Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 22 Nov 2018 15:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menyambut Fajar Pertama di Puncak Rinjani

Renky Liniaryadi
d'travelers
Foto 1 dari 5
Saat musim hujan, cukup beruntung bisa mendapatkan cuaca cerah seperti ini.
Saat musim hujan, cukup beruntung bisa mendapatkan cuaca cerah seperti ini.
detikTravel Community - Tak sedikit pendaki yang ingin mencapai puncak Rinjani di NTB. Inilah perjalanan mencapai 1 dari 7 puncak tertinggi Indonesia di awal tahun.

Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat memang tak pernah berhenti memancarkan pesona keindahannya, tak hanya di Asia tapi juga ke seluruh penjuru dunia. Bahkan saat di penghujung tahun 2017 pun banyak yang mencoba menapaki puncaknya yang merupakan salah satu dari 7 puncak gunung tertinggi di Indonesia ini.

Untuk mewujudkan hal itu, setiap pendaki dianjurkan latihan fisik terlebih dahulu agar terbiasa menghadapi medan yang sulit dan cuaca yang ekstrim. Menggunakan peralatan dan perlengkapan standar pendakian gunung pun wajib hukumnya agar nyaman dan untuk mengurangi resiko cedera saat perjalanan.

Rinjani, setidaknya memiliki empat jalur pendakian, namun yang direkomendasikan  oleh Taman Nasional hanya dua, yaitu Senaru dan Sembalun. Saat itu, saya ingin mencoba mendaki melewati jalur Senaru, namun menurut info yang beredar, ada beberapa titik longsor di jalur tersebut dan membahayakan, maka dari itu dialihkan melalui Sembalun Lawang.

Pagi itu para porter atau pengangkut barang sudah siap dengan barang tamunya masing-masing. Untuk mendaki Rinjani memang tidak mewajibkan menggunakan jasa porter, tapi sangat dianjurkan, karena untuk meringankan beban barang bawaan pribadi, juga sebagai penunjuk jalan. Jadi selama perjalanan, porter akan mendampingi dan memantau para tamunya serta memasak perbekalan saat tiba di tempat camp.

Berbeda dengan jalur Senaru yang memiliki medan hutan yang lebat, di jalur Sembalun, sejauh mata memandang kita akan disuguhi sabana yang sangat luas sekali seperti di New Zealand. Hadirnya sapi-sapi khas Bali yang berkeliaran mencari rumput juga menambah keunikan sendiri bila melewati jalur ini.

Perjalanan dari desa terakhir menuju tempat bermalam di Pos 3 ditempuh selama sekitar 4 jam. Di sini kita bisa beristirahat memulihkan tenaga untuk menghadapi jalur yang semakin menanjak keesokan harinya. Setidaknya, masih tersisa 2 pos lagi yang akan dilewati sepanjang jalur Sembalun. Di setiap posnya memiliki shelter yang bisa digunakan untuk berteduh. Tapi jangan sampai mendirikan tenda di dalam shelter yah, karena akan mengganggu pendaki lain yang juga ingin berteduh.

Selepas Pos 3, kita akan menghadapi 7 Bukit Penyesalan yang sangat panjang dan diakhiri di Plawangan Sembalun yang berupa punggungan panjang tempat camp terakhir sebelum puncak. Dari sini kita bisa melihat indahnya Danau Segara Anak dan juga jalur menuju puncak yang sangat terjal.

Mendaki di musim hujan memang penuh resiko. Pakaian yang basah terkena air hujan bisa menyebabkan suhu tubuh turun secara drastis. Maka dari itu, jika sudah sampai campsite harus segera mengganti pakaian dengan yang kering dan tetap mengenakan jaket untuk melindungi dari terpaan angin.

Sambil menunggu matahari terbenam di balik indahnya Danau Segara Anak, saya minum satu sachet Tolak Angin. Meskipun kecil, Tolak Angin sangat berkhasiat mengatasi masuk angin, mengatasi mual, dan menghangatkan badan. Jadi kita bisa langsung tidur nyenyak hingga Summit Attack nanti.

Summit Attack adalah istilah yang biasa digunakan pendaki untuk melakukan pendakian ke puncak, biasanya dilakukan tengah malam, karena agar bisa menyaksikan matahari terbit dari puncak.

Malam itu adalah malam pergantian tahun ke 2018. Tidak ada keriuhan seperti di kota. Semua pendaki yang datang sangat menghargai ketenangan, karena itulah yang dicari saat mendaki gunung, sehingga tidak mengganggu satwa di sekitar.

Waktu menunjukkan pukul 01.30 WITA. Saya dan tim sudah siap untuk Summit Attack menuju titik 3726 mdpl. Tak lupa kami melakukan pemanasan terlebih dahulu agar tidak kram dan mengecek perbekalan. Sebelum mulai, saya minum Tolak Angin kembali untuk menjaga daya tahan tubuh. Karena menurut penuturan pendaki yang baru turun, tiga hari yang lalu di puncak mengalami badai, sehingga banyak yang gagal sampai puncak. Semoga cuaca malam ini lebih bersahabat.

Saat Summit Attack, semua barang bawaan ditinggal di Plawangan Sembalun agar lebih ringan saat mendaki. Untungnya saat itu kami membawa porter, jadi merekalah yang menjaga barang-barang yang berada di tenda. Perlengkapan yang dibawa saat ke puncak hanya tas kecil yang berisi air minum, makanan ringan, jas hujan, obat-obatan, senter, dan kamera.

Perjalanan dari Plawangan Sembalun ke puncak Rinjani membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam. Saat berada di punggungan yang menanjak, angin berhembus dengan kencang dari sebelah kiri, maka dari itu kita harus agak menunduk dan condong ke depan agar tidak terbawa dan terhempas ke jurang yang menganga di kedua sisi.

Penggunaan trekking pole sangat berperan sekali di medan yang berbatu kerikil ini agar bisa menopang tubuh. Malam itu kabut tebal datang silih berganti yang menyebabkan pandangan sangat terbatas. Ketika berada di ketinggian dengan oksigen yang tipis, saya harus tetap tenang mengatur napas dan menjaga jarak dengan rekan lainnya agar tidak jauh.

Sempat juga isi perut ini bergejolak. Tapi untungnya angin di dalam perut bisa keluar dengan tenang melalui mulut. Menurut saya, hal itu adalah salah satu kenikmatan saat mendaki gunung, karena itu artinya kita sehat bisa melepaskan beban dalam tubuh.

Setelah berjuang keras, tak lama kemudian sang fajar pun menampakkan sinarnya di balik awan. Ini adalah cahaya matahari pertama yang saya lihat di tahun 2018. Kehangatannya membuat saya terharu, semakin banyak bersyukur bisa berhasil mencapai puncak Rinjani dan mengalahkan ego diri sendiri.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED
20Detik

Kata Mereka soal Trans Snow World Bekasi

Minggu, 24 Mar 2019 15:20 WIB

Trans Snow World yang terletak di Trans Park Juanda, Bekasi memiliki wahana seperti area snow play, chair lift, zord ball dan ski. Apa pendapat pengunjung?