Hutan Sumatera Dicap 'Merah' UNESCO, Kerusakan Lingkungan Mencemaskan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Hutan Sumatera Dicap 'Merah' UNESCO, Kerusakan Lingkungan Mencemaskan

Syanti Mustika - detikTravel
Sabtu, 29 Nov 2025 06:04 WIB
Gunung Kerinci, Jambi
Gunung Kerinci (Getty Images/iStockphoto/Edgaras Sarkus)
Jakarta -

Hutan Sumatera diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatera atau Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) sejak 2004. Namun, maraknya penebangan liar, perambahan lahan, dan rencana pembangunan infrastruktur, sejak 2011 hingga kini membuat hutan Sumatera berstatus 'dalam bahaya'.

Dalam websitenya yang dilihat detikcom, Jumat (28/11/2025), UNESCO menuliskan Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera (TRHS) terdiri dari tiga taman nasional yang terpisah jauh, yaitu Gunung Leuser (TNGL), Kerinci Seblat (TNKS), dan Bukit Barisan Selatan (TNBBS), mencakup total luas 2.595.124 hektar. Kawasan yang membentang dari Aceh hingga Bandara Lampung merupakan salah satu kawasan konservasi terbesar di Asia Tenggara.

Bicara tentang keanekaragaman hayati di hutan Sumatera, diperkirakan terdapat 10.000 spesies tumbuhan, termasuk 17 genus endemik. Keanekaragaman satwa di Hutan Hujan Tropis Sumatra juga mengesankan, dengan 201 spesies mamalia dan sekitar 580 spesies burung, yang terdiri dari 465 spesies residen dan 21 spesies endemik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari spesies mamalia tersebut, 22 spesies endemik di hotspot Sundaland dan 15 spesies terbatas di wilayah Indonesia, termasuk orangutan Sumatera yang endemik. Spesies mamalia kunci lainnya termasuk harimau Sumatera, badak, gajah, dan beruang madu Malaya.

ADVERTISEMENT

UNESCO juga memuji keindahan bentang alam Hutan Hujan Tropis Sumatera. Gunung Kerinci (3.805 mdpl) gunung berapi tertinggi di Indonesia memiliki Danau Gunung Tujuh (danau tertinggi di Asia Tenggara), sejumlah danau vulkanik dan glasial lainnya di dataran tinggi, fumarol, air terjun, sistem gua, dan latar belakang berbatu yang curam.

Taman Nasional Gunung Leuser maupun Taman Nasional Bukit Barisan Selatan memiliki garis depan yang menghadap Samudra Hindia, sehingga rentang ketinggian TRHS membentang dari pegunungan tertinggi di Sumatra hingga permukaan laut.

Bentuk dan ukuran kawasan yang unik ini menyediakan habitat yang signifikan bagi konservasi in-situ bagi ribuan spesies Sumatera, khususnya spesies yang membutuhkan wilayah jelajah yang lebih luas seperti harimau Sumatera, orangutan Sumatera, gajah Sumatera, badak Sumatera, dan burung kukuk tanah Sumatera.

Kawasan ini merupakan laboratorium hidup bagi ilmu pengetahuan dan memiliki beberapa pusat penelitian terkemuka di Indonesia (Way Canguk, Ketambe, dan Suaq Belimbing) serta menjadi tuan rumah bagi kolaborasi tingkat tinggi internasional dari berbagai lembaga ternama dunia.

Hutan Sumatera terancam tangan manusia

Walau masuk ke dalam warisan dunia, kenyataannya tak menjadi hutan akan lestari dan dijaga seutuhnya. Dalam websitenya, UNESCO mencantumkan 'dalam bahaya' untuk Hutan Sumatera sejak 2011. Status ini terjadi karena rencana pembangunan jalan serta perambahan lahan pertanian.

Akses jalan memfasilitasi penebangan liar, perambahan, dan perburuan liar, yang semuanya menimbulkan ancaman signifikan terhadap integritas taman-taman yang ada di kawasan ini.

Sejumlah langkah pencegahan telah dilakukan. Kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, termasuk Unit Perlindungan Badak (RPU), Patroli Gajah WWF, Perlindungan dan Konservasi Harimau FFI, dan Zoological Society of London - Konservasi Harimau telah secara signifikan mengurangi insiden perburuan liar.

Patroli gabungan dengan pihak-pihak terkait, termasuk petugas kepolisian dan aparat pemerintah daerah, serta jagawana yang direkrut dari masyarakat setempat, mendukung Kementerian Kehutanan untuk menegakkan hukum yang berlaku.

Keputusan Presiden tentang pemberantasan penebangan liar dan penggergajian kayu yang dikeluarkan pada tahun 2005 ditindaklanjuti dengan upaya terpadu dari pemerintah provinsi dan kabupaten, serta dari Departemen Kehakiman, Kepolisian, dan Kehutanan.

Hasilnya, ancaman-ancaman ini praktis telah diberantas dari properti tersebut. Penambangan, yang terjadi di luar batas properti, tetap menjadi ancaman potensial.

Namun perjuangan untuk melindungi itu masih perlu ditegakkan lagi. Dikutip dari detiksumbagsel, yang tayang pada 28 April 2024, kawasan Konservasi Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang berada di Kabupaten Lampung Barat banyak mengalami kerusakan. Pihak TNBBS mencatat sebanyak 7 ribu hektare telah dirusak oleh perambah untuk dijadikan lahan perkebunan dan tercatat ada 4.515 orang tinggal di lokasi itu.

Bergeser ke Taman Nasional Tesso Nilo, dulunya memiliki luas mencapai 81.793 hektar dan menjadi rumah bagi flora dan fauna endemik di Indonesia. Namun, hingga saat ini, hanya tersisa seluas 12.561 hektare atau sekitar 15% kawasan hutan yang masih bisa difungsikan sebagai hutan alami.

Juga dikutip dari Antara, ditemukan tempat penambangan minyak ilegal di perbatasan Hutan Harapan, Desa Sako Suban, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (27/11). Ratusan sumur minyak ilegal aktif ditemukan di sejumlah titik di tepi hutan lindung di perbatasan Sumatera Selatan dan Jambi setempat sehingga mengancam upaya restorasi ekosistem yang tengah dilakukan.

Banjir besar di tanah Sumatera

Saat ini, Sumatera sedang dilanda bencana banjir di tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Video-video mencekam besarnya aliran air yang menghantam pemukiman warga membuat kita bergidik nyeri.

Turut berduka cita untuk masyarakat yang berada di utara Sumatera. Namun, tak bisa kita menutupi mata, alih-alih menyalahkan alam dan cuaca ekstrem, ada tangan manusia yang ikut campur dalam bencana ini.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara menyoroti maraknya penebangan liar sebagai faktor terjadinya banjir. Disebutkan saat ini Sumut telah kehilangan banyak area tangkapan air.

Sejumlah video menampilkan ribuan kayu gelondongan terbawa saat banjir bandang di sejumlah daerah di Sumatera Utara (Sumut) dan viral di media sosial. Dalam sejumlah video, banjir bandang membawa muatan gelondongan kayu di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Sibolga. Netizen menduga itu merupakan praktek ilegal logging yang ikut memperparah banjir dan longsor.

Tiga provinsi ini saat ini sedang berjibaku mengevakuasi warga yang terdampak banjir. Kondisi darurat pun diumumkan oleh para gubernur.

Dikutip dari detikSumut, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menetapkan Sumut berstatus tanggap darurat bencana banjir, tanah longsor, dan gempa bumi. Status tanggap darurat bencana ini berlaku 14 hari ke depan.

Status tanggap darurat bencana ini ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Sumut Nomor 188.44/836/KPTS/2025. Status tanggap darurat bencana ini berlangsung pada tanggal 27 November-10 Desember 2025.

"Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir, Tanah Longsor dan Gempa Bumi sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEDUA berlaku selama 14 (empat belas) hari terhitung tanggal 27 November 2025 sampai dengan tanggal 10 Desember 2025 dan dapat diperpanjang bila diperlukan," demikian tertulis dalam surat yang dilihat, Jumat (28/11/2025).

Langkah yang sama juga dilakukan Pemprov Sumbar menetapkan masa tanggap darurat bencana selama 14 hari.

"Sementara sesuai laporan ada 13 daerah yang terdampak. Dalam hitungan kerugian, sekitar Rp 4,9 miliar. Tapi data itu masih terus bergerak, karena tim masih berada di lapangan," kata Jubir BPBD Sumbar, Ilham Wahab, Rabu (26/11/2025).

13 daerah yang terdampak bencana di Sumbar yakni Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Tanah Datar, Agam, Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kota Pariaman, Pasaman Barat, dan Kota Bukittinggi. Selain itu juga ada Kota Solok, Padang Panjang, Limapuluh Kota, Pasaman.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf juga telah mengumumkan, menetapkan Aceh berstatus tanggap darurat bencana.

"Hari ini saya Gubernur Aceh menetapkan status keadaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Aceh," kata Mualem di Banda Aceh, dikutip Antara, Kamis (27/11).




(fem/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads