Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 26 Apr 2020 19:17 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Kota Baku yang Sunyi & Sepi, Namun Berkesan di Hati

Andri J Bachtiar
d'travelers
Foto 1 dari 5
Heydar Aliyev Centre
Heydar Aliyev Centre
detikTravel Community -

Ibu Kota Azerbaijan, Baku tak seperti ibu kota negara lainnya. Suasana Baku sangat sunyi dan sepi, namun berkesan di hati. Simak kisahnya berikut ini!

Salah satu dampak yang kita rasakan akibat dari meningkatnya taraf perekonomian masyarakat saat ini adalah penuhnya pengunjung tempat-tempat wisata. Ini tidak hanya kita alami di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

Membeludaknya jumlah wisatawan ini kadang membuat kita sulit untuk mendapatkan foto-foto spesial yang hanya menampilkan kita dan obyek wisata tersebut. Kita harus menanti momen yang tepat pada saat sepi pengunjung, atau kita terpaksa berfoto dengan latar belakang penuh wisatawan-wisatawan lain. Bocor, istilah teman-teman pecinta fotografi.

Selain itu, kondisi ini juga mengurangi kenyamanan kita berwisata. Antrian pada saat masuk, antrian ke toilet, bahkan antrian di tempat makan. Bahkan pernah viral di satu tempat makan pengunjung yang berkelahi karena memperebutkan tempat duduk.

Ini mungkin bisa disiasati dengan melakukan perjalanan wisata tidak pada saat akhir pekan atau hari libur. Tetapi tentunya ini sulit bagi kita yang bekerja rutin sebagai karyawan yang hanya bisa memanfaatkan libur akhir pekan, libur nasional, atau jatah cuti tahunan.

Namun, keramaian wisatawan ini tidak saya temui ketika saya berwisata ke Baku, ibu kota negara Azerbaijan pada pertengahan Oktober 2019 lalu. Mungkin tidak banyak orang yang ingin berkunjung ke Baku, membuat kota ini sepertinya sepi wisatawan.

Selain itu, tidak banyaknya jumlah penduduk di kota yang luasnya tiga kali Jakarta, sementara jumlah penduduknya hanya sepertiga penduduk Jakarta, membuat suasana di kota ini terasa sepi dan lengang.   

Perjalanan dilakukan menggunakan maskapai Emirates Airlines dengan transit sekitar tiga jam di Dubai. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan maskapai Fly Dubai yang memakan waktu sekitar tiga jam untuk mendarat di bandara Heidar Eliyev International Airport, Baku.

Saat akan melewati konter imigrasi, tidak tampak keramaian orang. Saya pikir prosesnya akan cepat. Ternyata, lumayan lama. Petugas Imigrasi memeriksa dengan sangat seksama. Membuka satu persatu halaman paspor, memerhatikan foto di paspor dan membandingkannya dengan wajah asli.

Bahkan menggunakan kaca pembesar-seperti yang digunakan untuk memeriksa berlian-pada saat memeriksa foto di paspor. Saya lihat juga ada beberapa orang yang diminta untuk menunjukkan kartu identitas lain yang ada foto wajah, sepertinya mereka ingin meyakinkan bahwa yang masuk ini adalah orang yang benar.  Istri saya salah satunya. Ia pun memberikan KTP dan SIM.

Saya sendiri tidak mengalami itu. Saat membaca paspor saya, petugas Imigrasi hanya mengajukan satu pertanyaan, "Kamu ada keturunan Iran?"

"Tidak," jawab saya singkat. Mungkin dari nama saya yang ada kata 'syah' membuat petugas ini menerka saya ada keturunan Iran.

Azerbaijan adalah salah satu negara yang merdeka setelah Uni Soviet runtuh. Sebenarnya, pada tahun 1918 Azerbaijan telah memproklamasikan kemerdekaannya dan berdiri menjadi suatu negara merdeka dengan nama Republik Demokrasi Azerbaijan.

Namun pada tahun 1920 Uni Soviet menguasai negara ini dan menjadikannya sebagai salah satu negara bagian. Seiring dengan bubarnya Uni Soviet di awal era 90-an, pada tahun 1991 Azerbaijan kembali memproklamasikan kemerdekaannya.

Heydar Aliyev adalah tokoh yang memimpin proses lepasnya Azerbaijan dari Uni Soviet sehingga dia diangkat sebagai presiden pertama dan menjadi tokoh besar yang sangat dihormati di negara ini.

Namanya diabadikan di beberapa tempat penting seperti bandara di kota Baku dan juga di gedung pusat budaya yang memiliki arsitektur unik yang menjadi salah satu ikon kota Baku.  Saat ini presiden Azerbaijan adalah Ilham Aliyev, anak dari Heydar Aliyev.

Keluar dari bandara Heydar Aliyev International Airport, saya merasa heran. Sepi sekali. Hanya ada turis dari rombongan saya, dan berapa gelintir orang yang lalu lalang. Tak terasa ini adalah ibu kota suatu negara. Bahkan bandara kota-kota yang bukan ibukota propinsi di Indonesia pun terasa lebih ramai.

Di area parkir terlihat taksi-taksi yang bentuknya unik, mirip London Taxi. Saat bis meninggalkan bandara menuju ke pusat kota, pemandangannya sama. Jalanan kosong. Trotoar lowong.

Tanah lapang yang luas tanpa terlihat satu orang pun. Padahal udara sejuk, sekitar 20 derajat Celcius. Mestinya enak untuk beraktifitas luar ruangan. Pusat kota Baku ditempuh dalam waktu sekitar setengah jam saja. Dekat ternyata.

Ganjlik Mall

Mal saat ini adalah salah satu tempat berkumpulnya warga sebuah kota. Oleh karena itu, salah satu hal yang saya lakukan pada saat berada di satu tempat baru adalah mengunjungi malnya. Ganjlik Mall adalah mal yang paling besar di Baku saat ini.

Terletak sangat strategis di pusat kota membuat mal ini penuh oleh pengunjung. Rasa heran saya kembali muncul. Tadi di sepanjang perjalanan dari bandara menuju mal ini, tidak terlihat banyak orang yang berlalu lalang. Tetapi di mal ini, banyak sekali orang.

Ini patut dimaklumi bahwa mal saat ini adalah sentra aktifitas baru untuk masyarakat. Saya perhatikan wajah orang-orang Azerbaijan, bangsa Azery, yang sekilas terlihat seperti orang Arab.

Kulit wajah yang putih, rambut hitam, alis tebal, hidung mancung. Wajah mereka seperti terlalu serius, tidak terlihat senyum yang tersungging di wajah mereka.

Saya perhatikan isi tenant-tenantnya, kebanyakan merek-merek internasional. Tidak jauh berbeda dengan mal di Jakarta. Bahkan saya lihat ada merek fashion yang di Jakarta sudah tidak ada, di Ganjlik Mal ini masih ada. Apakah ini menandakan warga Jakarta lebih update mengenai merek fashion daripada warga Baku? Mungkin saja.

Highland Park

Senja akan berakhir ketika saya dan rombongan tiba di Highland Park. Ini adalah sebuah taman yang berada di lokasi yang agak tinggi dan memiliki pemandangan ke arah laut Kaspia. Tempat yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan yang datang ke Baku, kata pemandu wisata kami.

Laut Kaspia sendiri kadang disebut dengan danau, karena posisinya yang terletak di tengah daratan dan ukurannya sangat luas. Airnya pun asin, seperti air laut.  Kamu akan melihat pemandangan yang sangat indah, demikian ia menyampaikan.  Sebelum tiba di area ini, kami melewati tiga gedung tinggi yang dinamai Flame Towers.

Tiga gedung tinggi yang letaknya berdekatan ini memiliki bentuk seperti nyala api.  Bangsa Azerbaijan memang memiliki kedekatan dengan api, dan bahkan menyebut negeri mereka sebagai The Land of the Fire.

Tampak sebuah masjid saat saya turun dari bis. The Martyrs Mosque namanya, atau hidlr Mscidi dalam bahasa Azerbaijan yang berarti Masjid Para Syuhada. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Turki karena pembangunannya pada tahun 1990 disponsori oleh pemerintah Turki.

Melihat masjid ini mengingatkan saya bahwa Azerbaijan meskipun pernah menjadi bagian dari Uni Sovyet adalah negara dengan mayoritas warganya beragama Islam.

Pemandu wisata mengarahkan kami untuk berjalan ke satu tempat.  "Ayo cepat," demikian katanya. "Ini akan turun hujan. Saya tahu daerah ini. Sebelum hujan datang, kita harus sampai di sana," imbuhnya.

Sekitar lima menit kami berjalan di remang senja yang indah.  Sepi terasa. Hanya ada rombongan kami di tempat ini. Ketika sampai di tempat yang dituju, hamparan pemandangan yang sangat indah ada di depan mata. Panorama yang luar biasa.

Tampak di bawah laut Kaspia dengan teluk yang berbentuk melengkung, terlihat sangat tenang, indah ditemani lampu-lampu beraneka warna. Kami berdecak kagum melihat pemandangan yang sangat indah ini.

Suasana sebagian pinggir pantai kota Baku terlihat jelas.  Pemandu menjelaskan tempat-tempat yang tadi diceritakannya pada saat bis kami menyusuri jalan di sisi pantai kota Baku. Terlihat bangunan-bangunan yang tadi diceritakan oleh pemandu wisata.

Ada satu bangunan berbentuk kelopak bunga yang sedang dalam proses pembangunan untuk menjadi sebuah pusat belanja. Ada juga Baku Eye, ferris wheel raksasa yang bergerak pelan menampilkan keindahannya.

Saya bertanya ke pemandu apakah ada kafe di dekat sini. "Ya ada," jawabnya. "Tetapi kita tidak punya waktu," lanjutnya sambil tersenyum.

Saya membayangkan betapa enaknya minum teh Azerbaijan sambil menikmati suasana yang indah dan damai ini. Tadi di bis pemandu menceritakan bahwa bangsa Azerbaijan sangat menyukai teh, bahkan lebih menyukai teh dari pada kopi. Terbit keinginan untuk mencicipi teh Azerbaijan.

Benar saja, ketika kami sedang sibuk berfoto dengan latar belakang laut Kaspia dan pantai kota Baku yang indah, hujan turun. Kami bergegas menuju ke tempat bis yang sudah menunggu.

Carpet Museum dan Little Venice


Saat tiba di Carpet Museum, rupanya tempat ini sudah tutup.  Kami tidak bisa masuk dan hanya menikmati suasana di area sekitarnya saja. Di dekatnya ada Little Venice yang menjadi tempat wisata kota untuk warga Baku.

Sebuah area yang menyediakan kanal-kanal dan gondola seperti di Venesia yang dapat dinaiki oleh pengunjung untuk mengelilingi area. Itu sebabnya tempat ini dinamai Little Venice. Dari tempat ini malah kami bisa menikmati keindahan permainan cahaya di Flame Towers.

Di malam hari, Flame Towers terlihat indah karena adanya permainan cahaya yang menampilkan bergantian warna dan aneka bentuk. Lagi-lagi, sepi yang terasa membuat suasana di sini terasa sangat berbeda dibandingkan dengan di Jakarta.

Icheri Sheher

Esok paginya, kami ke Icheri Sheher. Dari hotel tempat menginap, hanya sekitar sepuluh menit perjalanan yang dibutuhkan untuk menuju tempat ini, kawasan Kota Tua Baku. Ini adalah kawasan di pusat kota Baku yang telah terbangun sejak abad ke-6 atau ke-7 sebelum Masehi dan telah ditetapkan menjadi salah satu warisan dunia oleh Unesco.

Icheri Sheher menjadi semacam pengingat bahwa Baku adalah kota yang sudah tua. Sejak dulu, Baku adalah daerah yang ramai karena berada di jalur sutera yang menghubungkan dunia Timur dengan dunia Barat, Asia dan Eropa.

Kondisinya seakan dibiarkan kuno. Dikelilingi tembok seperti benteng yang kokoh. Di bagian dalam tembok, terlihat bangunan-bangunan tua dan jalantapak yang dibiarkan berbatu.  Tidak terlalu luas.

Terlihat beberapa kafe dan toko-toko suvenir di sisi jalan yang kami lalui.  Berjalan menyusuri kota tua ini, mengingatkan saya bahwa Azerbaijan adalah negeri tempat lahirnya sastrawan besar Nizami Ganjavi, penulis kisah cinta legendaris Layla dan Majnun.

"Pengunjung berjalan kaki, meskipun sesekali ada mobil yang lewat," kata pemandu kami. "Ini adalah mobil milik warga yang tinggal di kawasan ini," lanjutnya. Ternyata kota tua ini tidak hanya berfungsi sebagai kawasan wisata, tetapi juga kawasan hunian. Sampai sekarang.

Sebenarnya ada banyak tempat-tempat menarik di Icheri Sheher seperti Maiden Tower, Istana Shirvanshah yang bekas istana kerajaan, masjid Juma yang dibangun pada abad 12, dan lain-lain. Keterbatasan waktu membuat saya dan rombongan hanya mengunjungi Maiden Tower saja.

Menara ini dibangun dengan ketebalan dinding mencapai 5 meter. Tingginya 29,5 meter dan memiliki diameter 16,5 meter. Menara ini memiliki banyak kisah yang terkait dengan namanya. Tentunya kisah-kisah ini tidak ada yang otentik.

Satu yang populer yaitu nama Maiden diberikan karena pernah ada seorang putri raja yang masih perawan bunuh diri di tempat ini dengan menerjunkan tubuhnya dari puncak menara karena tidak mau dinikahkan secara paksa dengan pria yang tidak dicintainya.

Pengunjung bisa masuk ke dalam dan naik ke atas menara. Di puncak menara akan terlihat pemandangan kota Baku dan laut Kaspia. Indah tentunya. Di depan menara ini ada maket keseluruhan kawasan kota tua Icheri Sheher.

Kami mendengarkan penjelasan yang cukup detail melalui maket ini dari pemandu mengenai obyek-obyek wisata yang ada di Icheri Sheher. Setelah itu, kami meninggalkan tempat ini dengan terlebih dahulu mampir ke toko Hard Rock Café yang lokasinya sangat dekat dengan kawasan ini.   

Heydar Aliyev Centre


Heydar Aliyev Markazi nama aslinya. Ini adalah komplek bangunan yang menjadi pusat budaya dan digunakan untuk berbagai kegiatan budaya. Di sini terdapat beberapa ruang pameran, museum, perpustakaan, auditorium, toko suvenir, dan cafe.

Gedung ini sangat unik karena dibangun dengan tanpa siku tajam yang diganti dengan lekukan-lekukan. Dirancang oleh arsitek wanita Inggris keturunan Irak, Zaha Hadid. Keunikan bangunan ini menjadikannya sebagai salah satu ikon kota Baku, dan seperti pemandu wisata menjelaskan, wajib untuk dikunjungi.

Terlihat ada beberapa pameran saat saya berkunjung ke sini.  Ada pameran mobil klasik dan pameran seni rupa modern. Suasana sunyi kembali terasa. Jumlah wisatawan yang tidak terlalu banyak membuat pengunjung merasa nyaman. Saya berjalan melihat-lihat benda yang dipamerkan yang menampilkan berbagai karya seniman-seniman Azerbaijan.

Di depan Heydar Aliyev Centre terdapat area yang ada tulisan besar, I Love Baku.  Sebelum ke Heydar Aliyev Centre, kami berhenti dulu di sini untuk berfoto. Berlatar belakang Heydar Aliyev Centre, wisatawan yang datang ke Baku dapat dipastikan akan berfoto di tempat ini.

Karena wisatawan yang datang saat itu tidak terlalu banyak, kami bisa mengatur untuk berfoto dengan mudah. Baik pose sendiri-sendiri, pose berpasangan, atau beramai-ramai. Beda dengan foto di tempat wisata lain yang sulit untuk merancang pose karena penuh wisatawan. Ini rasanya salah satu kenyamanan wisata di tempat yang sunyi dan tidak ramai pengunjung.

Meninggalkan Baku, memberikan kesan yang mendalam untuk saya.  Menyenangkan dan nyaman untuk dikunjungi. Kendala hanya satu yaitu makanan. Karena perjalanan diatur oleh biro wisata setempat, kami selalu makan di restoran yang menyediakan menu Azerbaijan.

Sangat sulit bagi lidah orang Indonesia untuk menikmati makanan-makanan ini, meskipun daging domba adalah menu utamanya. Dolma, salah satunya. Berbentuk seperti lemper, daun pembungkusnya bisa dimakan.

Isinya campuran daging domba, bawang bombay, nasi, kacang polong dan rempah-rempah, dibungkus daun anggur segar yang dimasak. Ada rasa aneh dan kadang bau daging domba masih menyengat membuat sulit bagi kami, tidak hanya saya, untuk memakannya.

Atau Balgabag Shorbasi, sup labu. Selalu disediakan sebagai menu pembuka, tapi selalu kami hanya mencicip sedikit dan membiarkannya. Sayang memang.

Masih terbayang pemandu kami di satu restoran berkata sambil menunjuk mangkuk sup labu. "Ini enak sekali. Try it, try it," dengan logatnya yang khas.

Di satu restoran, kami disuguhi Plov. Nasi yang dimasak bersamaan dengan daging domba. Sempat terbayang enaknya. Tapi setelah disajikan tercium bau domba yang menyengat, saya memilih untuk memakannya bersama dengan abon sapi yang kami bawa dari tanah air.

Lain kali kalau ke ada kesempatan ke Azerbaijan lagi, untuk urusan makan akan saya atur sendiri saja karena gerai-gerai fastfood internasional banyak tersedia. Semoga ada kesempatan untuk mengunjunginya lagi. Baku yang sepi, namun berkesan di hati.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA