Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 29 Mar 2020 14:13 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Setelah Corona Reda, Maukah ke Museum Ini Bersamaku?

Brigida Emi Lilia
d'travelers
Foto 1 dari 5
Bagian depan museum.
Bagian depan museum.
detikTravel Community -

Ada banyak obyek wisata di Kota Solo. Salah satunya Museum Tumurun yang belum banyak dikunjungi. Setelah Corona reda, maukah ke sini bersama?

Di Solo, terdapat museum milik perorangan yang wajib dikunjungi. Museum yang menyimpan berbagai karya seni ini bernama Tumurun Museum.

Tumurun berasal dari kata turun temurun yang artinya mewariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Museum ini dimiliki oleh Iwan Kurniawan Lukminto yang juga adalah pemilik dari PT Sritex.

Terletak di Jalan Kebangkitan Nasional No 8 Surakarta, museum nampak seperti rumah biasa. Seperti namanya Private Museum, koleksi di sini seluruhnya merupakan milik pribadi Iwan Kurniawan Lukminto yang juga diwarisi dari ayahanda HM Lukminto.

Pengunjung yang ingin datang ke tempat ini harus mendaftar terlebih dahulu dan memilih jadwal yang sesuai dengan waktu yang ada. Setiap hari jumlah pengunjung dibatasi.

Setelah mendapat jadwal, pengunjung bisa datang ke lokasi dan melapor kepada petugas di tempat. Sekedar informasi, untuk berkunjung ke sini pengunjung tidak dibebankan biasa masuk alias gratis.

Sebelum memasuki museum, pengunjung akan diberi arahan singkat mengenai peraturan yang ada di sini. Ada beberapa peraturan seperti tidak boleh menyentuh karya, tidak boleh memotret dengan lampu kilat.

Setelah diberi arahan, pengunjung dimohon untuk meninggalkan barang bawaan di meja yang telah disediakan dan hanya diperbolehkan membawa kamera ataupun telepon genggam. Kemudian pengunjung dipersilahkan berkeliling, ada pemandu yang mendampingi dan siap menjawab pertanyaan.

Museum ini terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama berisi karya seni kontemporer, sedangkan di lantai kedua berisi karya modern art dari seniman terkenal yang sudah meninggal. Pengunjung umum hanya boleh berkeliling di area lantai 1.

Setiap karya seni yang ada memiliki barcode berisi keterangan seniman yang membuat, lengkap dengan bahan yang digunakan, maksud karya seninya, serta media yang digunakan. Barcode ini dapat discan meggunakan telepon genggam.

Salah satu karya yang luar biasa adalah lukisan karya Eddy Susanto berjudul 'melencolia'. Lukisan berukuran 300x 200 cm ini dibuat dengan menggunakan aksara jawa.

Waktu 1 jam yang disediakan pengelola rasanya kurang, berkeliling dari satu karya ke karya lain, menyimak penjelasan pemandu yang menarik serta mengamati karya seni yang dibuat dengan ketrampilan, waktu yang cukup panjang dan nilai seni tertentu sungguh merupakan pengalaman yang mengasyikkan.

Di pintu keluar pemandu berpesan jika masih ingin melihat -lihat silahkan datang kembali, karena secara berkala koleksi yang dipamerkan juga diganti dengan koleksi lain yang dimiliki pemilik.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA