Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 25 Mar 2020 11:19 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Lelah Dibayar Tuntas di Puncak Gunung Arjuno

Foto 5 dari 5
Dan akhirnya teman-teman, kami dapat berada di puncak gunung tertinggi keempat di Pulau Jawa
Dan akhirnya teman-teman, kami dapat berada di puncak gunung tertinggi keempat di Pulau Jawa
detikTravel Community - Mendaki Gunung Arjuno menjadi pengalaman tak terlupakan. Seluruh lelah dibayar tuntas di puncaknya.

Gunung Arjuno, yang memiliki ketinggian 3339 mdpl, berada di Jawa Timur. Wilayah Gunung Arjuno terletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang, Mojokerto dan Pasuruan.

Untuk mencapainya, ada beberapa jalur yang bisa dipilih. Yakni, Tretes, Purwosari, Cangar, dan Lawang.

Saya bersama tiga kawan berkesempatan mendaki gunung yang terletak di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Soerdjo tersebut. Dan mujurnya lagi, waktu itu bersamaan dengan turunnya hujan, yang menemami jejak langkah kami menuju puncak.

Kok mujur? Bagi sebagian orang, mendaki di kala hujan itu tidak nyaman, namun sebenarnya ada sensasi tersendiri lo ketika hujan, apa itu? Simak tulisan ini ya d'travellers.

Sebelum mendaki ke puncak, hal yang perlu dilakukan adalah registrasi. Jalur yang kami pilih adalah Sumber Brantas Batu, alasannya, karena jalurnya paling singkat dibanding jalur lain. Selain itu, jalurnya relatif cocok untuk para pemula.

Di pos Sumber Brantas Batu, saat ini juga sudah menerapkan sistem online, sehingga kamu bisa dengan mudah registrasinya. Tarifnya cukup murah, hanya Rp 11 ribu rupiah per hari.

Selepas registrasi, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 1. Hamparan tegalan pertanian akan terlihat di mata kita. Lahan terasering tergugus indah, tanaman sayuran yang menghijau, dan keramahan petani yang tak segan melemparkan senyum sapa kepada kita, para pendaki.

Hujan lokal yang merintik masih belum reda, perjalanan sudah memasuki pos 1. Di sini adalah batas antara tegalan dan vegetasi hutan, pemandangannya akan terkonversi menuju hutan yang sangat lebat.

Di sepanjang jalur pos 1, kami disuguhkan dengan pepohonan yang diselimuti lumut dan beberapa diantaranya terdapat anggrek yang menampang di batangnya. Warnanya hijau segar.

Kami berjalan perlahan-lahan, karena jalurnya yang agak licin. Selain itu, kami harus untuk melangkahi beberapa pohon yang tumbang secara alami.

Memasuki pos 2, vegetasinya tidak selebat pos 1, namun mulai nampak kepungan pepohonan pinus yang memanjakan mata.

Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sini.

Selepas bermalam, paginya kami berjalan sekitar 2 jam menuju pos 3.


Di sinilah, uniknya jalur Sumber Brantas dibandingkan jalur yang lain. Kendati tidak ada sumber airnya, kami bisa melihat asap-asap yang mengepul dari sumur uap tua yang ada di dekat jalan setapak.

Setelah kami melewati sumur uap tersebut, kami melihat bagaimana indahnya kelokan pepohonan tua disana. Pohon-pohon yang bercabang itu seperti di hutan purba yang dipenuhi dengan batang-batang berkelok yang berlumut hijau kecoklatan.

Semakin sedikit pepohonan tua, tandanya semakin dekat dengan Lembah Lengkehan.

Lembah Lengkehan adalah tempat datar yang dipenuhi rerumputan luas. Kami mencapai ketinggiannya nyaris 3.000 meter di atas permukaan laut.

Ketika kami berbicara atau bernafas, terdapat uap yang mengembul di mulut dan hidung.

Di sebelah kiri Lembah Lengkehan terdapat jalur ke Gunung Kembar 1 (3051 mdpl) dan Gunung Welirang (3156 mdpl), di sebelah kanan ada jalur menuju Gunung Kembar 2 (3126 mdpl).

Kami memilih jalur lurus karena itu menuju puncak Ogal-Agil Arjuno. Kami menyisiri lereng Gunung Kembar 2 selama 1,5 perjalanan sampai tiba di Lapangan Kotak.

Kami beristirahat dan menaruh barang, karena sebentar lagi kami akan summit attack. Carrier yang ada di bahu harus segera kami taruh, karena kami akan menghadapi medan yang kisaran kemiringannya sekitar 30-90 derajat, selama dua jam.

Kali ini, kami akan memasuki Alas Lali Jiwo, tempat yang dianggap orang angker dan memiliki jalur yang bercabang, serta vegetasinya yang seragam. konon, tempat ini dapat membuat orang tersesat.

Kami tidak takut, karena selama kami percaya Tuhan, mendaki bersama teman, dan tidak melanggar aturan alam, kami akan aman selama perjalanan.

Di samping menyakinkan diri, kami terus melakukan perjalanan dengan menggapai batu untuk berpegangan, dan menjejakkan langkah di tanah yang agak kesat setelah hujan. Kami terus menggobrol dan membuat humor agar tidak takut.

Deretan batuan besar yang kami raih semakin berakhir ketika kami sudah berada di jalur puncak. Kami harus berhati-hati, meski treknya landai, kami tetap melewati bebatuan konsentrasi yang ekstra.

Setelah kami berjalan melewati gugusan batuan, kami dapat melihat bendera merah putih berkibar megah. Kami juga melihat plang bertuliskan "Puncak (Ogal-Agil) Arjuno, 3339 mdpl". Artinya, kami sudah sampai di puncak gunung tertinggi keempat di Pulau Jawa.

Plang tulisan itu kami pegang bergantian. Rasa haru, sedih, senang, dan syukur bercampur aduk. Kami mengabadikan momen terbaik dengan berfoto bersama.

Dan kami juga tidak lupa melakukan sujud di atas puncak, sebagai wujud syukur kami kepada Tuhan serta alam-Nya, yang memperbolehkan kami melakukan pendakian dari pos perijinan sampai ke puncak.

Dari mata kami, terlihat gugusan awan yang menyelimuti kokohnya Gunung Welirang, Semeru, Buthak, Penanggungan, serta luasnya daratan Pulau Jawa yang bisa kami lihat dengan mata kita.

Selepas mengabadikan momen, kami perlu turun, karena bonus puncak sudah kami dapat. Alhamdulillah, selamat!

Saat turun kami tidak lupa mengemasi sampah. Karena bagi kami, pantang mengotori apalagi merusak keasrian Gunung Arjuno yang sangat indah ini.

Nah, bagi kalian yang sudah membaca, kapan nih kalian mendaki ke sana? Ajak teman-temanmu ya, salam lestari!.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA