Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 14 Nov 2018 10:33 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Jembatan Gantung Pulau Kalong yang Bikin Deg-degan

Kharina Windi
d'travelers
Foto 1 dari 5
Jembatan Pulau Kalong yang menghubungkan Pantai Sinden dan Pulau Kalong
Jembatan Pulau Kalong yang menghubungkan Pantai Sinden dan Pulau Kalong
detikTravel Community - Selain menikmati pantai yang cantik, Gunungkidul menawarkan aktivitas wisata yang memacu adrenalin. Seperti menyeberangi jembatan gantung yang bikin deg-degan.

Jembatan Pulau Kalong yang terletak di Gunungkidul, DI Yogyakarta menjadi tempat wisata yang mengesankan untuk menikmati laut dan ombak dari ketinggian. Dengan akses jalan yang tidak terlalu mudah membuat wisatawan semakin puas saat bertemu dengan jembatan penantang adrenalin ini.

Berbicara mengenai destinasi wisata Yogyakarta memang seakan tak ada habisnya. Di berbagai sudutnya tersimpan panorama yang memikat para wisatawan. Begitu pun dengan daerah tenggara Yogyakarta, Gunungkidul. Daerah yang terkenal dengan surganya pantai.

Dari sekian banyak pantai yang ada di Gunungkidul, kali ini aku penasaran dengan Pantai Sinden. Lebih tepatnya sesuatu yang ada di Pantai Sinden. Apa itu? Sebuah jembatan gantung yang menantang adrenalin seakan memanggilku ke sana. Orang-orang menyebutnya Jembatan Pulau Kalong, jembatan yang menghubungkan Pantai Sinden dengan Pulau Kalong.

Menempuh perjalanan 2,5 jam dari Jogja kota dengan bersepeda motor, sampailah aku di pintu masuk kawasan Pantai Wediombo. Dengan uang masuk yang hanya 5 ribu, kita sudah bisa menikmati beberapa pantai di kawasan ini seperti Pantai Wediombo, Pantai Jungwok, Pantai Sedahan.

Dari pintu masuk, kita akan menemukan papan di sebelah kiri jalan, letaknya sekitar 500 meter sebelum Pantai Wediombo. Jalan yang disebut warga sebagai jalan alternatif itu, membawa kami ke Pantai Jungwok.

Kalau mau ke Pulau Kalong dari Pantai Jungwok ini ada 2 pilihan mbak. Pertama, jalan kaki ke arah Pantai Greweng sekitar 45 menit. Kedua, naik motor ke arah Pantai Sedahan. Selagi bukan motor matic, masih bisa jalan kesana, soalnya jalan disana parah, kata juru parkir Pantai Jungwok.

Aku pun memilih opsi kedua. Benar saja, akses jalan ke Pantai Sedahan benar-benar mantap. Setelah perjalanan sekitar 25 menit di track bebatuan, sampailah kami di Pantai Sedahan, pantai yang akan menuntun kami menuju Jembatan Pulau Kalong.

Kami disambut dengan pasir pantai yang halus dikombinasikan pemandangan cantik berupa dua karang yang seolah saling bertatapan. Eitss, bukan Pantai Sedahan ini tujuan utama kami lho. Di sebelah kanan pantai ini, ada jalan menuju Pulau Kalong.

Akses jalannya? Lagi-lagi kami dipertemukan dengan jalan yang aduhai. Jalan yang kami lalui ini nyatanya adalah sebuah pantai. Pantai Sinden namanya, pantai berupa bukit karang tanpa hamparan pasir. Sangat disarankan untuk memakai pakaian maupun alas kaki yang nyaman karena akses ke sana berupa jalan bebatuan setapak.

Setelah berjalan sekitar 15 menit, terlihat dari kejauhan Pulau Kalong (juga dikenal dengan sebutan Pulau Gelatik). Pulau tersebut sering dikunjungi para wisatawan untuk kemping atau memancing.

Konon pulau ini banyak dihuni para kalong sehingga disebut Pulau Kalong. Walaupun untuk menjelajah Pulau Kalong harus melewati pinggiran tebing, tetapi tidak menyurutkan para wisatawan untuk berkunjung ke sana.

Rasa lelah setelah mendaki gunung lewati lembah ditambah adegan salah jalan yang membuat kaki pegal, akhirnya terbayar sudah ketika kami mencapai tujuan utama, Jembatan Gantung Pulau Kalong.

Kalau kata orang, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Aaaaaah, semua rasa letih lenyap seketika. Papan bertuliskan daftar harga untuk camping Rp 50 ribu, memancing Rp 50 ribu, atau sekedar berfoto Rp 25 ribu sudah terpampang di dekat jembatan.

Segeralah aku menyerahkan uang Rp 25 ribu kepada Malikin, seorang bocah berumur sekitar 15 tahun yang menjaga jembatan ini. Menurut penuturan Malikin, sebelumnya ada gondola sederhana dari kayu untuk menyeberang ke Pulau Kalong.

Warga menggunakannya untuk memancing. Setelah itu, gondola tersebut diganti menjadi jembatan atas gagasan warga sekitar. Dan jadilah jembatan gantung seperti sekarang ini.

Nah, sekarang saatnya aku mencoba sesuatu yang dinantikan setelah perjuangan panjang. Ku langkahkan kaki kanan seraya mengucap bismillah. "Semoga saja jembatan ini aman, semoga saja tidak terjadi apa-apa," batinku.

Saat berjalan di atas pijakan jembatan berupa kayu-kayu yang dibuat renggang, mulailah timbul rasa deg-deg-ser. Bagaimana tidak, angin menyerbu, menggoyang-goyangkan jembatan, seolah mencoba menyapa dengan cara jahilnya.

Aku berhenti di tengah-tengah jembatan. Menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan. Mencoba menikmati perpaduan birunya laut dan langit, membayangkan betapa kecilnya aku di hadapan alam. Ku arahkan pandangan ke bawah, deburan ombak bersahutan menghantam dasar tebing. Waw perjalanan yang sangat bermakna. Penasaran mau coba?
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED