Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 06 Sep 2019 15:43 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Istanbul yang Eksotis

Mahyuddin
d'travelers
Foto 4 dari 5
detikTravel Community - Istanbul memang eksotis. Kota ini jadi pintu gerbang untuk menjelajahi Turki. Nikmatilah segala peninggalan sejarah yang ada di sini.

30 November 2018


Penerbangan kami pada perjalanan ini menggunakan Saudi Arabian Airlines (bertolak dari Jeddah usai umrah). Cukup menyenangkan. Tersedia musala di bagian belakang bagi yang kurang nyaman salat sambil duduk. Tidak banyak pesawat yang menyediakan musala seperti ini.

Menu makanan yang disediakan beragam (ala Arab dan Turki), alhamdulilah cocok di lidah saya. Selain flight entertainment(film, musik, permainan, dsb), majalah, dan airshop, tersedia juga fasilitas koneksi internet.

Ada yang berbayar cukup mahal, ada pula yang gratis (sebatas chat dengan iMessage, Whatsapp, dan Messenger). Bagi saya, opsi gratis sudah cukup memadai (untuk tidak mengatakan cekak).

Jeddah-Istanbul ditempuh sekitar empat jam penerbangan, melintasi Mesir dan Laut Mediterrania. Terbang petang usai magrib dari Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, tiba di Bandar Udara Internasional Istanbul Ataturk (Ataturk Havalimani) menjelang tengah malam.

Hembusan hawa dingin langsung menyergap kala pintu pesawat terbuka. Saat itu, adalah awal musim dingin di Eropa, termasuk di Istanbul. Setiba di bagian kedatangan, sembari menunggu bagasi, kami disambut pemandu lokal, Ismail, yang ternyata cukup fasih berbahasa Indonesia.

Katanya, dia pernah mengikuti pelatihan khusus di Jogjakarta sekitar tiga bulan. Usai urusan imigrasi, kami langsung menuju ke hotel Ramada, tempat kami menginap selama tiga malam nantinya.

1 Desember 2018

Usai sarapan di Hotel Ramada, kami langsung menuju ke kompleks Istana Topkapi. Topkapi merupakan istana tempat tinggal para sultan dan keluarga kesultanan Turki Utsmani selama hampir 400 tahun (1465-1860) sebelum akhirnya pindah ke istana Dolmabache. Sultan/Khalifah Usmani terakhir yang menempati istana ini adalah Sultan Abdul Majid I.

Istana kesultanan yang dibangun atas instruksi Muhammad Al-Fatih (Mehmed II) ini berada di atas bukit, dengan pemandangan laut Marmara dan selat penghubung Benua Asia dengan Eropa: Bosphorus. Luasnya sekitar 700 ribu meter persegi dengan benteng sepanjang sekitar 5 km yang mengelilinginya.

Gerbang ikonik bak puri istana negeri dongeng sungguh menawan. Kami memasukinya melalui gerbang utama bertuliskan kalimat tauhid.

Bila berkunjung ke sini saat musim dingin, pastikan memakai jaket tebal dan kaus tangan. Saat awal musim dingin, salju belum turun, tetapi suhu 3 derajat terasa sangat dingin bagi saya yang terbiasa dengan iklim tropis (dan tentu saja terheran-heran melihat beberapa turis yang memakai pakaian celana pendek dan baju kaus tanpa lengan). Nantinya, tempat yang paling sering saya masuki adalah Bay & Bayan adirvan (baca: toilet).

Di salah satu bagian Istana Topkapi, ada bangunan yang baru ditambahkan di masa Sulayman Al-Qanuniy. Namanya Menara Keadilan, dapat disaksikan dari berbagai penjuru Istanbul, sebagai simbol keadilan yang ditegakkan dengan kokoh. Banyak pejabat yang lalai menjaga amanah, dihukum di bawah menara ini, disaksikan khalayak ramai.

Persis sebulan usai menghapuskan institusi Khilafa hUtsmani, Kemal Ataturk mengeluarkan dekrit 3 April 1924, yang salah satu isinya mengakhiri sejarah Topkapi sebagai istana, mengubahnya menjadi museum. Hanya saja, larangan menggunakan kamera membuat saya tidak leluasa memotret isinya. Yang berminat dengan museum ini, bisa mendapatkan informasi lebih lanjut di situs resminya.

Di luar istana, terdapat pemandangan obelisk yang unik. Obelisk ini mula-mula dibangun oleh Thutmose III (1479-1425 SM) di bagian selatan dari pilon ke tujuh Kuil Besar Karnak. Kaisar Romawi, Konstantius II (337-361) memindahkannya bersama obelisk lainnya melalui sungai Nil menuju Aleksandria untuk memperingati ventennalia-nya (20 tahun tahtanya) pada tahun 357.

Obelisk Theodosius masih berada di Aleksandria sampai tahun 390, ketika Theodosius I (379-395) memindahkannya ke Konstantinopel dan menempatkannya di spina Hippodrome. Hipodrom Konstantinopel merupakan pusat sosial dan olahraga di Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Bizantium. Saat ini, tempat ini merupakan lapangan yang dinamakan Sultan Ahmet Meydan(Lapangan Sultan Ahmet) dengan beberapa fragmen dari struktur aslinya yang masih lestari.

Destinasi yang tidak boleh dilewatkan adalah Masjid Sultan Ahmed(Sultan Ahmet Camii) dikenal juga dengan nama Masjid Biru. Pada masa lalu, interiornya memang berwarna biru. Hanya saja, cat biru tersebut dianggap bukan bagian dari dekorasi asli sehingga saat ini sudah dihilangkan.

Dirancang oleh arsitek Sedefhar Mehmet Aga dan selesai dibangun pada tahun 1616, masjid ini mempunyai 6 menara yang menjulang tinggi, dengan daya tamping sekitar 10 ribu jamaah. Pada 1985, UNESCO menetapkannya sebagai salah satu situs warisan dunia sebagai bagian dari area historis Istanbul.

Destinasi berikutnya adalah Hagia Sophia. Bangunan yang berarti kebijaksanaan suci ini dulunya merupakan gereja di masa Kekaisaran Bizantium. Usai penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih, tempat ini dialihfungsikan menjadi masjid dengan menutup berbagai ornamen peninggalan kristiani sebelumnya.

Selanjutnya, pada 1936, Kemal Ataturk mengubahnya menjadi museum. Saat kunjungan Desember tahun lalu, renovasi masih berlangsung di beberapa bagiannya.

Perjalanan hari ini ditutup dengan kunjungan ke salah satu pusat penjualan oleh-oleh di sekitar kompleks Topkapi dengan produk unggulannya teh safron dan cemilan khas Turki.

2 Desember 2018

Pada hari kedua, Panorama 1453 Tarih Muzesi menjadi tempat pertama yang kami tuju. Museum yang didedikasikan untuk mengabadikan momen penaklukan Konstatinopel ini berisi berbagai monument dan karya seni seputar peristiwa tersebut. Di bagian puncaknya, ada lukisan 360 derajat berisi ilustrasi penaklukan itu.

Konon, ratusan pelukis yang mengerjakan proyek tersebut masing-masing menggambar wajah mereka dalam lukisan tersebut. Jangan lupa menengok ke atas (bila jeli, siluet wajah sang penakluk, Muhammad Al-Fatih, dapat terlihat di antara awan-awan yang berarak.

Usai dari museum tersebut, tak lupa kami mampir menikmati beberapa kuliner ringan khas Istanbul, seperti Turk kahvesi, cay, salep, sutlu kahve, dan sicak cikolata (murah meriah, hanya sekitar 1 TL untuk masing-masingnya). Makan siang hari ini seluruhnya menu Turki di restoran Buhara 93.

Ternyata kebab turki di sini cukup berbeda rasanya dengan kebab turki yang biasa saya nikmati (hasil modifikasi alafranchisedi Indonesia lebih kaya rasa).

Tak lupa, kami mengikuti tur singkat menyusuri Selat Bosporus. Selat ini memisahkan Turki ke dua benua yang berbeda: Asia di sebelah timur dan Eropa di sebelah barat. Bosphorus juga menghubungkan Laut Marmara di sebelah selatan dengan Laut Hitam di utara. Selat kecil ini membentang sejauh 30 km (dengan lebar maksimum 3,7 km di bagian utara dan minimum hanya 750 m di antara dua benteng Utsmani: Anadolu Hisari dan Rumeli Hisari).

Pada 1453 lalu, selat ini menjadi saksi tumbangnya benteng legendaris Konstantinopel milik Imperium Romawi Byzantium. Di salah satu bagiannya (di area yang dikenal sebagai Golden Hornatau Semenanjung Tanduk Emas) pernah dipasangi bentangan rantai yang amat kuat yang menghalangi masuknya kapal tak berizin.

Armada Al-Fatih kala itu juga tidak mampu menembusnya; sampai akhirnya Sultan Penakluk itu mengambil sebuah strategi gemilang yang melegenda: menaikkan puluhan kapalnya melintasi jalur darat dalam semalam, alih-alih menerobos rantai di Golden Horn.

Setelah puas menikmati senja di Selat Bosporus, kami menuju ke Masjid Raya Sulaiman (Suleymaniye Camii), masjid terbesar kedua di Istanbul. Masjid ini merupakan salah satu bangunan peninggalan Turki Utsmani, yang dibangun pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni (Suleyman The Magnificent) dengan Mimar Sinan sebagai arsiteknya (dibangun sejak 1550 hingga 1558). Mimar Sinan merupakan arsitektur terkemuka diTurki.

Kami juga mampir di Masjid Abu Ayyub Al-Anshari, sahabat Nabi Muhammad SAW yang wafat di Turki. Konon, sebelum wafatnya, dia pernah berpesankepada Yazid bin Muawiyah, penguasa Bani Umayyah saat ini, untuk dimakamkan di Konstantinopel.

"Aku mendengar baginda Rasulullah SAW mengatakan bahwa seorang lelaki soleh akan dikuburkan di bawah tembok tersebut & aku juga ingin mendengar derapan tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik pemimpin yang memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda." ujarnya.

Kelak, ratusan tahun kemudian, derapan tapak kaki kuda pemimpin dan pasukan terbaik itu benar-benar datang menaklukkan Konstantinopel.

3 Desember 2018

Sebelum kembali ke tanah air, kami berkunjung ke Kapalçar, (bazar tertutup) diIstanbul. Ini merupakan salah satu pasar tertutup yang terbesar dan tertua di dunia. Konstruksinya dimulai di masa Muhammad Al-Fatih (MehmedII) pada 1455.

Terdapat lebih dari 3000 toko di kompleks ini. Sayangnya, saya cukup terganggu dengan ungkapan salah satu warga lokal "barang di sini mahal-mahal tetapi banyak yang palsu". Berhubung kepagian datangnya, jadilah kami menunggu hingga pintunya terbuka pukul 10.00 pagi. Usai berbelanja beberapa buah tangan, kami pun menuju bandara. Kendati hanya beberapa hari, pengalaman yang diperoleh sungguh berkesan.

Trip ke berbagai tempat yang eksotik amat baik bagi kesehatan fisik dan mental. Berinteraksi dengan berbagai budaya yang beragam akan membuat kita semakin menghargai dan menghayati indahnya kebhinekaan. Berbincang dengan penduduk dunia dengan bahasa yang berbeda sungguh merupakan pengalaman yang berharga, tak ternilai; bahkan sekadar saling tersenyum saja sudah amat berarti. Senyum, tentu saja, merupakan bahasa universal yang bisa kita pahami bersama, bukan?

Dan Dubai di Uni Emirat Arab, negeri gurun pasir antah-berantah yang terkenal dengan aneka keunikannya: arsitektur menakjubkan, gedung pencakar langit tertinggi, proyek reklamasi dan pulau-pulau buatannya yang sukses, armada kepolisian dengansupercar(cepat dan mewah), lapangan golf yang membutuhkan jutaan galon air setiap harinya agar tetap hijau, taman bunga terbesar di dunia, tingkat kriminalitas yang konon mencapai 0%, dan masih banyak lagi, semoga menjadi destinasi berikutnya, insya Allah.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA