Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 17 Mei 2013 11:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Dingin-dingin Asyik di Lembah Brayeun, Aceh

Eka Saputra
detikTravel Community
Foto 1 dari 3
detikTravel Community - Bagi yang bosan dengan wisata pantai di Aceh, Lembah Brayeun bisa menjadi alternatif wisata. Kawasan hijau dan berudara sejuk sangat pas bagi Anda yang mencari ketenangan juga kesegaran saat liburan.

Setelah kurang lebih satu jam menempuh perjalanan dari Kota Banda Aceh, akhirnya kami sampai juga di Kecamatan Leupung, Aceh Besar. Perjalanan dari Banda Aceh terasa tidak membosankan, sepanjang perjalanan menuju Leupung, mata kami dihinggapi pemandangan menarik sepanjang Jalan Banda Aceh-Meulaboh.

Selepas Jembatan Lhoknga, pemandangan terasa tak ada bandingnya. Hamparan laut di sebelah kanan, dan barisan bukit di sebelah kiri. Jalan menuju Leupung kini bisa dilalui dengan sangat nyaman. Jalanannya sudah teraspal dengan baik.

Sesekali kami berhenti untuk mengambil foto. Akhirnya, tanpa terasa kami sudah berada di persimpangan jalan menuju Lembah Brayeun. Brayeun merupakan sebuah desa di Kecamatan Leupung. Seperti lazimnya sebuah desa yang diapit gunung dan laut, begitu pula dengan desa ini. Wilayahnya mencakup pegunungan hingga pantai.

Tak jauh dari persimpangan jalan Banda Aceh-Meulaboh, kira-kira 2 km, desa tersebut memiliki lembah dengan genangan air yang berasal dari pegunungan. Genangan ini kemudian dibuatkan bendungan oleh pemerintah. Bendungan ini ditujukan untuk kebutuhan irigasi untuk mengairi ladang-ladang milik masyarakat Desa Brayeun dan sekitarnya. Kini Waduk Brayeun menjadi salah satu objek wisata alam di Aceh.

Jarak tempuh 2 kilometer dari persimpangan jalan besar menuju lokasi bendungan tidak membuat kami bosan. Walaupun jalan sempit, tapi sudah dilapisi aspal.

Sepanjang jalan, kita juga bisa melihat aliran irigasi yang berasal dari waduk. Airnya bersih dan jernih. Para petani juga sedang sibuk mengurus ladangnya. Saat itu sedang masa awal musim tanam padi di desa ini.

Hamparan hijau pegunungan dan petakan sawah yang siap ditanami padi, membuat kami terpana. Tak terasa, ternyata sudah ada pos tiket masuk ke Waduk Brayeun. Biaya tiket Rp 3.000 untuk orang dewasa, sedangkan anak-anak gratis.

Mulanya kami berpikir, setelah lepas dari pos tiket tersebut, maka kami sudah berada di waduk. Ternyata tidak, jarak pos tiket hingga ke waduk kira-kira 300 meter, dan melewati kelokan bukit dan jalan aspal yang sempit.

Akhirnya sampai juga ke waduk. Untuk ukuran lokasi wisata yang dikelola oleh masyarakat setempat, lokasi Waduk Brayeun ini bisa dikatakan lumayan bersih. Lokasi parkir sudah tertata rapi, walaupun ada beberapa sepeda motor milik pedagang tidak parkir pada tempatnya. Waduknya pun bisa dikatakan bersih, walaupun ada beberapa sampah kecil berupa daun pohon di dalam air, itu pun tidak terlalu banyak.

Setelah beristirahat dan melihat-lihat keadaan sejenak, kami memutuskan untuk terjun ke waduk. Airnya dingin, hingga menusuk ke tulang. Tapi itu hanya sensasi sejenak ketika anda pertama kali masuk ke dalam waduk, setelah tubuh anda terbiasa di dalam air, dinginnya tidak begitu terasa lagi.

Berlama-lama di dalam air merupakan suatu keharusan jika Anda ingin menikmati pemandangan eksotis khas alam Aceh. Waduk yang langsung dikelilingi oleh bukit yang rimbun terasa sangat nyaman. Seakan masalah, stres pekerjaan dan hiruk pikuk kota hilang dalam sekejap. Damai sekali.

Jika ingin bersantai dengan perahu karet, pengelola waduk menyewakan boat dengan tarif Rp 20.000 per jam. Bukan hanya itu, Anda juga bisa menyewa pelampung seharga Rp 5.000 tanpa durasi, artinya pelampung tersebut bisa digunakan hingga bosan. Tapi tentu tidak bisa dibawa pulang.

Berlama-lama di air pasti membuat Anda lapar dan haus. Untuk itu, di sana sudah ada pedagang-pedagang makanan yang sudah menyediakan sajiannya. Uniknya, di setiap warung menyediakan satu makanan khas, yaitu gorengan. Ya, makanan khas bagi orang-orang yang kedinginan air waduk. Anda bisa memilih gorengan berupa pisang goreng dan tempe goreng yang hangat seharga Rp 1.000 per potong.

Walaupun waduk ini merupakan objek wisata yang bebas dikunjungi setiap orang, namun pengelola lokasi punya aturan ketat tentang jadwal penutupan lokasi. Pukul 17.00 WIB, lokasi harus sudah kosong.

Setiap hari Minggu, lokasi ini banyak dikunjungi wisatawan, baik dari Banda Aceh, maupun Aceh Besar. Lokasi ini menjadi salah satu alternatif wisata air tawar di Aceh.

Saran kami, jika Anda ingin menikmati lokasi ini tanpa terganggu dengan jumlah pengunjung yang banyak, datanglah di hari selain hari minggu. Misalnya pada hari libur nasional selain hari Minggu, datanglah di pagi hari.

Karena walaupun bukan hari Minggu, hari libur nasional pun lokasi ini ramai dikunjungi walaupun tidak seramai hari Minggu. Atau, jika anda sedang mengambil cuti kantor, datanglah ke sana. Anda akan merasa waduk itu milik sendiri.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali. Bukannya bosan dengan waduk yang airnya hijau jernih tersebut, namun kami merasa lokasi ini sudah seperti pasar, disesaki para pengunjung. Kami rasa cukup sudah kesunyian di pagi hari yang kami dapatkan di sini sebelum akhirnya siang hari mulai ramai pengunjung.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED
Laporan dari Australia

Keliling Sydney Tapi Naik Cruise, Bisa!

Sabtu, 22 Apr 2017 14:50 WIB

Liburan keliling Sydney naik transportasi darat sudah biasa, tapi kalau lewat jalur air? Bukan tidak mungkin, ada jasa wisata keliling Sydney naik cruise!