapeed mengusung Gebongan dari banjar menuju Pura Dalem Alas Kedaton. Gebongan sendiri merupakan rangkaian buah dan sesajen yang disusun dalam tempat yang disebut Dulang. Uniknya, Dulang-dulang yang digunakan mempunyai tinggi rata-rata 1 meter.

Setelah tersusun dengan apik, Gebongan pun mulai di "suun" atau mengusung di atas kepala masing-masing peserta. Kamudian, Gebongan-gebongan tersebut dibawa menuju ke pura. Sesampainya di pura, Gebongan yang sudah dibawa oleh peserta kemudian disucikan oleh pemangku setempat. Setelah pensucian dengan memercikan air suci yang disebut Tirtha, barulah persembahyangan dimulai.

Perlu Anda ketahui, untuk menjaga kekhusyukkan biasanya wisatawan yang datang dilarang meliput. Anda tidak perlu khawatir karena bagian yang dilarang diliput hanyalah areal persembahyangannya saja. Jadi, wisatawan hanya diperbolehkan mengambil gambar dari luar tembok yang dikenal Panyengker atau tembok pagar pura.

Ritual Mapeed ini memang sangat menarik perhatian wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Selain tempat pelaksanannya yang indah dengan hamparan sawah yang mengelilinginya, Mapeed ini memang sangat unik dan menarik untuk Anda saksikan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED

Foto: 10 Kota Teraman di Dunia

Kamis, 19 Okt 2017 22:25 WIB

Keamanan di destinasi wisata jadi salah satu pertimbangan penting bagi traveler. Inilah 10 kota paling aman untuk dikunjungi tahun 2017.