Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 10 Jun 2018 10:08 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sahur di Jakarta, Buka Puasa di Sydney

Andik Setiawan
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Jika New York punya Patung Liberty, Sydney punya Sydney Opera House
Jika New York punya Patung Liberty, Sydney punya Sydney Opera House
detikTravel Community - Bulan Juni liburan ke Sydney, traveler akan merasakan yang spesial. Selain bisa nonton pertunjukan cahaya Vivid Sydney, buka puasa di Sydney juga lebih cepat.

Mengunjungi Sydney di awal bulan Juni ini menjadi spesial, penyebabnya adalah event tahunan bertajuk Vivid Sydney yang digelar mulai tanggal 25 Mei sampai dengan 16 Juni 2018. Saya menjadi salah satu orang yang beruntung karena berkunjung pada moment tersebut.

Vivid Sydney merupakan pagelaran festival cahaya terbesar di dunia yang digelar setiap tahun dan tahun ini telah memasuki tahun ke-10. Kota Sydney disulap menjadi sangat indah dengan jutaan cahaya yang 'ditembakkan' ke bangunan iconic seperti Sydney Opera House, Sydney Harbour Bridge dan bangunan-bangunan lain di kawasan Sydney.

Hiburan ini gratis dan bisa dinikmati oleh semua masyarakat yang datang ke Sydney. Kita tinggal mengambil moment dan angle terbaik untuk sekedar selfie atau mengabadikan keindahan Kota Sydney.

Bagi yang ingin naik cruise untuk berkeliling di sekitar Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House, kita bisa naik cruise jurusan Taronga Zoo, sekitar 30 menit perjalanan kita akan diajak berkeliling naik cruise. Biayanya pun juga cukup terjangkau hanya 15 AUD atau sekitar 163 ribu rupiah.

Untuk naik cruise tersebut, kita bisa membeli kartu Opal saat kita landing di Sydney. Kartu Opal ini sendiri gratis, kita cukup ngisi saldonya di toko-toko terdekat. Dengan kartu ini kita bisa pakai untuk naik bus, ferry dan kereta selama di Sydney.

Jangan lupa berfoto di depan Sydney Opera House yang merupakan landmark kota Sydney, pergi ke Sydney tanpa foto di bangunan tersebut seperti makan lalapan tanpa sambal, kurang komplit

Sydney bisa dibilang kota yang sangat tertib dan tentu indah. Jarak tempat wisata yang satu dengan yang lain juga tidak terlalu jauh dan mudah dijangkau dengan moda transportasi apa saja.

Ditambah lagi cuacanya kemarin sangat mendukung, pas musim autumn, suhu rata-rata di Sydney kisaran 16 derajat celcius, jadi puasa tidak begitu terasa.

Waktu di Sydney yang 3 jam lebih awal dibanding Jakarta, juga cukup menguntungkan bagi saya, karena sahur di Jakarta dan buka puasanya di Sydney, jadinya puasa dapat diskon selama 3 jam lebih awal berbuka puasanya.

Untuk liburan singkat di kala weekend, Sydney menjadi pilihan kota yang layak dipertimbangkan, selain Jepang. Kita bisa merasakan perpaduan kecanggihan transportasi dan teknologi Jepang, arsitektur bangunan Eropa di dalam satu kota bernama Sydney.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED