Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 16 Okt 2019 10:55 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Gedung di Surabaya Ini Dulunya Tempat Dansa Dansi Meneer & Mevrouw

arief kas
d'travelers
Foto 1 dari 5
bangunan utama yang tampak megah
bangunan utama yang tampak megah
detikTravel Community -

Pada zaman kolonial Belanda, beberapa kota besar memiliki gedung megah yang berfungsi sebagai ballroom atau tempat dansa dansi. Jakarta punya Gedung De Harmonie Societeit yang sangat megah, tapi kini sudah dirobohkan pascakemerdekaan dan alih fungsi. Tapi di Surabaya masih ada gedung tua megah dan sarat sejarah yaitu De Simpangche Societeit, atau Gedung Balai Pemuda Surabaya.

Lokasi De Simpangche Societeit, yang dibangun pada tahun 1907, tepat berada di samping gedung Gubernuran dan berada di simpang empat kota Surabaya, Simpangstraat. Di zaman kolonial dulu gedung ini hits sebagai tempat rekreasi para Meneer (tuan) dan Mevrouw (Nyonya). Di sini mereka bisa bertatap muka, saling tukar informasi, berpesta ria, dansa dansi dan bahkan bermain bowling.

Sejak didirikan, gedung ini sudah menjadi salah satu ikon bagi Kota Surabaya. Gedung ini dibangun Westmaes, salah seorang arsitek yang terkenal di Surabaya pada saat itu. Bentuk kubah sebagai atap adalah ciri aliran gothic. Gevel dan bracket yang membungkus kubah tersebut adalah warisan gaya vernakuler Belanda, sedangkan alur horizontal pada dinding kerap muncul pada aliran Renaissance. Wetmaes rupanya memilih gaya eklektisme untuk merancang bangunan Simpangsche Societeit ini.

Menara pertama merupakan detail yang menjadi bagian yang menonjol, bahkan menjadi ciri khas bangunan ini. Posisinya tepat di tengah bangunan, pas sekali dengan bentuk lokasi site bangunan ini yang berada di pojok jalan. Sedangkan menara kedua berada di dalam bangunan dan tak tampak dari luar. Dahulu atap bangunan yang dalamnya memiliki menara ini menggunakan material kaca. Usai pemugaran, diganti dengan fiber glass. Kubah kedua ini berbentuk prisma segi delapan, yang ditopang oleh tiang-tiang besi.

Pada masa jaya De Simpangche Societeit, hanya warga berkebangsaan Belanda dan Eropa yang hanya boleh masuk ke dalam lokasi. Warga pribumi dilarang keras masuk, kecuali para bangsawan pribumi atau mereka yang memiliki jabatan tinggi. Selain itu, ada pula pengecualian buat para pribumi yang bekerja sebagai pelayan (server) di gedung tersebut.

Pascakemerdekaan, gedung Societeit direbut oleh para pejuang pemuda RI dan empat menjadi markas tentara nasional RI. Gedung bersejarah ini menjadi tempat arek-arek Suroboyo menjadi saksi sejarah pertempuran 10 November 1945 dan juga simbol penghapusan rasialisme kolonial terhadap kaum pribumi.

Sejak tahun 1970-an, gedung bersejarah ini diserahterimakan kepada pemda Surabaya dan dijadikan gedung Balai Pemuda. Gedung ini kemudian menggelar beragam kegiatan kesenian dan menjadi galeri seni.

Kini gedung tersebut tuntas direvitalisasi. Bentuknya semakin cantik dan megah, dengan bangunan utama dicat berwarna putih dengan menara yang tampak elok. Halaman samping diperluas sebagai tempat pertunjukan kesenian. Sementara di bagian dalamnya, arsitektur lama tetap dipertahankan dengan atap kaca di bagian lobi utama yang dulunya kerap dijadikan lokasi berdansa. Pendingin ruangan juga ditambahkan untuk mengurangi udara panas. Surabaya Information Tourist Centre (SITC) pun ikut dibangun. Para wisatawan asing bisa memanfaatkan SITC untuk bertanya mengenai lokasi wisata di kota Surabaya pada khususnya dan propinsi Jawa Timur secara umum.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA