Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 30 Jun 2017 10:39 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Lebaran Nggak Mudik, Saatnya Piknik ke Museum Bank Mandiri

Widi Arini
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Interior di dalam Museum Bank Mandiri
Interior di dalam Museum Bank Mandiri
detikTravel Community - Kamu yang lebaran tahun ini nggak mudik, lebih baik manfaatkan waktu libur buat piknik. Museum Bank Mandiri di Kawasan Kota Tua bisa jadi pilihan yang menarik.

Terletak di jalan Stasiun, keberadaan museum Bank Mandiri ini mudah sekali ditemukan. Aksesnya tidak jauh dari stasiun Kereta Api Jakarta Kota dan Halte Busway Kota, hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Berdampingan dengan museum Bank Indonesia dan Kawasan Wisata Kota Tua menjadi museum ini rami dikunjungi para pelancong yang memang sengaja menghabiskan akhir pekan disana.

Untuk masuk ke sini pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar 5.000 rupiah saja dan harus menitipkan tas ke penitipan barang. Pertama kali masuk kita akan disuguhi replika suasana perbankan zaman dahulu. Meja dan kayu kursi yang dipakai pegawai bank tempo dulu dan interiornya hampir 90% terbuat dari kayu yang berasalh dari Rembang Jawa tengah.

Sebelum diresmikan menjadi Museum Bank Mandiri pada tahun 1998, bangunan bergaya ArtDeco ini telah melalui perjalanan panjang dalam sejarah perbankan. Gedung ini dibangun pada tahun 1929 dan untuk pertama kalinya pada tahun 1933 dijadikan bank Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM).

Kemudian pada tahun 1968 berdirilah Bank Exim (Bank Export-Import) yang merger dengan 3 bank lainnya yakni Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), Bank Dagang Negara (BDN) dan Bank Bumi Daya (BBD) di tahun 1999 menjadi bank Mandiri hingga saat ini.

Di sini kita diajak untuk mengenal sejarah proses perbankan dan sejarah proses pembentukan bank Mandiri dari awal hingga saat ini. Di museum Bank Mandiri ini kita akan melihat bagaimana perkembangan proses perbankan manusia dari masa ke masa. Dimulai dari pengenalan manusia dengan celengan, di Indonesia konsep celengan ini dimulai dari zaman kerajaan dulu.

Hal tersebut dipertegas dengan ditemukannya artefak berupa pecahan gerabah yang diduga kuat tempat penyimpanan uang (celengan). Celengan pun berasal dari kata celeng yang berarti babi karena pada zaman kerjaan dahulu bentuk penyimpanan uang mereka menyerupai hewan Babi.

Dijelaskan pula masa dimana manusia mulai mengenal sistem perbankan ditandai dengan banyak berdirinya lembaga keuangan yang disebut Bank bahkan ditanah air pada saat itu, hanya saja kegiatan perbankan di tanah air didominasi oleh warga Belanda dan Cina.

Selain menceritakan sejarah perbankan, disini pengunjung juga akan diperkenalkan dengan peralatan yang biasa digunakan dalam kegiatannya seperti Telepon, mesin tik, mesin penghitung uang, stempel, alat tulis, blanko, buku tabungan, ATM dan masih banyak lainnya.

Yang menarik adalah koleksi Buku besar akuntansi yang ada di Museum Bank Mandiri. Buku besar akuntansi adalah istilah yang lazim digunanakan oleh akuntan sebagai pencatatan laporan keuangan, menjadi unik karena ukurannya yang benar-benar besar.

Di lantai atas museum Bank Mandiri ini terdapat ruang rapat para direksi Bank Mandiri. Ketika menaiki tangga ke lantai atas, maka perhatian pengunjung akan teralih ke arah hiasan kaca Patri yang berhadapan langsung dengan ruangan rapat direksi. Paduan warnanya sangat indah dan menjadi spot foto favorit pengunjung.

Kaca patri tersebut diletakan searah dengan ruangan rapat direksi dimaksudkan untuk mengenang para NHM di Batavia dulu. Dahulu kaca patri ini digunakan sebagai pengobat rasa rindu para pejabat tinggi di NHM akan kampung halamannya di Belanda karena kaca patri ini sangat bercirikan negeri kincir angina tersebut.

Kaca patri ini menceritakan tentang empat musim diBelanda yakni musim semi, gugur, panas dan dingin. Selain empat musim tadi, di kaca patri ini terlukis juga Cornelis de Houtman seorang pelayar yang menjadi orang Belanda pertama menginjakan kaki ke Indonesia.

Meskipun berukuran cukup besar dan usia bangunan yang sudah sangant tua, tidak terlihat cacat di gedung museum bank mandiri ini. bangunan ini masih mempertahankan kondisi asli seperti tegel di lantai, jendela dan pintunya. Museum ini dirawat dengan sangat baik dan apik oleh pengelolanya, sehingga membuat betah para pengunjung yang mengunjunginya.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED