Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 09 Jan 2020 15:09 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Keindahan Pahawang yang Membekas di Hati

Robin
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pasir timbul di Pahawang
Pasir timbul di Pahawang
detikTravel Community -

Pulau Pahawang jadi lokasi liburan yang menyenangkan di Lampung. Keindahannya begitu membekas di hati.

Seperti kata pepatah, liburan yang sebenarnya adalah istirahat setelah kerja keras, memang cocok dengan timing yang kami ambil untuk berlibur di Lampung akhir tahun ini. Akhir tahun memang bagaikan oase yang menawarkan hari-hari indah dan menawan bak tokoh utama dalam kisah bergenre Romance yang menjalani hidup bahagia bersama kisah cintanya.

Walaupun sebenarnya jauh banget dari realita. Karena setelah malam tahun baru usai, saat itu juga satu tahun berikutnya dengan janji masa depan tak pasti sedang menunggu.

Saya bersama kawan-kawan penerima beasiswa IZI sepakat untuk mengunjungi Pulau Pahawang sebagai destinasi utama liburan di Lampung tahun ini. Pulau ini sendiri berada dalam wilayah administrasi Lampung Selatan sehingga jarak antara Pulau dan Bandar Lampung sangat jauh. Karena itulah kami memutuskan untuk berlibur ala backpacker.

Dengan merental dua mobil serta membawa barang seadanya, tak mengurangi keseruan dari perjalanan ini. Di samping karena tujuan kami berlibur adalah untuk Tafakkur Alam, atau lebih tepatnya mencoba hidup lebih susah, tapi tetap menyenangkan.

Di pagi hari tepatnya jam setengah 6, Pasukan yang terdiri dari dua mobil Avanza meluncur dari Masjid Al Furqan di tengah kota Bandar Lampung menuju Dermaga Ketapang tempat titik berlayar kami ke Pulau Pahawang. Saya salah kira ketika melihat jarak pulau yang terletak diujung lampung, jalanan ke sana pasti buruk, bakalan sulit akses nih, pikir saya.

Ternyata tidak, ketika pasukan Avanza sudah meninggalkan Bandar Lampung jauh di belakang memasuki kabupaten Pesawaran, jalanan masih mulus, belum lagi ditambah pohon-pohon lebat dan rimbun seakan-akan mengucap selamat datang.

Kami menaiki bukit barisan, melewati jalan turunan sekaligus melihat pemandangan laut yang disiram oleh cahaya keemasan mentari pagi. Ah pesawaran di pagi hari memang indah.

Jalanan mulus, sejuknya udara pagi, Suara mesin mobil yang menenangkan sepertinya sudah cukup untuk membuat orang mengantuk. Tapi indahnya pemandangan laut pesawaran dari Bukit Barisan membuat mata kami tetap terjaga.

Seolah-olah ingin menyampaikan keindahan dari tempat yang kami tuju hingga tak terasa jam 6 lewat 15 menit Avanza yang kami naiki sudah merapat di dermaga II Ketapang.

Lautan menghampar luas di depan kami, kabut dan sinar matahari pagi seolah-olah berebut kekuasaan di hamparan air yang luas itu, udara pagi di pinggir laut memang menentramkan dada, ditambah lagi pemandangan bukit barisan seakan-akan keindahan pagi itu berada dalam banteng alam yang kokoh.

Sebelum kami semua sibuk dengan pikiran masing-masing, kami mengisi energi dengan sarapan pagi di pinggir laut sambal menikmati semua ketenangan di pagi itu.

Saya bersyukur karena pemandu travelling kami kala itu professional sehingga tepat jam 7 pagi kami sudah berkumpul untuk bersiap-siap berlayar. Mendengar sedikit instruksi dan pengenalan.

Karena peralatan untuk dilaut nanti bisa dibilang lengkap, dua pemandu yang professional, tinggal kewaspadaan aja untuk tidak menghilangkan peralatan snorkel-nya. Jadi jangan khawatir untuk yang tidak bisa berenang, karena untuk yang bisa berenang dan tidak bisa berenang punya derajat yang sama gengs di atas laut.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, perahu berangkat menuju pahwang meinggalkan dibelakang pulau utama. Angin laut yang sejuk menerpa wajah, memainkan anak-anak rambut. Sensasi berada di tepi laut tentu saja berbeda ketika berada ditas laut itu sendiri.

Bukit Barisan yang berkabut di atasnya seolah-olah dekat sekali dengan posisi kami. Perahu bisa dibilang lumayan lambat, sehingga untuk mengusir rasa bosan, pemandu mengajak kami untuk berfoto di moncong perahu. Walaupun menyenangkan ada sedikit rasa ngeri karena posisinya tepat sekali diujung, khawatir jika tiba-tiba jatuh ke laut.

Foto yang dihasilkan dari kamera GoPro milik pemandu travelling memang sangat bagus, apalagi ditambah dengan pemandangan sekitar. Laju perahu yang lambat menjadi tidak terasa membosankan. Hingga perahu sampai di spot snorkeling yang pertama.

Warna air dilokasi snorkeling sangat jernih, seolah menggoda untuk terjun kedalamnya. Benar saja, belum sempurna perahu berhenti, belum genap mesin perahu dimatikan, salah satu dari kami sudah melompat ke dalam air. Yah wajar saja, mungkin saya juga tergoda untuk menceburkan diri pertama kali, kalau bukan lagi rasa malu yang menjadi penghalangnya.

Untuk yang pertama kali saya snorkeling dan pertama kali juga menyaksikan keindahan bawah di laut di perairan lampung . benar-benar eksotis, terumbu karang, bermacam-macam biota laut, ikan nemon dan berbagai ikan cantik yang tidak saya ketahui Namanya berenang bersama-sama kami, seolah-olah tau jika kami bukan ancaman.

Dan seperti yang saya bilang, tidak ada perbedaan kasta untuk yang bisa berenang dan tidak bisa berenang disini. Ada dua pendamping yang professional dan bisa membantu mu untuk sekedar menyelam dan berfoto di dalam laut. kecuali jika ada teman mu yang terlalu baik untuk menjahili dirimu yang tidak bisa berenang. Lain lagi ceritanya, Namanya juga teman.

Keseruan ini tiba-tiba saja terpotong ketika pemandu kami bilang untuk pindah spot. Seperti apa tempat yang kami tuju selanjutnya? Modal penasaran menjadi amunisi untuk tetap menjaga semangat dikala itu, walaupun selepas naik ke darat angin laut mulai terasa dingin.

Pantai dengan lanskap yang luas yang seakan akan dibenetengi oleh bukit barisan, orang setempat menamainya Pasir Timbul. tempat ini menjadi tujuan kami sekarang. Saat pertama kali menginjak pasir lembutnya, airnya yang jernih dan batu-batuan kecil yang berserakan, terbayang oleh saya pantai ini pasti jarang dijamah oleh manusia, dikarenakan pantai ini begitu cantik, seakan-akan alam turut menjaganya.

Kenapa pasir timbul? karena pada dasarnya pantai kecil ini terhubung dengan pulau yang berada diseberangnya, pasir yang menghubungkan antara pantai ini dan pulau tersebut bisa dirasakan saat air laut sedang surut. Jadi pengunjung bisa menyeberangi pulau hanya dengan berjalan diatas pasir dengan air laut setinggi betis. Seperti yang kami lakukan om om diatas

Karunia bahari Indonesia memang menakjubkan, tidak henti-hentinya menentramkan bagi jiwa yang bersyukur. Setiap detik keseruan kami di pulau pahawang tidak berhenti di Pasir Timbul, masih banyak spot yang kami tuju hingga matahari menyapa dari barat cakrawala.

Catatan dari tempat ini tidak akan terlupakan, terlebih teman-teman dari Program Beasiswa Tahfidz IZI, Kak Adrian sebagai pembina dan Kak Jek sebagai teman merangkap supir adalah bubuk mesiu yang meledakkan keseruan liburan di tengah-tengah alam ibu pertiwi yang menakjubkan. Saya rasa liburan ini sudah genap di pulau pahawang dan tambah sempurna dengan kehadiran kawan-kawan.

Jadi, menikmati wisata bahari tidak melulu ke timur Indonesia lho, di wilayah barat Indonesia juga banyak sekali wisata bahari yang tak kalah menakjubkan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA