Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 27 Jan 2019 13:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Serambi Mekkah yang Penuh Cerita

Almira Santoso
d'travelers
Foto 1 dari 5
Museum Tsunami Aceh rancangan Ridwan Kamil
Museum Tsunami Aceh rancangan Ridwan Kamil
detikTravel Community - Banyak cerita yang bisa kamu temukan di Aceh. Mulai keindahan pantai, kuliner dan museumnya. Yuk main ke Serambi Mekah.

Jika berbicara tentang tsunami di Indonesia kita langsung teringat dengan bencana Aceh di akhir tahun 2004 silam. Bencana Tsunami besar meninggalkan luka yang dalam bukan saja untuk bangsa Indonesia sendiri, melainkan untuk bangsa di dunia. Banyak negara yang turut menyumbang dan mengulurkan tangan langsung untuk membantu pemulihan Aceh.

Anda sopan kami segan, begitulah kira-kira kata-kata pertama yang terlintas dalam benak saya setiap mendengar nama Aceh disebut. Bermula dari tulisan di tepi pantai yang mengingatkan para wisatawannya untuk menghargai budaya penduduk setempat yang kental dengan nilai agama dan kesopanan.

Bus adalah sarana transportasi yang saya pilih kali ini. Sebenarnya ada juga pesawat langsung menuju Aceh, baik dari Jakarta atau Medan tempat saya tinggal. Hanya saja kami lebih memilih menggunakan bus karena keputusan kami mengunjungi Aceh serba mendadak. Tiket Bus Medan ke Banda Aceh seharga Rp 225 ribu, itu sudah bus VIP, maksudnya sudah ber AC, diberikan selimut, dan duduknya pun nyaman. Formasi duduk 2-2.

Dalam pembelian tiket kita pun diperkenankan untuk memilih tempat duduk. Sekitar jam 9 malam bus pun bergerak dari pangkalannya menuju Banda Aceh. Karena hari sudah malam tidak ada lagi pemandangan yang bisa kami nikmati selama perjalanan, dan kami pun tertidur.Lumayan menghemat uang hotel 1 malam, sampai-sampai sudah pagi dan langsung bisa menikmati kota Banda Aceh. Pukul 8 pagi dan akhirnya kami pun sampai di Banda Aceh. Supir dan mobil sewaan pun sudah menunggu kami di stasiun, dan kami memulai perjalanan kami.


Tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah Kampung Persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok. Kampung ini didirikan sebagai bantuan kepada korban-korban tsunami. Seperti yang telah kita ketahui pada tanggal 26 Desember 2004 silam, Aceh terkena tsunami yang parah dan banyak menelan korban jiwa. Sebagian penduduk di dunia bahu membahu untuk menyumbang meringankan beban para korban tsunami. Salah satunya bantuan datang dari Cina, maka terciptalah kampung persahabatan ini.

Penduduk setempat menamakan kampung ini adalah kampung Jackie Chan, karena sang aktor dan penyanyi ini turut menyumbang pembangunan kampung ini. Kampung ini berada di atas bukit dengan pemandangan gunung dan laut. Rumah-rumah yang d bangun pun sangat rapi dan sangat layak tinggal. Jalanannya pun di aspal sangat rapi.

Matahari sudah dipuncak, kami pun berhenti untuk sekedar makan siang menikmati ayam sampah atau ayam tangkap khas Banda Aceh. Namanya saja sampah mungkin karena tampilannya yang berserakan seperti sampah.Tetapi soal rasa jangan ditanya, lezat dan unik.

Selain itu, Aceh juga terkenal dengan kopinya yang nikmat. Kopi sanger adalah minuman kopi susu khas Aceh. Kuliner yang tidak kalah menarik untuk di coba adalah Sate Matang dan Mie Aceh.Jangan sampai dilewatkan yah kuliner-kuliner ini. Menuju perjalanan ke hotel kami sempatkan untuk singgah melihat salah satu mesjid terbesar di Aceh, yaitu Mesjid Baiturrahman.

Selain itu Masjid Baiturrahman ini juga merupakan salah satu bangunan paling megah di Asia Tenggara. Masjid ini sudah melalui tragedi pembakaran oleh kolonial Belanda tahun 1973 sampai hantaman tsunami tahun 2004. Bangunan Mesjid ini selamat dari hantaman tsunami walaupun terjadi kerusakan di beberapa bagian mesjid. Renovasi pasca tsunami 2004 menelan biaya kurang lebih sekitar 20 Miliar, dananya di dapat berasal dari bantuan dunia internasional.

Besarnya tsunami kala itu turut menyeret kapal PLTD Apung ke daratan,bukan itu saja bahkan ada kapal yang nyangkut di atap rumah warga. Kapal ini setidaknya menyelematkan 59 nyawa penumpang didalamnya. Baik kapal PLTD Apung dan Kapal di atas Rumah  Lampulo ini sekarang menjadi objek wisata tsunami. Sebagai tempat pendidikan bencana serta perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi, Aceh sudah memiliki Museum Tsunami.

Museum ini merupakan rancangan Ridwan Kamil (pada waktu itu beliau belum menjabat sebagai wali kota Bandung, melainkan seorang dosen jurusan arsitektur di ITB) yang berhasil memenangkan perlombaan desain pada sayembara merancang Museum Tsunami Aceh. Museum ini terbuka untuk umum pada 8 Mei 2009 dengan menelan biaya kurang lebih 140 Miliar. Pengunjung yang datang seolah-olah dapat merasakan kejadian tsunami Aceh 14 tahun silam.

Ada satu ruangan yang bernama Space of Sorrow (Sumur Doa), di ruangan ini anda dapat melihat nama para korban tsunami Aceh 2004 silam yang tertera di dinding ruangan ini. Hebatnya bukan saja berfungsi sebagai monumen peringatan,tetapi museum ini juga bisa dijadikan tempat perlindungan jika tsunami datang kembali, Desainnya yang berbentuk bukit, bisa dijadikan lokasi penyelamatan. Atapnya yang landai dimaksudkan untuk bisa menampung penduduk.

Cukup dengan cerita kelam tsunami, mari kita beranjak ke keindahan alam Serambi Mekah. Aceh terkenal dengan pantai yang bersih, indah, dengan garis pantai yang panjang. Kala itu saya hanya sempat mengunjungi Pantai Lampuuk dan Pantai Pasir Putih Lhok Me. Garis pantai yang panjang,pasir yang putih, bersihnya lingkungan membaut saya betah berlama-lama menikmati keindahan alam Serambi Mekkah.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED