Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 21 Agu 2018 19:18 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sumba, Surganya Pecinta Alam dan Petualangan

Fakhrul Agustriwan
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Rumah adat dan kain tenun di Desa Adat Ratenggaro
Rumah adat dan kain tenun di Desa Adat Ratenggaro
detikTravel Community - Eksotisme Sumba memang benar mempesona. Dari bukit hingga savana dan keramahan penduduk lokal, Sumba jadi destinasi sempurna bagi pencinta alam dan petualangan.

Pulau Sumba merupakan satu dari tiga pulau utama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selain Pulau Flores dan Pulau Timor.

Secara lokasi, Sumba mungkin lebih jauh dan sulit dijangkau dibanding Bali atau Lombok yang kini jadi primadona pariwisata Indonesia.

Namun, secara keindahan alam pulau ini punya keunikan tersendiri yang belum banyak diketahui. Melalui sayembara 'Rejeki Nama Agus' dari detikTravel, saya dan 11 Agus lain berkesempatan untuk menjelajahi eksotisme Sumba selama empat hari.

Perjalanan dimulai dari Sumba bagian barat daya, tepatnya Kota Tambolaka. Kami menjejakkan kaki di Bandar Udara Tambolaka untuk kemudian bertolak ke salah satu desa adat di daerah ini, yaitu desa adat Ratenggaro.

Di desa ini kami disambut dengan pemandangan rumah adat khas Sumba yang beratap menjulang, puluhan kain tenun cantik yang dipajang di pelataran rumah, serta senyuman warga lokal yang begitu hangat.

Beberapa kuda Sumba milik warga pun terlihat berkeliaran. Sambil berinteraksi dengan warga sekitar, kami menikmati kentalnya budaya Sumba di desa ini.

Setelah puas bercengkerama dan mengambil beberapa foto, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pantai Pero. Di pantai dengan karang yang memecah ombak ini kita bisa mendapatkan pemandangan laut biru dan 'golden sunset' yang begitu cantik.

Destinasi pertama kami di hari kedua adalah Tanjung Mareha atau sering disebut pula Tanjung Radar. Disebut demikian karena di sini terdapat fasilitas radar milik TNI AU.

Tanjung Mareha itu sendiri merupakan bukit yang berada dekat bibir pantai. Dari atas bukit ini terbentang pemandangan laut dari Samudera Hindia, pantai berpasir putih, dan tebing-tebing karang. Biasanya para pengunjung Tanjung Mareha dapat menuruni bukit menuju pantai bernama Pantai Bawana.

Hal yang unik di pantai ini adalah terdapat batu karang tinggi yang berlubang di tengah layaknya sebuah gapura. Sayangnya air laut yang sedang pasang membuat kami tidak bisa menuruni bukit.

Namun, kami tidak kecewa sedikit pun. Pemandangan dari atas bukit saja sudah membuat kami takjub. Menikmati makan siang di pinggir tebing dengan pemandangan seindah itu merupakan momen yang tidak terlupakan.

Dari Tanjung Mareha, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Waikuri. Akses jalan menuju destinasi ini sedang dalam pembangunan, sehingga cukup menghambat jalannya kendaraan.

Sesampainya di Danau Weekuri, kami kembali dibuat terpukau dengan pemandangannya dari atas tebing. Walaupun disebut danau, destinasi ini sebenarnya bukanlah sebuah danau air tawar, melainkan sebuah laguna.

Airnya yang tampak biru kehijauan merupakan air laut yang mengalir dari laut yang ada di dekatnya. Bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi melompat ke air dari ketinggian, di sini terdapat balkon kayu setinggi kira-kira 5 meter. 

Airnya yang tenang dan tidak terlalu dalam sangat cocok untuk bermain air. Namun, pengunjung harus berhati-hati terhadap keberadaan bulu babi yang tersebar di karang-karang sekitar danau.

Setelah puas mengeksplor beberapa destinasi indah di Sumba bagian barat, di hari ketiga kami berangkat menuju Sumba bagian timur sambil mampir di beberapa spot wisata menarik.

Kami mengunjungi Desa Adat lain bernama Praijing. Jika dibanding dengan Desa Adat Ratenggaro, Desa Adat Praijing lebih luas. Lokasinya yang berada di atas bukit juga jadi keunikan tersendiri.

Dalam hal keramahan, masyarakat di Praijing pun sangat ramah dan terbuka pada para pengunjung. Di sini saya sempat berbincang ringan dengan beberapa ibu-ibu setempat dan bernyanyi bersama anak-anak. Sungguh menyenangkan bisa berbaur dengan mereka seperti saudara sendiri.

Destinasi selanjutnya adalah Air Terjun Lapopu yang merupakan air terjun tertinggi di NTT. Untuk menuju air terjun ini, kami perlu berjalan sekitar 15 menit dan melewati sebuah jembatan bambu.

Alam sekitarnya yang masih asri dan arus airnya yang tidak terlalu deras membuat siapa saja yang berkunjung ingin cepat-cepat menceburkan diri. Apalagi di tengah udara yang sedang panas-panasnya, airnya sungguh menyegarkan badan.

Bukit Wairinding adalah tujuan kami berikutnya. Bukit yang cukup terkenal akan pemandangannya ini sudah masuk wilayah Sumba Timur.

Dari Air Terjun Lapopu ke Bukit Wairinding memakan waktu hampir tiga jam dengan melewati jalanan berkelok dan naik turun. Kondisi membuat kami lumayan mabuk perjalanan.

Ketika sampai di bukit ini, segala lelah selama perjalanan terbayar dengan keindahan lansekap perbukitan seluas mata memandang.

Rerumputan yang menguning dan langit senja menambah kekaguman kami pada tempat ini. Dengan pemandangan seindah ini, kami benar-benar merasa bahwa alam Sumba begitu diberkati.

Hingga matahari terbenam, kami tak bosan-bosannya memandangi apa yang ada di depan mata sambil mengucapkan syukur karena bisa berada di tempat ini.

Pada hari terakhir di Sumba, kami mengunjungi beberapa destinasi wisata di Sumba Timur. Pertama, kami mengunjungi Savana Puru Kambera.

Savana yang cukup luas ini mirip seperti padang rumput di Afrika. Terkadang ada kuda sumba berlarian bebas di tempat ini, menambah eksotisme Puru Kambera.

Keunikan dari savana ini adalah letaknya yang berdekatan dengan bibir pantai, sehingga terdapat kombinasi unik pemandangan kuning padang rumput dan birunya lautan.

Lalu perjalanan dilanjutkan ke Air Terjun Waimarang. Letaknya cukup jauh dan terpencil di balik bebukitan dengan akses yang tidak terlalu baik. Setelah turun dari kendaraan, perlu jalan kaki sekitar setengah jam untuk mencapai destinasi ini.

Ada beberapa bagian dari medan yang curam sehingga cukup menguras tenaga. Namun, pemandangan tebing batu yang mengililingi air terjun dan jernihnya air yang tampak berwarna biru kehijauan membuat rasa lelah terbayar.

Mandi atau pun sekadar basah-basahan, Air Terjun Waimarang yang masih alami merupakan tempat yang tepat untuk menghilangkan jenuh dan menenangkan diri.

Terakhir, kami mengunjungi Pantai Walakiri. Letaknya yang tak jauh dari Kota Waingapu, kota terbesar di Sumba Timur, membuat lokasi ini mudah dijangkau.

Jika dilihat sekilas, pantai ini tidak jauh berbeda dari pantai-pantai lain. Hanya ketika matahari mulai terbenam dan air sedang surut, siluet pohon-pohon bakau berpadu dengan langit jingga mampu menghipnotis siapa pun yang melihatnya. Ini adalah salah satu pemandangan matahari terbenam terbaik yang pernah saya lihat.

Dengan segala keindahannya, Sumba patut mendapatkan lebih banyak perhatian dari para pecinta alam dan petualangan. Kecantikannya yang alami benar-benar mempesona.

Dunia harus tahu akan alam Sumba yang menawan. Warga Sumba yang ramah pun begitu terbuka dengan para pengunjungnya, membuat pulau ini seperti serpihan surga yang tak hentinya memberi senyuman.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED