Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 19 Des 2018 10:28 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Bukit Kelam yang Misterius di Kalimantan

Lina Muhikam
d'travelers
Foto 1 dari 5
Bukit setinggi 1.002 mdpl ini adalah ikon dan tujuan wisata utama di Sintang
Bukit setinggi 1.002 mdpl ini adalah ikon dan tujuan wisata utama di Sintang
detikTravel Community -

Bukit Kelam menjadi objek wisata ikonik di Sintang, Kalimantan Barat. Ada kisah yang melegenda terkait asal-usul Bukit Kelam.

Ke Kalimantan Barat, solo traveling kali ini bersama teman dari sebuah komunitas pendaki gunung Kalimantan Barat, Juwita, mahasiswi perantauan yang saat itu sedang menyelesaikan program studi Biologi semester akhir di sebuah universitas di Sintang.

Perjalanan singkat kali ini saya tempuh dari Jakarta dengan lebih dulu transit di Pontianak dan lanjut dengan penerbangan pesawat ATR menuju Sintang selama 35 menit, sebenarnya bisa saja melalui jalur darat dari Kota Pontianak dengan bus atau kendaraan pribadi dengan waktu tempuh kurang lebih 6 jam.

Kami mengunjungi Bukit Kelam di Sintang. Seperti halnya daerah lain yang selalu memiliki kisah khas atau legenda, begitu pun dengan Bukit Kelam ini. Terletak di antara Sungai besar Melawi dan Sungai Kapuas, bukit ini dipercaya merupakan batu yang terjatuh saat dibawa oleh Bujang Beji saat akan memutuskan aliran Sungai Melawi dengan Sungai Kapuas karena iri atas tangkapan ikan oleh penguasa Sungai Malawi, Tumenggung Marubai.

Banyak masyarakat percaya akan legenda tersebut, tapi banyak juga yang meyakini Bukit Kelam ini adalah meteor yang jatuh, dan itu dibuktikan banyaknya peneliti yang datang baik dari dalam negeri ataupun mancanegara.

Berbicara tentang Kalimantan, tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Dayak yang merupakan suku asli Pulau Kalimantan. Adalah Suku Iban, atau Suku Dayak Iban di Kalimantan Barat, Serawak dan Brunei dan Tawau yang kemudian terpecah menjadi beberapa sub suku seperti yang ada sekarang.

Dalam kesempatan kali itu saya sempat mengunjungi rumah Betang di Desa Ensaid Panjang yang terletak di kawasan hutan, 58 km dari ibu kota kabupaten. Saya menemui kelompok ibu-ibu yang sedang melakukan aktivitas menenun.

Satu kain tenun dihargai mulai Rp 50.000 hingga jutaan rupiah per lembarnya. Kain tenun Sintang memiliki banyak keunggulan, bahkan yang terbaik akan disimpan di Museum Kapuas Raya. Corak etnik kedaerahan yang sangat kuat dan khas menggambarkan kehidupan dan kepercayaan masyarakat Dayak, bahkan dahulu sebelum membuat kain tenun diadakan ritual dulu agar hasilnya memuaskan.

Jadi, buat traveler yang ingin jalan-jalan lengkap dalam satu paket, pergilah ke Sintang. Bisa mendaki bukit, lebih kenal dengan warga lokal di Desa Ensaid atau sekadar menikmati sejuknya hutan-hutan di sekitar Kota Sintang yang kecil dan memesona ini.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA