Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 28 Des 2019 12:28 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Masjid Tiban, Antara Mitos dan Kenyataan

Brigida Emi Lilia
d'travelers
Foto 1 dari 5
Ruang informasi yang terdapat di bagian belakang Pesantren .
Ruang informasi yang terdapat di bagian belakang Pesantren .
detikTravel Community - Sebuah masjid di Jawa Timur ini menyimpan cerita mitos. Di sebut sebagai masjid seribu pintu, katanya dibangun oleh jin.

Melewati daerah Turen, Malang, Jawa Timur jangan lupa singgah di sebuah pesantren yang cukup terkenal karena keberadaannya. Bangunan pesantren yang lebih banyak dikenal sebagai masjid Tiban atau masjid seribu pintu ini terletak agak jauh dari jalan utama.

Meski begitu bangunan yang bernama lengkap Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri 'Asali Fadlaailir Rahmah, selalu ramai dikunjungi wisatawan baik yang akan berziarah maupun yang ingin tahu lebih banyak tentang masjid ini.

Jika ditanyakan ke masyarakat sekitar letak Mesjid Tiban, tak banyak orang tahu namun jika bertanya lokasi Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri 'Asali Fadlaailir Rahmah maka akan ditunjukkan lokasi menuju ke sini. Ya masyarakat sekitar lebih mengenal bangunan ini sebagai pondok pesantren.

Ada banyak mitos dibalik megahnya bangunan pesantren yang bernuansa biru dan kental dengan nuansa Timur Tengah ini. Ada berita yang beredar bahwa masjid ini dibuat oleh jin, hal ini disebabkan dalam proses pembangunan tidak melibatkan warga sekitar sehingga seolah-olah bangunan ini tiba-tiba berdiri padahal kenyataannya bangunan ini dibuat oleh para santri yang mondok di pesantren ini.

Ya, pesantren ini menerima santri yang berusia 18 th ke atas, dan biasanya santri yang betah tetap tinggal di sini hingga menikah dan memiliki anak. Itu sebabnya luas dan tinggi bangunan selalu bertambah karena semakin banyak santri yang tinggal di sini .

Memasuki lokasi pesantren pengunjung akan melewati sebuah jalan yang tidak terlalu lebar dengan pedagang di kanan dan kiri, sebagian menjual makanan khas setempat. Ada pula yang menjual pakaian, topi, tas, oleh-oleh yamg bernuansa keagamaan serta makanan siap santap.

Sebuah gerbang megah terdapat di ujung jalan menghubungkan jalan dan bangunan utama.Terdapat jalan memutar yang mengarah ke bagian belakang tempat kendaraan pengunjung bisa parkir. di bagian yang sama terdapat pos untuk lapor bagi pengunjung yang datang.

Di beberapa bagian tertulis kawasan wajib berbusana muslim bagi yang beragama islam (sehingga saya yang tidak beragama islam pun bisa memasuki bangunan ini meski tanpa berbusana muslim).

 Setelah lapor ke pos penerima tamu, saya bersama 2 orang kawan mulai memasuki bangunan. Sebelum memasuki bangunan, para pengunjung diharuskan melepas alas kaki dan menyimpannya di tas plastik yang banyak dijual di sana.

Sambil menenteng plastik berisi alas kaki, saya dengan pandangan bingung melihat sekeliling hendak memulai dari mana, untungnya salah seorang santri yang melihat kebingungan kami, menghampiri dan bersedia mengantar kami berkeliling. Satu persatu ruangan kami masuki sambil dijelaskan fungsi masing-masing ruangan beserta detail yang ada.

Sepanjang perjalanan kami menjumpai banyak sekali pintu dan tangga yang menghubungkan ruangan demi ruangan. Saat saya bertanya kenapa dibuat begitu banyak jalan jawabannya sungguh mengejutkan, makna dari tangga dan banyaknya pintu adalah ada banyak jalan yang berbeda-beda tapi semuanya menuju ke arah yang sama dalam sekali ya maknanya.

Ruangan-ruangan yang kami jumpai antara lain ruang makan, ruang tinggal santri dan santriwati , ruang dapur , ruang pemilik pesantren dan masih banyak lagi. Bahkan terdapat lift yang hanya boleh digunakan oleh pemilik pesantren.

Bagian menarik lainnya adalah adanya pelaminan permanen yang biasa digunakan untuk nikah massal para santri. Ruangan bernuansa emas ini menjadi latar berfoto pengunjung. Di lantai atas bangunan ini terdapat toko yang menjual hasil karya para santri dan barang-barang lainnya.

Semua bagian ruangan memiliki ornamen yang berbeda, yang semuanya dibuat para santri dengan ketelitian dan kerja luar biasa .Ada juga beberapa bangunan yang masih berupa semen belum dipasang ornamen sehingga akan terlihat bedanya sebelum dan sesudah diberi hiasan.

Santri yang mendampingi kami dengan sabar menjawab pertanyaan dan bercerita banyak tentang pondok serta menunjukkan tempat-tempat yang bagus jika ingin mengambil foto.

Waktu yang dibutuhkan untuk berkeliling pesantren ini cukup lama , terlebih jika tidak didampingi karena banyak ruangan dan tangga yang membingungkan.

Ada beberapa tempat sholat yang cukup besar di sini , begitu juga dengan toilet dapat ditemui dengan mudah. Meski bukan tempat wisata banyak pengunjung yang datang hanya untuk melihat-lihat, yang perlu diperhatikan pengunjung diharap menjaga ketenangan selama berkeliling.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA