Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 02 Des 2018 09:47 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Keajaiban Sunrise Bromo yang Tiada Habisnya

Tri Wahyuni
d'travelers
Foto 1 dari 5
Kawah Bromo
Kawah Bromo
detikTravel Community - Keindahan dan keajaiban momen matahari terbit di Bromo seperti tidak ada habisnya. Ribuan wisatawan datang silih berganti menyaksikan sunrise dahsyat ini.

Bagi sebagian orang yang berwisata ke Kota Malang pasti destinasi tujuan yang satu ini sudah tak asing lagi. Destinasi yang menjadi favorite wisatawan ini memang menyuguhkan panorama alam yang sangat indah.

Tak heran jika destinasi ini pernah dinobatkan sebagai wisata dengan panorama terbaik se-Asia. Yap guys, pasti sudah pada bisa menebaknya? Bromo.

Bromo merupakan salah satu gunung api yang masih aktif yang berada dikawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Gunung Bromo terletak di antara 4 kabupaten yaitu Kabupaten Malang, Probolinggo, Pasuruan, dan Lumajang. Bromo punya ketinggian sekitar 2392 mdpl.

Berjarak sekitar 4jam dari pusat Kota Malang. Untuk mencapai lokasi ini sahabat traveler bisa lewat dari jalur Tumpang  Kabupaten Malang, Nongkojajar Kabupaten Pasuruan atau dari Cemoro Lawang, Probolinggo.

Akan tetapi kali ini aku memilih lewat jalur Tumpang, Kabupaten Malang. Pada pertengahan tahun lalu aku dan ketiga temanku mengunjungi Gunung Bromo dengan jalur Tumpang Malang.

Bagi kalian yang ingin mengunjungi Gunung Bromo bisa menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa jeep. Yang harus diperhatikan adalah kondisi kendaraan harus dalam keadaan fit ya sahabat traveler, karena jalan yang akan kita lalui adalah jalanan yang menanjak dan nanti juga akan melewati padang pasir.

Setelah satu jam berkendara kami memasuki kawasan perkebunan warga. Banyak tanaman yang ditaman disana, mulai dari sayur-mayur sampai dengan apel. Suasananya sangat sejuk dan oke banget kalau difoto. Lelah kami pun terbayarkan.

Kami sempat beristirahat di sebuah pos yang letaknya di Desa Ngadas. Desa Ngadas ini merupakan desa tertinggi yang ada di Kabupaten Malang. Berada di Kecamatan Poncokusumo, penduduk Desa Ngadas ini merupakan Suku Tengger yang sebagian besar mata pencaharian sebagai petani.

Aroma budaya dan tradisi sangat kental terasa. Hawa sejuk kian lama berubah menjadi dingin, kami pun segera merapatkan jaket yang kami kenakan. Namun karena angin yang berhembus cukup kencang membuat perutku sedikit krengki, sesekali bersendawa. Wah, ini masuk angin!

Untungnya setiap kali perjalanan aku selalu sedia Tolak Angin. Selain rasanya yang enak, Tolak Angin juga ampuh mengatasi masuk angin, terutama saat di perjalanan seperti ini. Setelah minum Tolak Angin dan dirasa kondisi sudah mulai fit, kami pun melanjutkan perjalanan.

Jalanan semakin menanjak, melewati bukit dan curam. Sahabat traveller harus benar-benar mahir dalam mengendarai kendaraan. Salah sedikit bisa fatal.

Setelah bersusah payah akhirnya sampailah kami di pos penjagaan atau pos masuk kawasan TNBTS. Orang menyebutnya 'Jemplang'. Dari atas Bukit Jempang pemandangan menajubkan tersuguhkan. Hamparan gurun pasir yang luas seperti lautan pasir, dipadu dengan savana yang hijau, sungguh buat kita terperanga melihatnya.

Setelah mengambil beberapa foto dan membayar tiket masuk TNBTS, kami mulai menyusuri jalanan turun menuju padang pasir Bromo. Tiket masuk TNBTS adalah Rp 22.500 untuk weekday dan Rp 27.500 untuk weekend.

Setelah melewati jalanan yang ekstrem, sekitar pukul 16.00 kami mendirikan tenda. Kami mencari lokasi yang paling tepat agar tidak terlalu diterpa angin. Ketika malam tiba, langit sangat cerah, kami dapat melihat gugusan bintang. Hawa dingin dan kabut tipis mulai menyapa kami.

Untung sudah minum Tolak Angin kemarin, jadi gak bakal bisa deh si dewa angin nyerang aku lagi. Tolak angin ini emang ampuh banget sih buat ngilangin yang namanya masuk angin, capek perjalanan atau pada saat merasa kedinginan seperti ini. Pokoknya wajib deh dimasukkin pada list perlengkapan perjalanan sahabat traveler.

Keesokan harinya sekitar pukul 05.00, kami bangun dan segera bergegas menyiapkan perlengkapan foto kami. Kita akan hunting sunrise. Beruntungnya lokasi camp yang kami pilih sangat tepat sehingga kami tak perlu jalan jauh untuk menyaksikan matahari keluar dari persembunyiannya.

Sang fajarpun mulai menampakkan dirinya. Semburat jingga terlukis sempurna, sumpahh indah banget. Ditambah sesekali terdengar cuitan burung yang beterbangan bebas di atas kami, lengkap membuat suasana pagi itu menjadi pagi yang sempurna.

Bromo memang terkenal dengan atraksi sunrisenya. Banyak wisatawan baik wisatawan lokal maupun mancanegara jauh-jauh hanya untuk menyaksikan sunrise Bromo ini. Jajaran pegunungan yang ada di kawasan ini semakin membuat kesan eksotis untuk Gunung dengan jumlah wisatawan terbanyak setiap tahunnya.

Tak mau ketinggalan momen kami langsung deh jepret-jepret. Selain itu Gunung Bromo juga identik dengan lautan pasirnya. Dengan luas sekitar 5.920 ha.Lautan Pasir Bromo merupakan kawah atau kaldera dari gunung purba Tengger yang meletus, kebayangkan betapa gedenya gunung purba tengger kalau kawahnya aja seluas itu.

Lautan pasir ini disebut juga pasir berbisik karena jika terkena angin pasir ini akan beterbangan dan menimbulkan suasa seperti bisikan lirih. Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi lautan pasir ini adalah pada musim kemarau, karena pasirnya sedang dalam kondisi kering sehingga tidak banyak debu dan tentunya pemandangannya sangat indah.

Di lautan pasir ini banyak sekali wisatawan yang berfoto-foto ria. Tak jarang lautan pasir ini dijadikan lokasi pre wedding atau lokasi pemotretan. Disamping lautan pasir juga terdapat savana Bromo yang juga tak kalah indah.

Tak afdol rasanya ke Bromo jika tidak melihat kawah Gunung Bromo. Namun untuk mencapai kawah Bromo tidaklah mudah, kami harus menaiki ratusan anak tangga dan berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Ya mungkin karena waktu yang kami pilih weekend kali ya jadi ramai pengunjung.

Nafas udah ngos-ngosan tapi puncak masih jauh, butuh perjuangan. Setelah sekitar 30 menit mendaki akhirnya sampai lah kami di kawah gunung Bromo. Kepulan asap masih terlihat, tandanya gunung ini masih aktif.

Beberapa turis mancanegara terlihat di sana. Mereka sedang asyik mengabadikan foto. Sekitar 10 menit di atas puncak kawah Gunung Bromo aku mengajak yang lain turun, bukan karena apa. Tapi aroma belerang yang menyengat membuat aku mulai pusing.

Selain itu atraksi yang bisa dinikmati ketika di sekitaran kawah Gunung Bromo ini adalah sahabat traveller bisa menaiki kuda hanya dengan bayar sekitar Rp 30.000.

Tak hanya itu jika waktunya tepat sahabat bisa menyaksikan upacara adat yang dilakukan oleh suku Tengger. Di sini juga terdapat pura yang biasa digunakan masyarakat suku tengger untuk ritual, khususnya pada saat upacara Yadna Kasada.

Upacara Yadna Kasada ini merupakan upacara tradisi masyarakat suku tengger yang dilakukan bertepatan dengan bulan purnama pada bulan kesepeluh penanggalan hindu. Upacara ini digelar sebagai bentuk syukur atas berkah yang diberikan kepada masyarkat suku tengger. Pada saat puncak acara mereka melakukan sedekah bumi dengan melemparkan hasil panen atau hewan ternak ke kawah Gunung Bromo.

Setelah puas menikmati seluruh spot di kawasan Gunung Bromo, Kami langsung tancap gas untuk kembali kerumah. Perjalanan kali ini sangat menyenangkan, karena memberikan pengalaman baru kepada kami.

Perpaduan antara keindahan alam dan kearifan budaya di kawasan Gunung Bromo membuat perjalanan kali ini terasa istimewa. Bromo dengan segala keindahannya, mampu menyuguhkan atraksi alam yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Jika sahabat d'traveler sedang berkunjung ke Jawa Timur, khususnya kota Malang wajib rasanya untuk mampir sejenak di Bromo. Salah satu pesona Asia yang harus dikunjungi. Jangan lupa sahabat d'traveler untuk selalu menjaga kelestarian alam sehingga anak cucu kita nanti masih bisa menikmatinya.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED