Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 25 Jul 2017 11:29 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Seharian di Kaohsiung, Asyik Juga

Pradikta Kusuma
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Gemerlap Kota Kaohsiung pada malam hari
Gemerlap Kota Kaohsiung pada malam hari
detikTravel Community - Liburan ke Taiwan, kamu harus sempatkan waktu berkunjung ke Kaohsiung. Di Kota Pelabuhan ini, kamu bisa melihat banyak spot yang menarik.

Di saat semua orang luar yang akan masuk Taiwan dan dengan transportasi apapun harus mempunyai visa terlebih dahulu (Tidak ada visa on arrival). Untuk pemegang visa Schengen, US, Jepang, Atau Inggris sedikit diberi sedikit keistimewaan dengan bisa apply visa via online.

Kami para penumpang Kapal Pesiar tak perlu repot dengan dokumen dokumen visa tersebut, tinggal lenggang kangkung cukup dengan paspor saja kami sudah bisa menginjak daratan Taiwan. Pemerintah Taiwan memberi keistimewaan untuk para penumpang Kapal Pesiar yang bersandar di negerinya.

Mungkin pikir mereka para penumpang Kapal Pesiar adalah orang istimewa berkantong tebal yang akan membawa dampak besar bagi para pelaku wisata yang didatangi kapal pesiar.

Kami akhirnya tiba di tepian Love River. Sungai yang sangat terkenal di Kota Kaohsiung yang saat ini berpredikat Must Visit. Belum ke Kaohsiung jika belum ke Love River ini.

Love River hanyalah sungai biasa, yang kalau dilihat sekilas tidak terlalu istimewa. Namun dengan sistem tata kota dan dekorasi yang menarik, termasuk lampu-lampu cantik yang menghiasi malam hari, jangan heran bila menemukan banyak orang berjalan menyusuri kedua sungai ini.

Love River, yang mengalir menuju Kaohsiung Harbor, memiliki pedestrian walk yang nyaman dan luas yang membuat siapa saja yang berkunjung betah untuk berlama lama di tepian sungai. Perahu wisata juga terdapat di beberapa dermaga yang ada. Dengan membayar 60 HKT kita bisa menyusuri aliran dari Love River ini.

Namun karena memang kita ini turis dengan kantong tipis harga segitu nampaknya cukup sayang untuk dikeluarkan. Cukuplah berjalan jalan di tepian sungai saja, hal sederhanan namun menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Nampaknya Love River ini akan menampakkan keindahan yang sesungguhnya pada malam hari, hiasan lampu pasti akan mempercantik setiap sudut dari love river.

Walaupun kami datang pada siang hari Love River masih menawan hati kami, dan membukakan mata jika aliran sungai yang dahulunya tercemar seperti Love River ini bisa ditata sedemikian rupa dan menjadikan ikon kota Kaohsiung. Kalau Taiwan bisa kenapa Indonesia tidak.

Berjalan menyusuri sungai yang panjang seperti ini mungkin tak ada habisnya, hingga kami tiba di perempatan jalan yang diseberangnya muncul bangunan tua gereja diantara gedung gedung yang lebih modern. Holy Rosary Cathedral begitulah tulisan di papan nama yang terpasang tepat di pintu masuk.

Di sampingnya juga terdapat sebuah papan yang berisi informasi tentang gereja tua satu ini. Ternyata gereja yang ada di hadapan ini adalah gereja tertua yang ada di Taiwan yang berdiri sejak tahun 1860. Namun sayang pada saat itu kami tak bisa masuk ke dalam gereja karena pintu yang terkunci rapat.

Sekilas memang tak sebesar gereja gereja yang aku lihat sebelumnya di Manila, namun gereja kecil ini menyimpan banyak sekali sejarah tentang penyebaran agama katholik di daratan Taiwan. Dengan menaiki taksi kami tiba di museum yang bernama Takao Railway Museum.

Berhubung museum ini gratis tanpa tiket masuk kami semua pun langsung ngacir masuk ke dalam. Sekilas museum ini adalah sebuah stasiun tua yang dirombak dan dijadikan museum, nampak bangunan stasiun masih dipertahankan.

Di dalam terdapat 2 buah rel memanjang dan diatasnya terdiam beberapa lokomotif tua dilengkapi dengan papan informasi asal dan tahun pembuatan. Hanya ada beberapa biji lokomotif dan gerbong saja yang dapat kami lihat dan itu pun dalam keadaan kurang terawat. Dari dalam museum dengan sedikit memicingkan mata aku lihat ada sebuah lapangan luas dengan banyak orang berkerumun di seberang sana.

Spontan aku pun mengajak kawan kawan yang lain untuk melihat kesana dan kebetulan tempat itu hanya bersebelahan dengan museum kereta ini. Dan ternyata lapangan dan kerumunan orang yang aku lihat tadi adalah sebuah taman dengan bernuansa kereta juga, namanya Hamasen Railway Cultural Park.

Usut punya usut tempat ini adalah bekas stasiun central yang sangat bersejarah bagi dunia perkereta apian di Taiwan. Sebelum digusur oleh keberadaan MRT pada masa jayanya dahulu kereta di Taiwan adalah transportasi yang sangat diandalkan untuk perpindahan orang maupun barang. Tak ingin sejarah itu hilang ditelan waktu pemerintah kota Kaohsiung secara perlahan membangun kawasan ini menjadi pusat sejarah tentang kereta api di Taiwan.

Ada yang menarik perhatian di kawasan ini, mataku tertuju pada sebuah kereta berukuran mini yang hilir mudik ditumpangi para wisatawan local. Mereka duduk di atas kereta mini itu, setiap kereta akan lewat pintu perlintasan kereta yang berukuran mini pun menutup secara otomatis dan berbunyi.

Sungguh unik dan mungkin hanya ada disini. Dalam hati pun ingin rasanya aku mencoba naik, namun apa daya karena umur yang tak lagi pantas untuk mencoba permainan ini.

Tak terasa hari semakin sore saat kami melangkah keluar dari Taman Hamasen, jarak dari pelabuhan memang tak begitu jauh hanya perlu berjalan beberapa menit. Seperti tak rela untuk terburu buru meninggalkan Kaohsiung, karena masih banyak tempat yang belum sempat aku kunjungi.

Namun apa daya karena perjalanan masih akan terus berlanjut. Mungkin dilain waktu dan kesempatan aku akan mengunjungi Kaohsiung kembali. Aku berdiri termenung diatas dek kapal melihat matahari terbenam, lampu lampu pun segera menggantikan peran dari sang matahari.

Gemerlap Kota Kaohsiung pun memberi salam perpisahan seiring kapal yang bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan. Semakin jauh dan jauh hingga gemerlap yang ada perlahan menghilang digantikan pekat malam di atas gelombang samudra.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED

Foto: Shinkansen Made In China

Sabtu, 23 Sep 2017 23:15 WIB

China punya kereta 'Shinkansen' baru bernama Fuxing. Kereta cepat ini mampu melaju dengan kecepatan 400 Km/jam. Traveler mesti coba kalau liburan ke China.