Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 15 Feb 2013 15:10 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menjelajahi 'Markas' Kantung Semar di Batam

Foto 1 dari 4
Salah satu keluarga Nepenthes
Salah satu keluarga Nepenthes
detikTravel Community - Batam tak hanya memiliki deretan pantai cantik, tapi juga hutan yang dihuni beragam tumbuhan. Salah satu tumbuhan unik yang ada di sana adalah kantong semar. Tumbuhan karnivora ini banyak tersebar di hutan-hutan di Batam.

Sempat tersasar sampai di Pulau Galang Baru, saya kembali lagi untuk menemui keluarga Nepenthes yang bermukim di sana. Pulau Galang Baru adalah salah satu pulau terujung yang dihubungkan dengan Jembatan Barelang dari Pulau Batam. Sedangkan Nepenthes adalah nama keluarga kantong semar. Beruntungnya, ternyata saya bertemu 4 keluarga.

Keluarga kantong semar yang pertama saya temui adalah Nepenthes gracilis. Saya menemukannya tanpa sengaja. Waktu itu saya kebetulan iseng-iseng menyusuri jalanan, menyeberangi pulau demi pulau di Batam yang dihubungkan oleh Jembatan Barelang. Tidak dinyana, saya berhasil sampai pulau terakhir, yaitu Pulau Galang Baru.

Ketika melajukan motor arah pulang, dan sempat beristirahat sejenak di dekat semak di pinggiran jalan inilah, tanpa sengaja saya bertemu dengan salah satu keluarga carnivorus plants ini. Keluarga pertama yang saya temui adalah Nepenthes gracilis.

Waktu itu, saya sempat mengabadikannya dengan kamera di telepon seluler. Kali ini saya kembali lagi dengan peralatan lengkap, dan sudah janjian dengan Yosef Rando, dan kru-nya untuk masuk hutan dan mengumpulkan keluarga besar Kantong Semar.

Yosef Rando yang merupakan perantauan asal Flores ini pun baru tahu, kalau di daerah kekuasaannya di Pulau Galang Baru juga bermukim tanaman unik ini. Jadilah hari ini kami berempat, yaitu saya, Yosef dan 2 anak buahnya masuk hutan. Tentu saja dengan logistik lengkap.

Di hari pertama, kami menyusuri pantai di ujung Pulau Galang Baru dan mendaki salah satu bukit di sana. Untuk mencapai bukit yang berketinggian 60 mdpl ini, kami harus menembus hutan bakau, baru menerabas hutan dataran rendah yang penuh semak dan pakis resam.

Sehabis menerabas hutan selama 2 jam dan menemui padang terbuka bekas hutan terbakar, kami langsung disuguhi hamparan tanah lapang penuh dengan N gracilis. Tidak hanya di tanah lapang, N gracilis ini juga banyak merambat di pohon atau semak pendek, juga memenuhi salah satu tebing berbatu yang kering. Saya menjumpai lengkap, sejak dari kantong bawah, kantong tengah, dan kantong atas.

Tumbuhan yang sering disebut kantong monyet dari keluarga N gracilis ini, dilihat dari habitat hidupnya ternyata lebih menyukai tempat terbuka dan kena sinar matahari langsung. Ketika tidak menemukan tanaman lain untuk menopang batangnya merambat, N gracilis pun mampu hanya merayap di tanah terbuka atau di tebing, dan bebatuan yang miskin lapisan tanah.

Sambil memotret saya menjelaskan pada Yosef Rando dan anak buahnya bagaimana tanaman ini mencari, dan mencerna serangga dengan kantongnya. Baru mereka semua tahu kenapa tanaman ini disebut carnivorus plants atau tanaman pemakan serangga.

Dari perkampungan keluarga N gracilis ini, setelah puas menjerat mereka ke dalam memory kamera, kami kemudian melanjutkan perjalanan menembus hutan. Beberapa kali melewati bekas hutan terbakar.

Ketika lagi-lagi tanpa sengaja memandangi dasar hutan, saya mendapati sisa-sisa kantong yang kering terbakar. Rupanya beberapa kelompok keluarga N ampullaria yang terbakar oleh ulah perambah hutan. Agak miris saya melihatnya. Tapi untungnya, dari beberapa akar ini terlihat tumbuh tunas baru, jadi masih bisa melangsungkan kehidupannya sepupu N gracilis ini.

Dengan melihat populasi N ampullaria yang terbakar, saya yakin di sekitar sini, di hutan yang masih utuh pasti masih banyak populasinya. Benar saja, beberapa ratus meter dari situ di hutan yang masih lebat saya menjumpai N ampullaria dengan batangnya memanjat pohon lebih dari 15 m. Sebagian kantongnya yang tumbuh di ruas-ruas batangnya kering, sebagian lagi masih hijau segar. Yang menakjubkan, ketika anak buah Yosef, yaitu Man dan Yan membersihkan serasah daun di dasar hutan, tampak ribuah kantong N ampullaria yang memenuhi dasar hutan.

Hari ini kami benar-benar panen, menemukan ribuan N gracilis dan N ampullaria. Di dekat hamparan N ampullaria ini, ketika kami kemudian menemukan sungai yang penuh ikan dan udang.

Kami pun memutuskan membuka kamp untuk menginap. Selanjutnya sebagian kru menangkap ikan dan udang untuk makan siang dan makan malam nanti. Sementara saya bersama Yosef melanjutkan perburuan sampai sore.

Pagi di keesokan hari, setelah sarapan dan membakar ubi kami melanjutkan perjalanan. Di dekat kamp yang kami buat, masih sempat kami mendapatkan foto ikan penjaga lumpur (Periophthalmus sp.) yang banyak berkeliaran di sungai di depan kamp. Burung rangkong dan burung pelatuk pun banyak berseliweran, memulai aktivitas pagi ini.

Ketika mulai menjelajah tiga bukit pertama dari camp, kami masih saja menemui banyak N ampullaria yang bagaikan permadani menutup dasar hutan dengan ribuan kantongnya. Di bagian hutan lain yang sedikit terbuka kanopinya dan sinar matahari bisa masuk, kami menjumpai N ampullaria tumbuh bersama dengan sepupunya yang lain, yaitu N rafflesiana.

Hanya saja di sini, N rafflesiana yang akur dengan N ampullaria kebanyakan jenis kantong bawah, dengan bagian bawah kantong membesar, mempunyai sayap di kedua sisinya dengan duri pemanjat. Warna N rafflesiana jenis kantong bawah ini hijau kekuningan dengan bercak merah dan sedikit ungu, cerah. Warna cerah ini ditujukan untuk menarik serangga mendekat.

Letak kantongnya di dasar hutan jadi satu dengan N ampullaria dan serasah daun-daunan hutan. Sedangkan sepupunya, N ampullaria berwarna hijau cerah atau hijau kekuningan.

Dari rumah kedua sepupu ini, jalanan hutan kemudian menjadi sulit. Saya yang berjalan di depan terpaksa harus mengeluarkan pisau rimba untuk menebas semak dan belukar, terutama menebas onak (duri rotan) supaya bisa berjalan. Beberapa batang pohon yang tumbang dengan semak lebat juga menjadi penghalang perjalanan kami. Beberapa kali kami harus menginjak-injak ampullaria dan rafflesiana karena saking banyaknya populasi mereka menutup dasar hutan.

Ketika kemudian kami rehat dan menjerang air untuk kopi, kami menemukan Nepenthes jenis lain. Bentuk kantongnya mirip perpaduan antara N ampullaria dan N rafflesiana. Apa jangan-jangan mereka telah melakukan perkawinan silang?

Setelah sebentar saya foto dengan kamera di telpon seluler dan saya unggah di jejaring sosial, baru teman-teman penggemar Nepenthes memberi tahu namanya. Ternyata N hookeriana. Jadi perjalanan saya ke hutan kali ini ibarat "tali kasih" berhasil menemukan 4 sepupu keluarga Nepenthes.

Di sekitar lokasi tempat saya menemukan N hookeriana ini juga tumbuh beberapa N ampullaria dan N rafflesiana. Selanjutnya kami mendaki satu bukit lagi yang penuh dengan N hookeriana. Ketika jalanan menurun dan sedikit kembali terbuka, kami kemudian dihadapkan pada lebatnya hamparan pakis resam yang penuh dengan N gracilis.

Selanjutnya daratan hutan ini habis membentuk sebuah pulau kecil yang dibatasi oleh rawa bakau. Di ujung pulau ini kami dapati 4 spesies Nepenthes (N gracilis, N ampularia, N rafflesiana, dan N hookeriana) dalam satu hamparan. Karena di tempat terbuka, rata-rata jenis kantongnya adalah kantong tengah dan kantong atas, jadi bentuknya sudah berbeda dengan yang ada di hutan yang kebanyakan didominasi oleh jenis kantong bawah.

Sekali waktu kami bertemu penduduk yang membawa kayu bakar. Ketika berpapasan saya melihat kayu bakar tadi diikat dengan sebuah tali, yang setelah saya cermati ternyata tali pengikatnya berupa batang N ampularia. Batang N ampullaria yang bisa mencapai panjang 15 m tadi banyak digunakan sebagai tali rupanya. Saya dapati di beberapa ruas tali masih tersisa kantong-kantong kecil berwarna hijau dengan bercak-bercak ungu.

Setelah menyeberangi hutan-rawa bakau ini kemudian kami melanjutkan perjalanan sejauh kurang lebih 2 km melewati ladang penduduk yang terbuka. Kemudian perjalanan kami berakhir di jalan raya yang menghubungkan Pulau Galang Baru menuju Pulau Batam.

Yang seru, di pinggir jalan raya ini ada sedikit hutan yang tersisa. Kira-kira 2.000 m luasnya, dan di antara pepohonan dan semak hutan kami mendapati banyak sekali N gracilis dan ketiga sepupunya di situ. Setelah beberapa hari menjelajah hutan, akhirnya hanya di pinggir jalan raya pun keempat jenis Nepenthes ini dengan mudah bisa ditemukan.

"Disini banyak kantong ternyata Bapak, kita orang sudah capek-capek masuk hutan. Foto-foto lah semua tanaman. Itu sudah!"

Kami berempat pun menertawakan diri sendiri, dan setelah puas mengabadikan 4 sekawan Nepenthes ini, kami menuju pantai di ujung Pulau Galang Baru. Waktunya refreshing.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA