Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 10 Jun 2018 14:17 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Melihat Kincir Angin Langsung di Negara Asalnya

Jurnalis Jh
d'travelers
Foto 1 dari 5
Latar Belakang Kincir Angin
Latar Belakang Kincir Angin
detikTravel Community - Belanda dikenal dengan julukan negara Kincir Angin. Rasanya tidak sah liburan ke Belanda kalau belum melihat langsung bangunan yang ikonik ini.

Nama Zaandam secara bisnis dan historis memang tidak setenar Amsterdam atau Den Haag di Belanda. Tidak pula terdapat klub sepak bola di kota ini, sehingga publik pun tidak tau tentang kota ini.

Namun bila kita melakukan googling di internet tentang 'Kincir Angin' dan 'Belanda', maka kota ini akan muncul di pageone, begitu istilah yang dipakai kids zaman now.

Di Kota Zaandam terdapat sebuah desa bernama Zaanse Schans, Saat mengunjunginya, saya bahkan berpikir ini adalah desa tradisional karena penduduknya masih berpakaian seperti pada film-film perjuangan kemerdekaan Indonesia yang menampilkan noni cantik Belanda dengan pakaiannya yang khas.

Mungkin tema ini dipilih oleh otoritas pariwisata Belanda sebagai penarik minat wisatawan untuk berkunjung ke desa yang berjarak 20 km dari Amsterdam ini.

Belanda terkenal dengan teknologi kincir anginnya yang sudah dipakai ratusan tahun yang lalu. Kini di berbagai tempat di Belanda, Kincir Angin modern sudah dimanfaatkan sebagai wind turbine untuk menghasilkan daya listrik yang sangat bersih (Eco and Green Technology). Tak ayal udara di Belanda cukup sejuk dan kurang polusi. Banyak juga Kincir Angin di Belanda dimanfaatkan untuk industri.

Secara historis, kincir angin di Belanda digunakan untuk memompa air keluar dari dataran rendah dan kembali ke sungai melalui tanggul, sehingga tanah bisa digunakan untuk bertani.

Pada abad keempat belas, kincir angin berbentuk hollow-post digunakan untuk menggerakkan roda sendok untuk mengeringkan lahan basah. Di Amsterdam, bahkan ada kincir angin yang berfungsi untuk memotong kayu, yang masih beroperasi sampai hari ini.

Namun, bila ingin menikmati kincir angin yang klasik (terbuat dari kayu), besar dan gratis tempatnya ada di desa Zaanse Schans. Dari Amsterdam, kita cukup menaiki Bus atau kereta dan berhenti di stasiun Koog Zaandijk (biaya: 3 Euro ~ Rp 45.000an).

Dari stasiun, kita butuh berjalan selama lebih kurang 15 menit untuk bisa menikmati Kincir Angin dari dekat, disuguhi oleh danau yang indah dan jernih serta hawa sejuk khas Eropa.

Tampilan desa pun langsung terasa, karena bangunan di Zaanse Schans hanya terbuat dari kayu, dikeliling halaman luas tempat para domba menikmati rerumputan liar. Wisatawan akan disambut oleh sebuah jembatan kayu yang melintas di danau Zaan, Julianabrug.

Ada sebuah Kincir Angin bernama De Bleeke Dood Meel Moelen yang digunakan untuk mengolah tepung di sampingnya. Total terdapat 6 buah Kincir Angin klasik di Zaanse Schans, De Hiusman (digunakan untuk membuat makanan mustard), De Kat (pembuatan Cat), De Zoeker Olimolen (pembuatan minyak), De Gekroonde Polenburg (pemotongan kayu), De Biksteen (mengasah batu) dan De Hadel (memompa Air).

Tidak ada biaya masuk ke desa ini, kecuali bila ingin ke toilet umum, kita harus menyediakan recehan sen Euro, karena tidak ada kembalian di sini.

Selain Kincir Angin, Zaanse Schan juga menyajikan beberapa rumah klasik yang bisa dimasuki tanpa biaya. Ternyata isi setiap rumah berbeda; ada rumah yang dijadikan tempat penjualan Souvenir(tapi harganya agak mahal dibandingkan di Amsterdam/Den Haag.

Ada pula yang dijadikan tempat penjualan Coklat dan Keju. Salah satu rumah yang menarik perhatian saya dan harus mengantri ketika masuk adalah rumah (mungkin bisa dikatakan pabrik) pembuatan keju.

De Catherine Hoeve, adalah rumah tempat pembuatan keju secara alami, terdapat seseorang yang mengatur wisatawan masuk per 20-30 orang, agar rumah tidak sempit, karena dibutuhkan 20 menit bagi setiap rombongan untuk bisa mendengarkan pembuat keju mendemontrasikan jenis-jenis dan cara membuat keju, sambil kita bisa mencicipi secuil keju yang diambil dari botol keju di testing room, Yummy.

Terdapat juga sebuah Museum yang menurut peta yang saya baca menyajikan sejarah dari kota Zaans. Namun karena biaya masuknya lumayan mahal, 10 Euro, saya urungkan niat untuk masuk.

Terdapat banyak Museum di Zaan, karena memang desa ini sudah dijadikan desa wisata; terdapat Bakkerij Museum (Museum Roti dan Kue), Distillery Museum (penyulingan minuman), Museum Albert Heijn (Museum Supermarket yang sudah berdiri sejak tahun 1887).

Ada pula De Tinkopel Tinnegieterij, tempat kerajinan perak yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Terakhir ada juga Het Nederlandse Uurwerk (Museum Jam).

Di Zaandam, tepatnya di Desa Zaanse Schans saya belajar banyak hal. Bagaimana Pemerintah Belanda memadukan nilai sejarah, potensi agronomi dan infrstruktur serta kesejukan alam di Zaandam menjadi sebuah paket wisata yang tidak modern, tidak mewah dan tidak canggih, namun memiliki kearifan lokal yang justru diminati oleh wisatawan mancanegara.

Pemanfaatan potensi daerah sebagai nilai wisata akan lebih efisien dan baik untuk sebuah objek wisata, terutama bila ingin merangkul wisatawan dari negara yang sudah modern. Masyarakat sekitar pun bisa turut serta langsung melayani wisatawan di desa mereka sendiri sambil menjual barang-barang khas buatan desa yang sudah turun temurun diwariskan nenek moyang mereka.

Setelah pulang dari Zaanse Schan, saya mencoba untuk mencari informasi lebih di Google dan saya menemukan berbagai informasi disana mulai dari profil berbagai bahasa (bahkan Indonesia pun ada), Foto-Foto, Place of Interest, informasi penginapan, paket Tour serta pembelian tiket secara online.

Jadi, walaupun Zaanse Schans menyajikan warna tradisional, namun aktivitas promosi yang dilakukan tetap memanfaatkan teknologi zaman sekarang karena lebih mudah dalam pendistribusian informasinya dan murah.

Mudah-mudahan Indonesia bisa memanfaatkan potensi lokalnya lebih banyak lagi menjadi objek wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan manca negara dan menjadikan rakyat di desa tersebut menjadi makmur karena industri pariwisata.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED