Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 17 Jun 2018 15:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Choeung Ek, Saksi Bisu Kekejaman Rezim Khmer Merah

Martha Simandjuntak
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Sebagian kecil tengkorak kepala korban yang ditemukan, disimpan berdasar jenis penyiksaan
Sebagian kecil tengkorak kepala korban yang ditemukan, disimpan berdasar jenis penyiksaan
detikTravel Community - Liburan ke Kamboja singgahlah ke sini. Choeung Ek Genocidal Center, saksi bisu akan kekejaman rezim Khmer Merah yang menguasai Kamboja dahulunya.

Choeung Ek Genocidal Center adalah saksi bisu akan kekejaman rezim Khmer Merah yang menguasai Kamboja pada rentang tahun 975-1979. Pada masa itu, lebih dari 1 juta korban disiksa dan dibunuh secara keji oleh rezim Khmer Merah yang di pimpin oleh Pol Pot.

Masuk ke Choeung Ek Genocidal Center, kita harus membeli tiket seharga USD 6 . Disana kita akan ditawarkan apakah mau menggunakan jasa tour guide. Jika tidak, mereka menyediakan peralatan audio yang akan menjelaskan setiap lokasi. Dengan mendengarkan narasi dari audio, kita bisa membayangkan betapa kejamnya kejadian pada masa itu.

Begitu memasuki area kita akan disambut sebuah bangunan berupa stupa Budha yang dibangun sebagai tugu peringatan untuk para korban. Di dalam bangunan ini tersimpan ribuan tengkorak kepala korban yang ditemukan setelah masa rezim Khmer Merah digulingkan oleh Vietnam.

Di sana kita bisa melihat sisa-sisa tulang belulang korban yang masih tertimbun tanah dan memang sengaja dibiarkan. Di situ juga disediakan bunga dan dupa yang bisa kita beli dan letakkan untuk memberi penghormatan kepada para korban.

Korbannya ini bukan hanya tahanan politik, tapi juga warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka tidak memandang jabatan, umur atau apapun. Mereka membawa paksa para warga yang dianggap menentang atau dicurigai menentang dengan menggunakan truk. Sebagian dibawa dulu ke penjara, yang dikenal dengan sama S-21 Prison, tempat penyiksaaan atau langsung dibawa ke Choeung Ek untuk disiksa dan dibunuh.

Beberapa pohon dan beberapa lubang tempat membuang jenasah para korban masih ada di sana dan dibiarkan sebagai mana adanya sebagai pengingat. Melewati dan berkeliling di area ini, kita melewati jembatan kayu yang dibangun di atas kuburan masal para korban. Jika kita sedikit berjongkok dan mengamati tanah di bawah jembatan, kita masih bisa melihat sebagian tulang belulang dan pakaian para korban yang memang dibiarkan tetap di sana.

Untuk mengenang dan menghormati para korban, pengunjung banyak yang menaruh gelang tali di pagar yang mengelilingi lubang atau melempar uang ke tengah lubang.  Banyak di antara pengunjung yang tidak bisa menahan airmata mendengar kisah ditempat ini dan membayangkan kekejaman yang terjadi.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED