Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 23 Agu 2019 15:15 WIB

D'TRAVELERS STORIES

China yang Ternyata Ramah Turis Muslim

MILA MELYCO
d'travelers
Foto 1 dari 5
Foto Bentuk Hati Bersama Sahabat dari China di Depan Masjid Qingjing, Quanzhou, China
Foto Bentuk Hati Bersama Sahabat dari China di Depan Masjid Qingjing, Quanzhou, China
detikTravel Community - Apakah muslim traveler akan sulit berpetualang di China? Ternyata China merupakan negara yang cukup ramah muslim.

Bulan Maret lalu saya dianugerahi trip ke masing-masing enam kota di China dan Indonesia dari Kedubes China di Jakarta. Tidak hanya bersama teman-teman Indonesia, kami juga melakukan perjalanan dengan lebih dari dua puluh delegasi China yang kemudian menjadi sahabat dekat. Awalnya saya kira perjalanan yang memakan waktu 21 hari tersebut hanya akan mengenai tempat yang baru kami eksplorasi, namun ternyata ini juga merupakan perubahan cara pandang kami terhadap China yang tak ternilai harganya.

Sebagai muslim yang lahir dan besar di negara yang mayoritas penduduknya merupakan sesama penganut ajaran agama Islam, sangat mudah bagi saya selama ini mendapatkan fasilitas ramah muslim untuk keperluan sehari-hari. Setiap sekian meter sekali ada masjid untuk beribadah, adzan berkumandang lima kali sehari, daging terjamin diolah secara halal, dan masih banyak lagi.

Namun, bagaimana dengan di China? Apakah semua daging di sana haram sehingga saya hanya bisa makan sayur? Apakah di sana tidak ada masjid? Apakah saya kesulitan beribadah di tempat umum? Tadinya saya pikir begitu, namun ternyata asumsi saya salah semua. Setelah berkeliling ke enam kota di China, saya justru menyimpulkan bahwa China merupakan negara yang ramah muslim!

Selama perjalanan kami di China, pihak panitia selalu membawa kami ke rumah makan halal. Tidak sulit menemukannya karena lambang halal selalu ditempel di tembok depan. Selain itu, sang pemilik juga biasanya memajang sertifikat halal di dalam ruang makan sehingga kami dapat menyantap hidangan dengan perasaan tenang. Setelah bertanya dengan kenalan dari China, proses seleksi untuk mendapatkan sertifikat tersebut tidak mudah, loh!

Ada beberapa tahap yang harus dilewati. Bukan hanya di tempat makan, produk-produk di swalayan juga memiliki logo halal dan selain itu makanan halal juga dapat dipesan secara online melalui aplikasi-aplikasi e-commerce, seperti Taobao. Pengirimannya di China cepat sekali lho, hanya beberapa jam langsung sampai dengan harga sangat terjangkau. Mudah sekali bukan menemukan makanan halal untuk muslim seperti kita?

Fakta yang paling menarik adalah bahwa ada banyak bangunan bersejarah Islam yang dipelihara oleh pemerintah China, seperti The Great Mosque of Xian, The Huaisheng Mosque, Puhaddin Mausoleum, dan lainnya. Pada perjalanan tersebut saya dan sahabat-sahabat baru dari China berkesempatan mendatangi masjid Qingjing di Quanzhou. Masjid ini dibangun dan diperbaiki oleh Muslim Arab, mencerminkan persahabatan dan pertukaran budaya antara China dan negara-negara Arab. Dibangun pada tahun 1009, masjid bergaya Arab ini adalah yang tertua di China.

Fasilitasnya lengkap sekali, tersedia tempat wudhu yang tertutup, tempat salat, monumen-monumen kaligrafi di batu taman, dan lain peninggalan-peninggalan sejarah lainnya. Teman-teman China kami hari itu dengan senang hati menunggu kami beribadah di taman masjid yang nyaman. Bahkan saya berfoto bersama sahabat dari China membentuk hati dengan tangan di depan masjid. Beruntung sekali kami dapat melaksanakan ibadah di tempat bersejarah tersebut.

Karena ibadah tidak harus selalu di masjid, melaksanakan salat lima waktu di tempat umum bukanlah masalah. Berdasarkan pengalaman saya selama di China, cukup tanyakan saja petugas tempat makan atau tempat atraksi sekitar jika di tempat tersebut terdapat ruangan kosong dan air yang mengalir. Mereka akan dengan senang hati menyediakan tempat tersebut tanpa masalah karena 1,8% dari populasi China juga merupakan muslim sehingga ini bukanlah hal baru untuk para petugas.

Bahkan salah satu memori yang paling berkesan adalah saat kami sedang makan malam di kota Fujian. Saat itu pelayan datang untuk menunjukkan atraksi memasak mie, namun salah satu teman kami sedang melaksanakan salat magrib. Pelayan bertanya melalui aplikasi penerjemah bahasa, "Is sister praying? I will wait for here." Kami mengangguk dan pelayan dengan senang hati menunggu. Baru setelah teman saya selesai, pertunjukkan memasak dimulai.

Perjalanan ke China kemarin sangat mengejutkan saya dengan berbagai pengetahuan baru mengetahui potensi industri pariwisata yang ramah muslim. Sekarang giliran saya menjelajahi ibu wisata ramah muslim, yaitu Dubai, kota terpadat di Uni Emirat Arab. Dengan pergi ke Dubai, saya akan dapat mewawancarai wisatawan muslim dan pengelola tempat wisata ramah muslim.

Contohnya, di Jumaerah Beach atau Wild Wadi Water Park, saya akan mecari tahu bagaimana wisatawan-wisatawan muslim tetap dapat menikmati atraksi air sesuai hukum-hukum Islam. Ilmu yang akan saya dapatkan tersebut kemudian akan saya gunakan setelah lulus kuliah beberapa bulan lagi dan bekerja memajukan pariwisata Indonesia bersama perusahaan pariwisata atau Kementerian Pariwisata.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA