Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 26 Nov 2019 10:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menyusuri Lorong Waktu di Dubai Museum

Renky Liniaryadi
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pintu masuk Dubai Museum yang merupakan Benteng Al Fahidi.
Pintu masuk Dubai Museum yang merupakan Benteng Al Fahidi.
detikTravel Community -

Dubai dikenal sebagai kota modern nan megah. Hanya siapa sangka dulunya Dubai adalah wilayah tandus dan sulit perekonomiannya. Sejarahnya ada di Dubai Museum.

Saat berkunjung ke suatu negara, tak lengkap rasanya jika tidak mengetahui sejarah dari negara atau kota tersebut. Dari mengetahui tentang sejarahnya, kita mendapatkan gambaran masa lalu dan perbandingannya pada masa sekarang. Kota Dubai memiliki sejarahnya tersendiri, sejak ditemukannya sumber minyak hingga menjadi kota maju dan menjadi andalan perekonomian serta pariwisata di Uni Emirat Arab.

Semua informasi tentang sejarah tersebut bisa kita dapatkan di Dubai Museum. Awalnya museum ini dulunya adalah sebuah benteng yang bernama Al Fahidi, lalu pada tahun 1971 diubah menjadi museum.

Menyusuri pintu masuknya kita akan berada di pelataran terbuka di mana terdapat sumur tua dan juga rumah tradisional Arab. Lalu saat masuk ke ruangan lagi, kita akan dibawa turun melalui jalur melingkar yang di tengahnya terdapat instalasi burung Flamingo yang telah diawetkan.

Suasana menjadi semakin remang-remang tatkala sampai di bawah. Ternyata posisi museum ini berada di bawah tanah. Aroma rempah-rempah mulai terasa jelas di sini, dan efek suara aktivitas di kapal menyambut kami agar seolah-olah kita masuk ke masa lalu. Pada jaman dahulu, Dubai memang dikenal sebagai salah satu penghasil rempah-rempah terbaik.

Di dalam museum ini terdapat banyak diorama yang menggambarkan Dubai pada masa lalu. Patung-patung yang dipakaikan pakaian tradisional khas Arab nampak nyata sekali, sehingga ada saja anak kecil yang menangis karena ketakutan.

Hal unik yang bisa saya temui di sini, ternyata wanita Dubai pada jaman dahulu mengenakan seperti topeng untuk menutupi mukanya. Pakaiannya pun tidak tertutup seperti sekarang, karena masih nampak perhiasan di dadanya dan mengenakan kerudung hitam yang panjang. Sedangkan kaum prianya mengenakan baju gamis putih panjang dengan kain untuk menutup kepalanya.

Suku Bedouin (Badui) adalah suku pengembara yang ada di Jazirah Arab. Mereka hidup berpindah-pindah tempat sambil menggembala kambing dan unta. Selain itu mereka punya cara berburu yang unik, yaitu dengan menggunakan burung Alap-alap (Falcon).

Memanfaatkan penglihatan Falcon yang tajam, mereka melatihnya agar bisa melihat mangsanya dari kejauhan lalu terbang untuk mencengkeram. Biasanya mangsa buruannya berupa kelinci gurun. Maka dari itu, negara Uni Emirat Arab menjadikan burung Falcon sebagai maskot atau lambang negaranya.

Berlanjut ke ruangan lainnya, kita akan mendapati lantai museum yang dipenuhi pasir gurun asli, hal ini membuat pengunjung larut dalam suasana Arab tempo dulu. Tak hanya dikenal sebagai penghasil rempah-rempah, masyarakat Dubai juga pandai melaut. Ini dibuktikan dengan adanya kapal-kapal kayu dan alat tangkap ikan tradisional seperti bubu kalau di Indonesia. Selain itu juga mereka kerap menyelam hingga ke dasar untuk mencari hasil laut.

Tak terasa perjalanan menyusuri lorong waktu Dubai selesai, di akhir perjalanan, toko souvenir menanti pengunjung untuk memborong isinya.

Ternyata beginilah Dubai. Siapa sangka yang bermula dari desa nelayan, kini menjadi kota modern yang sangat maju perkembangannya. Maka tak salah jika Dubai saya jadikan Dream Destination tahun ini, karena berbagai keunikan di dalamnya.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA