Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 05 Mar 2018 15:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pulau Samosir, Pulau yang Penuh Cerita

Rudi Chandra
d'travelers
Foto 1 dari 5
Komplek Kuburan Tua Raja Sidabutar
Komplek Kuburan Tua Raja Sidabutar
detikTravel Community -

Pulau Samosir yang berada di tengah-tengah Danau Toba memang menjadi favorit. Selain indah, pulau ini juga memiliki banyak destinasi menarik untuk dikunjungi.

Pulau Samosir adalah salah satu tujuan wisata populer di Sumatera Utara. Pulau vulkanik yang berada di tengah-tengah Danau Toba ini diketahui memiliki banyak sekali objek wisata menarik sehingga selalu ramai dikunjungi wisatawan. Oleh karena itu, saya pun ingin segera ke sana.

Beberapa waktu yang lalu akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di pulau ini. Perjalanannya sendiri saya awali dengan mengarungi Danau Toba menggunakan boat dari Pelabuhan Ajibata yang berada di Parapat, Kabupaten Simalungun menuju Pelabuhan Pelabuhan Sumber Sari di Desa Tomok, Samosir.

Sensasi menyeberangi Danau Toba menggunakan boat sangatlah seru karena rasanya seperti mengarungi sebuah lautan kecil saja. Saat itu di sisi kanan dan kiri hanya terlihat perbukitan hijau dan hamparan air danau yang kehijauan. Sedangkan di depan sana tidak terlihat ujung danau ini, hanya air sejauh mata memandang hingga ke batas horizon. Sungguh luas sekali. Apalagi saat berada di tengah danau boat akan terasa bergoyang karena ombak, rasanya mirip seperti di tengah lautan.

Sesampainya di Desa Tomok, saya pun mengunjungi komplek Kuburan Tua Raja Sidabutar. Kuburan-kuburan ini merupakan peninggalan dari masa megalithikum yang ada di Desa Tomok dan telah berusia hingga 450 tahun. Makam-makam ini terbuat dari batu besar yang diukir dengan ukiran yang khas dan penuh makna. Uniknya, makam-makam batu Raja Sidabutar ini tidak dikuburkan di dalam tanah, melainkan diletakkan di atas permukaan tanah.

Setelah itu saya pun mengunjungi Museum Batak Tomok yang tidak seberapa jauh dari Komplek Pemakaman Tua Raja Sidabutar. Museum yang dibangun pada tahun 2005 ini memiliki bentuk bangunan berupa Rumah Bolon alias Rumah Adat Batak Toba. Di dalamnya tersimpan benda-benda koleksi yang cukup beragam dan memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi bagi masyarakat Batak.

Setelah puas menikmati isi museum, saya kemudian beranjak pergi melihat Boneka Sigale-Gale. Boneka Sigale-Gale sendiri adalah sebuah boneka kayu yang diukir mirip seperti manusia seukuran orang dewasa. Boneka ini juga dipakaikan pakaian khas Batak lengkap dengan ulosnya. Biasanya wisawatan akan menortor bersama boneka ini.

Puas rasanya mengunjungi berbagai objek wisata di Desa Tomok, saya kemudian beranjak menuju Pantai Pasir Putih Parbaba yang ada di sisi barat Pulau Samosir, tepatnya berada di di Desa Hutabolon, Kecamatan Pangururan. Objek wisata ini berupa sebuah dataran berpasir putih yang berhadapan langsung dengan Danau Toba. Pemandangan yang tersaji di pantai ini pun cukup indah, apalagi di kala menjelang senja, cahaya matahari yang terpantul di atas permukaan Danau Toba terlihat sangat indah.

Berhubung hari sudah menjelang malam, saya pun kemudian bergegas menuju Desa Tuk-tuk Siadong. Desa ini dikenal sebagai pusat penginapan di Pulau Samosir dan di sinilah saya menginap malam ini.

Saat pagi menjelang, saya pun kembali memulai petualangan di Pulau Samosir dan objek wisata pertama yang saya kunjungi adalah Bukit Beta. Bukit ini masih berada di Desa Tuk-tuk Siadong. Bukit yang menjadi lokasi paralayang ini merupakan salah satu spot sunrise di Pulau Samosir karena bukitnya yang menghadap langsung ke sisi timur. Sayangnya saat itu cuaca sedang mendung sehingga saya gagal mendapatkan sunrise yang sempurna. Meski demikian, pemandangan dari Bukit ini tetap indah karena di depan sana terhampar Danau Toba yang luas.

Gagal mendapatkan sunrise yang indah, saya kemudian menuju objek wisata Batu Kursi Raja Siallagan. Objek wisata ini berada di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dan tidak begitu jauh dari Desa Tomok. Objek wisata yang ada di Huta Siallagan ini merupakan sebuah perkampungan yang dikelilingi tembok batu. Di dalam huta ini terdapat beberapa rumah berarsitektur khas Batak Toba. Konon rumah ini telah berusia ratusan tahun dan masih terawat hingga saat ini.

Yang paling menarik dari huta ini tentu saja adalah Batu Kursi Siallagan. Batu kursi ini berupa kursi-kursi dari batu yang dipahat mengelilingi sebuah meja yang juga terbuat dari batu. Batu kursi ini juga disebut sebagai batu persidangan. Dahulu kala tempat ini digunakan untuk mengadili para pelaku kejahatan atau pelanggar hukum adat. Di sini raja dan petinggi adat akan rapat menentukan hukuman bagi penjahat atau pelanggar hukum.

Jika kejahatannya kecil, maka akan diberikan sangsi berupa hukuman pasung. Namun jika kejahatannya tergolong kejahatan berat maka pelaku akan dijatuhi hukuman pancung alias potong kepala.

Puas menikmati kengerian sejarah di Batu Kursi Siallagan saya kemudian beranjak ke Museum Huta Bolon Simanindo yang merupakan rumah adat warisan dari Raja Sidauruk dan sejak tahun 1969 telah dijadikan sebagai museum terbuka. Di dalam bangunan museumnya tersimpan berbagai koleksi dari peninggalan leluhur orang Batak. Seperti parhalaan, pustaha laklak, tunggal panaluan, solu bolon, berbagai alat-alat yang menunjang kehidupan masyarakat di masa lalu hingga berbagai benda yang menjadi pelengkap kegiatan adat.

Beranjak dari Museum Huta Bolon Simanindo saya kemudian mengunjungi Danau Sidihoni sebuah danau yang dikenal juga dengan nama danau di atas danau karena secara geografis, danau ini berada di dalam Pulau Samosir yang berada di dalam Danau Toba. Sehingga disebutlah Danau Sidihoni sebagai danau yang berada di atas danau.

Panorama danau ini juga tak kalah indah. Danaunya yang berair jernih dikeliling pebukitan dan lapangan berumput hijau. Keberadaan kerbau-kerbau yang sedang asyik merumput di sekitar juga menambah pesona alami dari Danau Sidihoni ini hingga menghadirkan kesan sejuk dan menenangkan bagi yang menikmati keindahannya

Setelah itu saya pun kemudian beranjak menuju Jembatan Tano Ponggol, jembatan ini merupakan satu-satunya penghubung daratan Pulau Sumatera dengan Pulau Samosir. Berdasarkan sejarahnya, ternyata pada zaman dahulu Pulau Samosir tidak sepenuhnya terpisah dengan Pulau Sumatera. terdapat sekitar 1,5 kilometer daratan yang menguhubungkan kedua pulau. Sekitar tahun 1905, Belanda kemudian membuat terusan atau kanal sungai di tempat ini agar perahu mereka bisa lewat tanpa harus memutari Danau Toba dan hingga saat ini kanal tersebut masih ada.

Objek wisata terakhir yang saya kunjungi adalah Menara Pandang Tele yang merupakan salah satu spot terbaik untuk melihat keindahan alam Danau Toba. Menara ini terletak di Jalan Tele, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.

Dari menara ini tersaji pemandangan Danau Toba dengan perairannya yang biru dan tenang. Di sekeliling Danau Toba terlihat pula gugusan perbukitan hijau yang menambah pesona keindahan alam Danau Toba. Di sela-sela perbukitan tersebut ada beberapa air terjun yang memberi kesan segar dan alami.

Di sisi kiri terdapat pula Gunung Pusuk Buhit, sebuah gunung yang disakralkan oleh masyarakat Batak karena dianggap sebagai lokasi awal nenek moyang mereka. Gunungnya yang berdiri gagah terlihat perkasa dari menara ini.

Dengan mengunjungi menara ini maka berakhir pulalah petualangan saya di Pulau Samosir. Sesungguhnya masih banyak lagi objek wisata yang terlewat, sayangnya waktu yang saya miliki terbatas. Mungkin suatu hari nanti saya akan kembali ke pulau ini untuk menjelajah lebih jauh.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA