Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 29 Mei 2018 14:31 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Main ke Watu Payung Dulu, Sebelum Lihat Waisak di Borobudur

Windra Aristiana
d'travelers
Foto 1 dari 5
Karya Andum Tuntum yang cantik ya.
Karya Andum Tuntum yang cantik ya.
detikTravel Community - Traveling ke Yogyakarta memang tidak ada bosannya. Ada Geoforest Watu Payung, Gunungkidul yang bisa kamu datangi dulu sebelum lanjut menonton Waisak di Candi Borobudur.

Selalu ada hal baru yang membuat wisatawan selalu datang kembali. Kali ini saya akan memberikan referensi tempat liburan di Yogyakarta yang baru saja dibuka. Tempat wisata sekaligus edukasi ini terletak di Geoforest Watu Payung.

Jika kalian pernah kebeberapa hutan pinus di Yogya, pasti kalian tidak asing lagi dengan environmental art karya Wisnu Ajitama. Itu lho, ranting-ranting yang disusun  sedemikian rupa sehingga membentuk karya yang indah dan instagramable.

Awalnya, environmental art ini hanya dibuat di hidden area saja. Artinya, hanya tempat-tempat tersembunyi dan belum terjamah seperti pantai, sungai, dan gunung. Material yang dipakai biasanya menggunakan batu, tanah, tali, dan ranting tentunya sebagai komponen utama.

Di Geoforest Watu Payung ini terdapat 4 environmental art yang dibangun bersama warga sekitar. Keempatnya diberi nama yang berbeda, ada Andum Tuntum, Manara, Hasta Apsari, dan Goro-goro.

Andum Tuntum sendiri diambil dari bahasa Jawa Andum yang berarti berbagi, dan Tuntum yang berarti tumbuh kembali. Manara sebagai ungkapan lain dari menara. Pada karya ini, kita dapat belajar pada tumbuhan lantana camara yang hidup menjelajah dan menjadi arah bagi orang lain seperti layaknya menara sebagai arah para nelayan di samudera lepas.

Nah kalo Goro-goro itu diartikan sebagai sebuah layar kapal yang telah berlubang. Lubang-lubang terbentuk dikarenakan terpaan angin dan badai di lautan yang sangat kencang. Layar sebuah kapal adalah jantung bagi nelayan untuk mengarahkan bahteranya menuju kerumunan ikan. Begitu pula pada diri manusia, harus tetap berpegangan pada keyakinan untuk menuju arah yang baik bagi diri sendiri dan juga bagi sekitarnya.

Hasta Hapsari merupakan karya yang paling menonjol jika dibandingkan yang lain. Kebanyakan wisatawan pasti akan menuju lokasi ini untuk berfoto dengan background kabut di pagi hari. Lalu apa sih artinya Hasta Hapsari?? Hasta berarti delapan, dan Apsari berarti bidadari. Delapan bidadari ini melambangkan cantiknya warna pelangi.

Jika kalian datang kesana pagi hari, kalian bisa menikmati indahnya sunrise dan kabut pagi yang bersih. Namun jika kalian datang sore atau petang kalian akan menjumpai pemandangan lain karena di setiap ujung karya Hasta Hapsari terpasang lampu-lampu yang akan menyala ketika malam hari.

Sungguh perpaduan yang sangat syahdu antara lampu, kabut tipis dan karya yang bentuknya menyerupai setengah kelopak bunga. Jika kalian sedang mempersiapkan pernikahan, lokasi ini menjadi salah satu lokasi yang ciamik untuk menggambil foto prewedding.

Penggarapan Geoforest ini diresmikan 3 Mei 2018. Untuk menuju ke lokasinya pun sangat mudah karena dekat dengan jalan utama. Jaraknya dari pusat Yogyakarta hanya sekitar 28 km, jadi masih bisa kalian tempuh dengan sepeda motor. Sepanjang jalan yang dilalui, kalian akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang cantik. Bukit-bukit hijau dari kejauhan dan udara yang masih bersih akan membuat kalian merasa fresh kembali.

Jadi, buat kalian yang belum punya agenda sebelum melihat Waisak di Borobudur, bisa kalian jadwalkan ke sini. Akan ada pameran dan berbagai kesenian tradisional juga lho.

Jadilah wisatawan yang serba ingin tahu. Selain bisa berfoto ria, kalian juga harus mempelajari sejarah terbentuknya juga. Penjelasan setiap karya sudah terpasang rapi di setiap lokasi kok. Oh iya, biasakan juga untuk menghargai karya orang lain dengan tidak mengubah atau merusaknya ya, buang sampahmu di tempat yang telah disediakan.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA