Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 13 Des 2019 11:42 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Tak Melulu Merlion Park, Ini Wisata Sejarah di Singapura

Novi Kusumayanti
d'travelers
Foto 1 dari 5
Gerbang Sang Nila Utama
Gerbang Sang Nila Utama
detikTravel Community -

Singapura menjadi salah satu pilihan destinasi turis Indonesia untuk mengunjungi patung merlion yang menjadi ikonnya. Namun, ada juga wisata sejarah menarik yang mungkin kamu belum tahu.

Mendengar nama Singapura, sebagian besar orang akan langsung membayangkan wisata belanja barang-barang bermerk dengan harga yang lebih murah dari di Indonesia, atau berfoto di patung Merlion, ikon negara Singapura atau mengunjungi Universal Studio Singapura di pulau Sentosa.

Mengunjungi Singapura beberapa kali tidak membuat saya bosan. Selalu ada tempat yang ingin saya kunjungi di Singapura. Bukan saja tempat yang sedang happening, namun tempat-tempat bersejarah atau sekedar mengunjungi taman kota.

Kunjungan saya ke Singapura kali ini sebetulnya diluar daftar rencana perjalanan. Dikarenakan ikut berburu promosi tiket pesawat yang diadakan Tiket.com dan saya mendapat harga yang sesuai dengan anggaran perjalanan, maka saya kembali mengunjungi Singapura untuk kesekian kalinya. Kali ini, saya mengeskplor Fort Canning Park, tak hanya sekedar taman di tengah kota yang digunakan untuk berolah raga ataupun piknik, di tempat ini juga terdapat tempat bersejarah bagi Singapura.

Sangat mudah untuk mencapai Fort Canning Park. Selain bus umum, MRT pun dapat menjangkau tempat ini. Traveler bisa turun di beberapa stasiun pilihan untuk menuju ke Fort Canning Park, yang terdekat adalah stasiun Fort Canning. Sebaiknya sepagi mungkin mengunjungi tempat ini, terlebih pada akhir pekan. Selain matahari belum terlalu tinggi, pengunjung pun belum terlalu banyak pada pagi hari sehingga puas berkeliling taman ini.

Fort Canning sendiri telah berganti nama beberapa kali. Dikenal juga dengan nama Forbidden Hill, karena konon menurut hikayat, di atas bukit ini berdiri kerajaan Singapura kuno dengan rajanya yang bernama Sang Nila Utama yang berasal dari Palembang (Indonesia). Nama lain dari Fort Canning yang juga terkenal adalah Government Hill, karena pada masa pemerintahan Sir Stamford Raffles, pusat pemerintahan ada di bukit ini.

Keluar dari stasiun MRT Fort Canning, berjalan sedikit dan menaiki tangga yang cukup melelahkan, akhirnya saya sampai di pancur larangan (forbidden spring). Tempat ini merupakan replika dari tempat mandi para putri raja dan bangsawan dari kerajaan Singapura kuno. Karena perpaduan budaya Indonesia dan Eropa, beberapa tempat di taman ini berarsitektur seperti bangunan di Eropa dan Indonesia.

Selanjutnya, saya berkeliling Fort Canning Park dan sampai di replika gerbang kerajaan Singapura kuno, replika ini mengingatkan saya akan bangunan gerbang di beberapa tempat di pulau Jawa dan Bali yang dibuat dari tumpukan bata merah. Istana kerajaan Singapura kuno memang telah hilang dan tidak berbekas namun ditemukan beberapa artefak yang diyakini berkaitan dengan kerajaan ini. Di dekat sini juga terdapat kantor untuk pendaftaran pernikahan. Jadi, tak hanya menemukan pasangan calon pengantin yang akan berfoto pre-wedding namun juga tak jarang akan bertemu dengan pengantin dan keluarganya yang akan mendaftarkan pernikahan.

Sejarah berlanjut pada masa perang dunia pertama dan kedua, di taman ini terdapat bangunan-bangunan pada masa kolonial Inggris. Sebut saja terdapat rumah Sir Stamford Raffles yang pernah memerintah Singapura dan menjadikan Singapura negara modern.

Terdapat pula tempat pemakaman Kristen bagi para pejabat kolonial Inggris. Namun pemakaman ini sudah ditutup dan hanya kurang dari sepuluh makam yang tersisa, Yang terlihat jelas hanyalah jejeran nisan yang tertempel di dinding. Ada juga hotel Fort Canning yang dulunya digunakan sebagai pusat komando tentara Inggris sebelum pindah ke Battle Box.

Rumah dinas Sir Stamford Raffles dilengkapi dengan menara suar untuk melihat langsung situasi laut yang mengelilingi Singapura. Seperti diketahui, Raffles juga adalah ahli tumbuhan, jadi di taman ini terdapat tanaman yang ditemukan dan dibudidayakan oleh Raffles. Menyenangkan sekali berjalan di taman ini karena sebagian besar tanaman yang ada juga tumbuh di Indonesia. Sebut saja pohon pala, serai, asam, sirih, salam bahkan pohon mahkota dewa.

Tak hanya di Indonesia, di Singapura pun ada makam yang dikeramatkan. Di dalam taman ini ada makam yang diyakini sebagai makam Sri Sultan Iskandar Syah yang merupakan Sultan terakhir yang memerintah Kerajaan Singapura yang berasal dari Malaysia.

Dan yang terkenal di Fort Canning Park adalah Battle Box yang merupakan pusat komando tentara Inggris pada saat perang dunia kedua yang terletak dibawah tanah (bunker). Di mana melalui tempat inilah Singapura melalui tentara colonial Inggris menyerah kepada Jepang. Bunker ini juga dilengkapi dengan pintu keluar rahasia yang pada saat ini hanya ditemukan satu pintu keluar rahasia yang disebut Sally Port.

Untuk dapat masuk kedalam Battle Box, pengunjung diharuskan mengikuti tur berbayar yang jumlah pesertanya dibatasi dan ada jadwal untuk tur setiap harinya. Dilarang berfoto atau memotret apapun di dalam Battle Box. Di dalam Battle Box terdapat ruangan-ruangan yang difungsikan sebagai ruang rapat, ruang komunikasi dan ruang komando yang dilengkapi dengan penerangan, sirkulasi udara dan kamar mandi. Untuk membuat Battle Box bernuansa perang dunia kedua, di masing-masing ruangan dibuat diorama dengan patung-patung tentara Inggris dengan berbagai adegan.

Tak ada ruginya menurut saya untuk mengikuti tur ini. Diakhir tur, pemandu wisata akan memberikan satu pertanyaan dan satu orang pemenang akan mendapatkan replika surat penyerahan Singapura kepada Jepang (the instrument of surrender).

Selain Battle Box, Fort Canning park dapat dikunjungi tanpa dipungut biaya. Rasanya seharian ini saya hanya berkeliling di Fort Canning Park dan waktu sudah beranjak menjelang petang saat saya selesai berkeliling. Fort Canning Park pun sudah sangat ramai dibanjiri para pengunjung baik yang hanya sekedar berfoto ataupun piknik beramai-ramai. Bagi yang suka berswafoto, jangan lewatkan tangga spiral yang ada di taman ini, namun harap bersabar untuk bergantian berfoto karena banyak yang mengantre demi mendapatkan hasil foto terbaik.

Jika saat datang ke Fort Canning Park saya melalui stasiun MRT Fort Canning, saat pulang saya mencoba untuk menggunakan MRT melalui stasiun Clarke Quay. Terbukti, Singapura tidak hanya menarik untuk wisata belanja dan rekreasi tapi juga menarik sebagai destinasi wisata sejarah.

Dengan aplikasi Tiket.com, tidak hanya tiket pesawat harga Gledek yang saya dapatkan tapi saya juga mendapatkan harga penginapan di Singapura dengan harga yang terjangkau.



BERITA TERKAIT
BACA JUGA