Ide Liburan Akhir Pekan: Pantai Rancabuaya Garut

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ide Liburan Akhir Pekan: Pantai Rancabuaya Garut

Rina Tri Handayani - detikTravel
Rabu, 17 Okt 2018 08:00 WIB
Cerukan Pantai Rancabuaya
loading...
Rina Tri Handayani
Jakarta -

Pantai Rancabuaya di Garut dikenal lewat novel Perahu Kertas karya Dee. Ayo bertualang ke sana akhir pekan ini.

Pertengahan September 2018 lalu, saya dan keluarga kecil yang rempong berkesempatan ke Rancabuaya. Ini adalah pantai impian saya sejak membaca novel Perahu Kertas karya Dee. Pantai yang dikunjungi Kugy dan Keenan, pemilik Radar Neptunus.

Untuk ke Rancabuaya yang berada di Garut, dari Kota Bandung kami mengambil jalur lewat Pangalengan. Ada juga jalur lain lewat Ciwidey tapi kata suami lebih jauh yakni sekitar 125 kilometer. Jarak Bandung-Rancabuaya via Pangalengan sekitar 114 kilometer. Ibarat dari Klaten ke Ibukota Jawa Tengah Semarang bisalah 2,5 jam. Tapi waktu yang kami tempuh saat itu 5,5 jam bonus membawa duo krucil (balita).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kami harus mendaki gunung, lewati limbah, sungai mengalir indah ke samudera ala Ninja Hatori. Tapi nggak jalan kaki juga kali ya. Trek model ini sudah dimulai ketika akan memasuki Pangalengan. Pangalengan-Rancabuaya berjarak 74 kilometer. Yes, dan sejauh itulah naik turun gunung baru akan berhenti di Rancabuaya. Bagaimana sudah terbayang kan?

Namun, di balik kepayahan tersuguh karya alam yang memanjakan mata. Kalian dijamin tak akan pernah bosan dengan deretan gunung yang sambung menyambung, jalanan berliku naik turun, hutan menghijau, sungai-sungai besar dengan bongkah batu yang asri, rumah-rumah khas Sunda yang masih lestari. Meski berasa jauh dari peradaban tapi ini semua keren.

Begitu hawa-hawa pantai sudah terasa, rasanya senang sekali. Meski baru bisa melihat deburan ombak di kanan kiri kami dari atas bukit yang kami lalui, ucap syukur berhamburan. Inilah samudera luas balasan perjalanan nan berliku seakan tiada berujung. Tempat Keenan memberi surprise kepada Kugy.

Selamat datang di Pantai Rancabuaya. Tentu saja spot yang saya cari-cari pertama kali adalah lokasi syuting Perahu Kertas. Walau nampaknya pantai ini telah banyak berbenah sejak kedatangan pemilik Radar Neptunus. Begitu juga kata suami yang sebelumnya sudah pernah tur ke sini sekitar tahun 2016. Tidak hanya penginapan penduduk, mulai berdiri villa permanen, homestay semi modern, pembangunan benteng, dan tengah dibangun dermaga dekat cekungan pelabuhan kapal ikan yang diceritakan dalam novel. Karena mungkin memenuhi tuntutan pengembangan wisata di Garut Selatan.

Pantai Rancabuaya hampir seluruhnya dibingkai oleh hamparan karang, kecuali satu cerukan yang dipakai sebagai pelabuhan kapal nelayan, yang letaknya persis di depan warung-warung makanan. Dekat dari sana, masih tersisa sebagian kecil pantai kosong yang tidak diparkiri perahu.

Paragraf dalam novel Dee tersebut menggambarkan detail kondisi alam pantai ini. Warung makan yang hampir semuanya menyatu dengan penginapan penduduk berjajar dari ujung ke ujung. Begitu juga di pinggiran pantai berdiri saung-saung sepanjang garis pantai terbuat dari bambu. Tapi jangan khawatir menurut saya saung tersebut tidak menggangu aktivitas kita di pantai. Karena memang di pantai berkarang ini tidak dianjurkan berenang. Kita bisa menyisir pantai putih, mencari karang, menangkap ikan kecil yang tejebak di karang saat surut, duduk di beralas pasir juga masih oke.

Kalau sekedar ingin menikmati keindahan alam dan makan serba ikan bisa duduk di saung. Namun, jika ingin makan lebih baik rombongan atau bersama keluarga, porsi yang dihidangkan besar dan dihitung per kilogram ikan. Sayang kalau tidak habis padahal sudah dibayar mahal-mahal. Tapi bisa juga dibungkus dibawa ke penginapan asal tidak malu ngomongnya, kan sudah dibayar ya.

Esok pagi harinya kami tak mendapati matahari terbit karena kesiangan. Tapi kami tetap mendaki bukit yang tak jauh dari penginapan. Wow, kayak di Afrika kata saya. Bukit ini begitu tandus mungkin karena puncak kemarau. Kata suami dulu pas ke sini masyarakat sedang panen padi. Jejak sawah memang terlihat dari pematang. Tapi yang kami jumpai sekarang adalah sapi dan kambing yang dibiarkan dalam semak serta ranjau kotoran hewan dimana-mana.

Ngomongin tandus rasanya tanah di kawasan Pantai Rancabuaya memiliki karakteristik berbeda dari pantai yang biasa saya kunjungi. Perbukitan di sekitar pantai yang kerap saya jumpai adalah kawasan karst seperti Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, hingga Tulungagung yang didominasi batuan karang dengan lapisan tanah yang tipis. Batuan yang terbentuk dari pengangkatan laut jutaan tahun yang lalu. Nah, di sini menurutku perbukitannya lebih didominasi ke tanah lempung, bukan batuan, yang jika hujan sangat licin dan jika kemarau akan pecah-pecah. Jangan dipercaya, lebih baik cek sendiri ya.

Jauh-jauh ke Garut Selatan hanya ke Rancabuaya saja tentu sayang. Jalur selatan Jawa Barat memang tengah dikembangkan sehingga digarap serius oleh pemerintah. Akses jalannya sudah beraspal bagus. Begitu juga menuju pantai lainnya. Dari sini, kami mampir ke Pantai Puncak Guha kemudian banyak melewati pantai lain yang bisa dilihat dari jalan raya sehingga kami memutuskan lanjut ke Pantai Sentolo. Yang ini asyik buat bercebur. Tak jauh dari sini ada Pantai Sayang Heulang, sayang juga saat itu sudah kemalaman jadi kami tak jadi mampir. Jika berniat mengikuti jalan ini akan sampai di Pantai Pangandaran yang sudah lebih dulu terkenal.

Yang menarik lagi mengikuti jalur Garsela ini banyak bangunan jembatan tempo doeloe. Karena bangunan jembatan sekarang kayaknya sudah tidak memakai rangka besi di bagian atap ya kan? Nah, dari atas jembatan di jalur selatan ini kita bisa menyaksikan muara sungai. Uniknya muara tersebut airnya tak langsung menyatu dengan laut. Tidak tahu memang seperti itu sepanjang tahun atau karena kebetulan saya berkunjung saat kemarau sehingga debit air memang kecil. Dengan fenomena tersebut muara sungai malah kelihatan seperti rawa. Hmmm... ranca sendiri dalam bahasa Sunda berarti rawa-rawa, jadi mungkin saja dinamakan Rancabuaya karena dulunya banyak rawa yang dihuni buaya.

Perjalanan ini benar-benar berkesan, sejak dari perjalanannya itu sendiri. Dari melewati Kebun Teh di Pangalengan, melalui Situ Cileunca, mandi kabut di Kebun Teh Cukul perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, hingga Alun-alun Talegong yang digawangi tiang-tiang ala Eropa atau Mesir Kuno. Air terjun tanpa nama yang mengintermezo dengan indahnya selamanya perjalanan dan sejauh mata memandang kita akan terbius dengan panoramanya.

Bertambah haru ketika tiba di lokasi yang mampu menginspirasi penulis besar Dee hingga melahirkan karya fenomenal, Perahu Kertas. Hingga akhirnya saya bisa ikut-ikutan melajukan perahu kertas pertanda impian jadi nyata di sini. Impian itu pasti terwujud jika kita memang berniat mewujudkannya. Seperti kata Raja Salem kepada Santiago dalam novel Alkemis karya Paulo Coelho, "Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya." Hanya saja Tuhan tahu waktu yang terbaik buat kita. Seperti kali ini saya bisa datang dengan keluarga kecil yang begitu saya syukuri.

Oh ya, kalau mau ke sini mending membawa kendaraan pribadi atau rental mobil bersama rombongan. Buat tur juga seru. Angkutan umum yang ada elf dan terbatas. Untuk fasilitas penunjang seperti penginapan mau mencari yang model ala backpacker atau ala koper sudah tersedia. Masuk kawasan pantai juga sudah terdapat dua minimarket merah dan biru yang tak dapat dipisahkan. Pom bensin mini juga banyak dijumpai kok.

Okay, sudah tidak ragu dan siap. Ke sini juga, yuk!

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads