Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 27 Mei 2017 14:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Air Terjun yang Segar di Lumajang

Pradikta Kusuma
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Keindahan Kapas Biru yang luar biasa
Keindahan Kapas Biru yang luar biasa
detikTravel Community - Tak Lengkap rasanya bila berkunjung ke Lumajang tanpa menikmati pesona alamnya. Salah satunya Air Terjun Kapas Biru.

"Satu, dua, tiga, empat, ehh di sana masih ada lagi ding, jadi lima," gumam saya.

Jari-jari tangan menunjuk-nunjuk dan bola mata mencari apakah masih ada yang terlewat dari pandangan apa tidak. Begitulah keseruan saat aku, Fita, Yasmin dan Gallus tiba di sebuah tebing yang langsung berhadapan dengan ngarai besar, super panjang dan menyimpan banyak air terjun di sisi tebing tebingnya.

Lokasi yang kami kunjungi pada kali ini adalah  Air Terjun Kapas Biru yang terletak di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Jika ditempuh dari Kota Malang, sekitar 3 jam perjalanan menggunakan mobil atau motor.

Sekilas pandang mirip dengan Grand Canyon namun dengan versi yang lebih hijau nan subur. Dan dapat aku pastikan jika air terjun yang aku tunjuk kebanyakan pasti masih sangat alami dan perawan, sekilas jalur untuk menuju ke sana terkesan sulit karena terletak di antara tebing nan tinggi menjulang dan di sisinya mengalir sungai deras membawa air yang terbaawa dari Gunung Semeru.

Namun dari sini kami masih menebak-nebak mana gerangan air terjun yang bernama Kapas Biru. Apakah yang terletak paling jauh di ujung sana? Apa yang di sebelah sini? Ah, daripada terus menebak-nebak lebih baik kami segera melangkah karena jalur pun sudah siap menyambut kami.

Jalur yang kami lewati langsung menurun meliuk-liuk dengan deretan anak tangga yang sudah disediakan oleh pengelola. Kaki dan tangan berayun seirama dengan bola mata yang tak henti-hentinya memandang keelokan ngarai yang ada disebelah kanan.

Sampai langkah kaki terhenti pada sebuah tangga vertikal dengan kemiringan hampir 90 derajat. Dengan memantapkan niat kami berempat satu persatu menuruni anak tangga dengan perlahan dan pasti. Jalur tracking yang terus menurun menyiratkan betapa berat perjalanan pulang nanti.

Ketika sudah sampai ujung jalur menurun, kami pun sudah sejajar dengan bibir sungai bernama Glidik yang aku lihat dari atas sebelumnya. Memang begitu deras aliran airnya, membawa berkubik kubik air bercampur pasir yang menjadi berkah paling dinanti bagi para penambang pasir yang beroperasi di sisi selatan lereng Gunung Semeru.

Jalur mulai melandai dengan sesekali melintas beberapa air terjun kecil yang jatuh langsung dari tebing vertikal di sisi kiri kami berjalan. Sejenak aku hentikan langkah menikmati kesegaran airnya di bawah sinar matahari yang menyengat sembari memperhatikan tebing tebing yang menjulang.

Di sini pun aku dibuat bertanya tanya, bagaimana tempat ini bisa tercipta? Apa karena aktivitas vulkanis Semeru yang mengukir ngarai sehingga terbentuk air terjun seperti ini?

"Yang mana air terjunnya mas?" tanya Gallus

"Pasti yang itu lhooo, yang paling jauh diseberang sana?" Ujar Yasmin menambahkan.

"Udahlah, jalani saja! Nanti juga tau sendiri yang mana air terjunnya," ujarku sambil terkekeh melihat kelakuan dua saudaraku yang nampak sudah kelelahan.

Setelah hampir 40 menit berjalan, kami memasuki sebuah dataran luas dengan kiri kanan terdapat beberapa petak sawah yang nampaknya tak terurus. Jalur meliuk ke kiri menjauh dari air terjun yang ditunjuk oleh Gallus dan Yasmin sebelumnya. Jembatan bambu tua seakan menjadi gerbang selamat datang seiring dengan bunyi gemuruh yang semakin terdengar kencang.

Sang Kapas Biru pun kini menampakkan wujudnya. Suasana teduh dan udara sejuk seakan menyambut kami dengan ucapan selamat datang. Sinar matahari masuk diantara beragam tumbuhan yang menjadi kanopi alami. Air yang nampak dengan jatuh dengan bebasnya menciptakan bulir bulir air selembut kapas yang terbang tertiup angin lembut.

Tak terasa kaki semakin ringan untuk melangkah bahkan berlari melupakan semua rasa pegal. Keringat yang keluar perlahan menguap ketika udara segar membelai tubuh kami. Sejenak aku rebahkan tubuh di sebuah batang bamboo yang direntangkan menjadi sebuah kursi. Aku hirup dalam dalam kedamaian yang ditawarkan oleh Kapas Biru. Sempurna! Itulah yang aku rasakan.

Kini aku bangkit dan segera mengajak yang lain untuk lebih mendekat ke area air terjun untuk mencari beberapa foto. Tripod aku pasang dengan kamera yang sudah menancap di ujungnya.

Bergantian aku mengarahkan Fita, Yasmin dan Gallus untuk aku ambil gambar dengan background sang Kapas Biru. Tak ketinggalan pula aku pun turut serta untuk ambil bagian di dalam bingkai foto, karena memang sayang jika berada di tempat seindah ini kita tak mengabadikannya.

Dalam layar kamera aku coba mengamati beberap hasil foto yang didapat. Aku coba cermati di beberapa bagian foto terdapat warna biru dalam aliran airnya dan dalam sekejap pun aku bisa ambil kesimpulan jika nama Kapas Biru berasal dari percikan air yang deras hingga menimbulkan buih-buih air dengan warna kebiruan.

Kapas Biru mempunyai keunikan dari tempat jatuhnya air di antara tebingnya. Berbentuk kerucut kecil yang sekilas air bak keluar di tengah bagian tebing. Mengalirkan air yang begitu derasnya dan membuat serpihan air selembut kapas.

Seiring berjalannya waktu nama Kapas Biru semakin tenar di antara telinga para penggiat alam bebas, apalagi dengan semakin banyaknya foto Kapas Biru di setiap lini masa menjadikan Kapas Biru bak surga tersembunyi yang baru ditemukan.

Gelombang pengunjung pun semakin berdatangan. Tentu sesuai dengan harapan warga sekitar, dengan ramainya pengunjung semakin besar pula rezeki yang datang untuk warga yang tinggal di sekitar Kapas Biru.

Namun sejalan dengan gelombang wisatawan yang semakin besar dalam lubuk hati yang paling dalam aku berharap agar kita semua mempunyai kesadaran untuk selalu menjaga keasrian dan kebersihan Kapas Biru yang sangat indah ini.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED