Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 18 Jan 2020 19:46 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Yang Jarang di Yogyakarta: Jadi Bangsawan Semalam

Wiwit Prasetyono
d'travelers
Foto 1 dari 5
Penari Srimpi dalam Uyon-Uyon Hadiluhung di Keraton Yogyakarta
Penari Srimpi dalam Uyon-Uyon Hadiluhung di Keraton Yogyakarta
detikTravel Community - Wisata Yogyakarta yang satu ini jarang diketahui oleh wisatawan. Saat perayaan hari lahir Sultan Yogyakarta, kamu bisa merasakan jadi bangsawan dalam semalam.

Irama gamelan sayup-sayup mulai terdengar. Satu per satu para tamu hadir dengan mengenakan pakaian jawa. Tamu lelaki mengenakan kain sebagai bawahan, baju lurik biru model peranakan dan ikat kepala blangkon khas Yogyakarta.

Semua tamu perempuan dengan kebaya warna hitam, kain jarik dan rambut disanggul. Malam itu, Keraton Yogyakarta menggelar Uyon-Uyon Hadiluhung atau pertunjukan musik gamelan dalam rangka peringatan hari lahir Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Hari lahir Sultan Yogyakarta secara tradisional diperingati setiap 35 hari sekali. Bilangan ini berdasar pada perhitungan tahun jawa atau yang disebut dengan istilah Kalender Sultan Agungan.

Dalam Kalender yang berbasis pada hitungan bulan (lunar-based/qomariyah) tersebut, setiap hari diberikan identifikasi yang berbeda berdasarkan 5 hari pasaran, yaitu: pahing, pon, wage, kliwon, legi. Mengingat bahwa Sri Sultan lahir pada Hari Selasa Wage, maka peringatan hari lahirnya akan tiba setiap 35 hari sekali.

Secara tradisional, peringatan hari lahir Sri Sultan akan diperingati dengan sejumlah upacara adat. Selain kenduri atau selamatan, sudah sejak lama Keraton Yogyakarta menggelar pentas gending-gending gamelan yang dikenal dengan istilah Uyon-Uyon. Acara ini awalnya hampir bersifat ritual.

Ada atau tidak ada pengunjung, gamelan tetap dimainkan. Pergelaran bertujuan untuk mengucap rasa syukur melalui syair-syair tembang, sekaligus menjaga tradisi budaya. Uyon-Uyon Hadiluhung dimulai pukul 21.00, dan berakhir hingga tepat tengah malam. Pergelaran tersebut disiarkan langsung melalui RRI Pro 1 & Pro 4.

Sejak tahun 2019, dibawah kepemimpinan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro, acara Uyon-Uyon dikembangkan menjadi kegiatan yang lebih bermakna. Di tengah-tengah pertunjukan gamelan yang berjalan selama 3 jam tersebut, disisipkan pementasan tari-tari klasik khas Keraton Yogyakarta.

Suami dari putri ke-4 Sri Sultan Hamengku Buwono X yang memimpin divisi pertunjukan seni di keraton tersebut menjadikan Uyon-Uyon sekaligus sebagai ajang rekonstruksi karya-karya seni yang telah lama tidak dipentaskan.

Beberapa tari yang dipertunjukkan sepanjang tahun 2019 tidak jarang merupakan hasil studi atas naskah-naskah kuno yang tersimpan tidak hanya di Keraton Yogyakarta, tetapi hingga British Library.

Sajian semakin berkesan, manakala dibuka kesempatan kepada publik untuk merasakan pengalaman menjadi bangsawan semalam tersebut. Dalam jumlah terbatas, masyarakat boleh menyaksikan jalannya pertunjukan melalui reservasi yang diumumkan dalam akun instragram @kratonjogja atau @kratonjogja.event. Bagi yang mendapatkan undangan, mereka harus mengenakan pakaian adat, tanpa mengenakan alas kaki, dan bersikap layaknya Abdi Dalem keraton.

Dalam pertunjukan yang berdurasi selama 3 jam tersebut, para undangan diminta hadir maksimal 30 menit sebelum pintu gerbang atau Regol Bangsal Kasatriyan dibuka pada pukul 20.50.

Panitia penyelenggara akan membacakan wewarah atau petunjuk dan aturan selama mengikuti kegiatan. Apabila sudah tiba waktunya, para pembesar keraton dan pengajar tari akan memasuki lokasi pertunjukan diikuti oleh semua tamu yang hadir.

Gending Prabu Mataram dimainkan sebagai pembuka. Karya ini ibarat lagu kebangsaan, yang berisi pujian untuk keselamatan pemimpin Kerajaan Mataram.

Berikutnya dimainkan gending sorandengan irama yang dinamis pada bagian permulaan. Setelah itu, gending-gending beksan yang notabene merupakan pengiring tari akan diisi dengan pertunjukan.

Pengunjung boleh istirahat sebentar menikmati kudapan tradisional seperti wedang secang, lemper, dan aneka kue setelah usai pertunjukan tari. Sementara itu, permainan gamelan terus menerus dibunyikan tanpa henti dengan gending-gending halus atau lirihan. Menjelang tengah malam, gending Sri Kondur, dimainkan untuk menutup keseluruhan acara.

Keterbukaan pihak Keraton Yogyakarta semakin terasa manakala kegiatan ini tidak hanya dapat dinikmati secara audio tetapi juga visual. Selain saluran pemerintah yang memancarkan suara permainan gamelan, akun Youtube Kraton Jogja juga menyiarkan secara langsung seluruh pertunjukan melalui moda livestreaming.

Tidak jarang penikmat budaya jawa dari Belanda, Jerman, Taiwan, Suriname, dan berbagai bangsa lainnya di dunia dapat berinteraksi dalam live chat bersama-sama dengan penikmat budaya dari dalam negeri.

Era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi nampaknya disambut baik oleh Kesultanan Yogyakarta. Dari geliatnya, teknologi terbukti mampu berkontribusi untuk menjaga tradisi. Maka apresiasi kita akan menjadi upaya nyata untuk turut menjaga budaya bangsa.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA