Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 07 Apr 2020 13:27 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Yuk, Lihat Lagi Keindahan Himalaya dari Dekat

Wijaya Kusuma
d'travelers
Foto 1 dari 5
Setiap hari ban pecah
Setiap hari ban pecah
detikTravel Community -

Keindahan Himalaya memang tiada duanya. Kamu yang bosan di rumah, bisa intip keindaannya di sini.

Kami pergi mendaki Annapurna dengan kendaraan roda dua menghadapi cuaca dingin yang menusuk tulang di Nepal. Kami terinspirasi oleh film petualangan Everest. Kami berencana untuk naik ke puncak ke akses motor yang paling tinggi di dunia, di Pegunungan Himalaya di Nepal.

Sebenarnya ada beberapa rute yang bisa dipilih: satu yang membentang dari Leh di Ladakh, di utara Jammu dan Kashmir, ke Khardung La, pada ketinggian 5.600 meter di atas permukaan laut. Namun, kami menganggap hal ini terlalu mudah, karena rutenya terdiri dari jalan aspal biasa.

Kami memutuskan untuk mengambil rute ke Upper Mustang di Annapurna, yang menjulang setinggi 8.091 meter di atas permukaan laut, dan merupakan gunung tertinggi kedua setelah Everest dengan ketinggian 8.848 meter.

Rute ini menawarkan dua titik tinggi yang dapat dilalui oleh sepeda motor, Muktinath pada 4.200 meter di atas permukaan laut dan Lo Manthang, pada ketinggian 5.400 meter. Kami berangkat dari Kathmandu dengan tim dua belas orang yang terdiri dari pengusaha, karyawan, profesional dan ibu rumah tangga.

Melihat tantangan yang ada di depan mata, semua bersemangat untuk memulainya. Ya perencanaan dibuat dengan matang di mana ada lima personel pendukung dalam dua mobil support.

Persiapan dilakukan dengan saksama dan anggota tim memastikan mereka siap baik fisik dan mental untuk tantangan. Latihan fisik, perangkat mendaki (seperti baju hangat long john) adalah persyaratan wajib bagi kami. Kami juga meneliti semua barang yang dibutuhkan.

Untuk menghindari risiko Altitude Mountain Sickness, Kami dipandu oleh Matt Gardner, seorang pemandu Australia yang memiliki perkumpulan sepeda motor di Nepal dan sering mengatur ekspedisi semacam ini. semua orang bersemangat untuk memulai.

Menuju Puncak Salju Kami memulainya dari Kathmandu dengan menggunakan minibus 2 unit dari Kathmandu, jarak ke Pokhara dari Kathmandu adalah 250 km jauhnya dan semua orang gembira dengan memulainya perjalanan ini. Jalannya mulus dan mudah dengan permukaan aspal yang bagus dan cuacanya sejuk dan ramah.

Sesampainya diPhokara kami menginap semalam. Malamnya kami briefing dan mencoba motor yang akan kami pakai esok harinya.

Hari pertama kami melewati Sarangkot, suatu dataran tinggi tempat bermain parasailing. Kami lanjut ke Kusma Gyadi Jembatan gantung terpannjang di Dunia, jantung kami berdegub kencang saat harus menyeberangi jembatan gantung terpanjang di Nepal.

Terbuat dari tali baja, jembatan itu berada di ketinggian 135 meter di atas lembah di bawahnya dan panjangnya 344 meter. Dengan hati-hati, kami menyeberang satu per satu di atas sepeda motor.

Setelah itu kami naik ke Baglung, sebuah kota kecil dengan populasi kurang dari 30.000 orang. Terletak di dataran tinggi yang menghadap ke ngarai Kali Gandaki tepat di selatannya tampak jajaran pegunungan Dhaulagiri Himalaya, kota ini juga dikenal sebagai kota jembatan.

Larut malam, tim disambut oleh kegelapan di Baglung. Sebagai informasi Nepal sangat bergantung pada bahan bakar untuk daya penerangan listrik dan bisa dipahami, ada pemadaman listrik setiap malam, Oleh karena itu hanya empat jam saja lampu menyala dimulai dari jam 18.00 waktu setempat.

Lelah, anggota tim bangun pagi kembali dengan energi baru mereka. Kami disuguhi hidangan lokal Nepal dal bhat, terdiri dari kaldu dan daging, nasi atau roti dan sayuran.

Sangat mengejutkan ketika padi tumbuh pada ketinggian ini, karena Nepal mengimpor sebagian besar berasnya dari Cina atau India.

Ketika tidak ada nasi, maka orang Nepal makan roti dari gandum. Sementara itu Dal Bhat menyediakan protein dan dapat dimasak dengan ramuan terdiri dari bawang merah, bawang putih, jahe, cabai, tomat dan asam, serta rempah-rempah lainnya seperti ketumbar, garam masala, jintan dan kunyit. Dihangatkan oleh hidangan aromatik.

Naik, dan naik lagi Matahari baru saja mengintip dari balik gunung ketika kelompok meninggalkan penginapan mereka dan berangkat pada hari ketiga petualangan.

Segera setelah meninggalkan Baglung, Pemandangan berubah dan jalan juga mendaki , naik tajam menjadi 3.000 meter di atas permukaan laut. Vegetasi dan lanskap mulai berubah. Pohon-pohon tinggi jarang dan semak-semak dan rumput sekarang melambai pada pengendara.

Pemandangan dengan aroma spiritual agama Buddha nampak selama perjalaban. Biara dan kuil-kuil yang indah tersebar di antara desa-desa sesekali. Jalanan semakin sulit, dan beberapa pengendara mulai jatuh.

Pendakian yang curam dan batu-batu bulat yang mengganggu perjalanan mulai mendominasi perjalanan. Wajah penduduknya juga berubah. Kalau didataran rendah di dominasi oleh wajah dengan ciri khas India di lembah Kathmandu. Nah pada ketinggian yang mulai tandus wajah berubah dengan ciri khas Mongolia, dimana kulitnya putih dan lebih terang dan mata yang sipit.

Pengendara mengambil waktu untuk berhenti untuk melihat Gunung Annapurna di kejauhan. Itu pemandangan yang indah dan cuacanya bagus ketika para pengendara terus menyusuri bibir gunung dan melintasi hamparan gurun sampai akhirnya kami mencapai dusun Lette di sore hari.

Malam itu mulai terasa sangat dingin, salju turun di desa dengan penduruk sekitar 500 orang. Keesokan harinya Anggota tim terbangun dengan langit mendung dan salju ringan yang turun membasahi bumi, meskipun salju ringan turun ketanah kami tetap berangkat pada pagi harinya.

Keluar desa Lette kami merasakan jalan yang berpasir dan berlumpur diselingi oleh bebatuan. Hujan sudah berhenti tetapi terasa sekali udara dingin menembus jaket tiga lapis yang kami kenakan. Jalanan yang curam dan licin, berbahaya, membuat kami semuanya berjatuhan. Ketika hujan mulai turun lagi dan salju mulai melebat.

Kami sejenak berhenti di gubuk sisi jalan. Setelah rintik hujan berhenti tampak di kejauhan pemandangan yang indah dan jajaran gunung yang diselimuti salju. ketika kami menyusuri bibir gunung dan melintasi hamparan gurun sampai mereka mencapai Jomson di sore hari.

Ban Bocor Berkali-kali. Kondisi jalan yang buruk dan berbatu tajam membuat kami berkali kali mengganti ban dan kerusakan yang diderita teman teman. Mulai dari knalpot yang copot, push step yang patah, pijakan rem dan masih banyak lagi. Sampai sampai kita bercanda bahwa jika mereka kembali ke Indonesia, mereka bisa jadi tukang bengkel.

Di sini Anda harus memperbaiki kebocoran ban motor anda sendiri. Tim menggunakan pilihan sepeda motor di antaranya: Royal Enfield 2005 Bullet dan 2013 model Chrome Klasik. Terbukti dari petualangan ini, motor royal enfield dengan torsi yang khas terbukti sangat andal dan mudah dikendalikan.

Kerusakan pada sepeda motor ini dimulai dari rem yang patah dan tuas kopling hingga knalpot yang terlepas. Ketika perbaikan diperlukan, maka team mekanik melakukan perbaikan dengan sempurna sehingga mendapatkan kendaraan sepenuhnya layak jalan lagi esoknya. Ini salah satu contoh dari kerja tim yang solid di sepanjang perjalanan.

Kembali ke jalan setelah badai berhenti, Muktinath semakin dekat tetapi medannya sangat licin ditambah dengan cuaca mengancam. Akhirnya rombongan mencapai Muktinath Palyak di ketinggian 4.200 meter di atas permukaan laut, sesuai dengan tujuan ekspedisi.

Di Coffee Shop Bob Marley kami merayakan keberhasilan mendaki dengan memakan steak Yak, yakni daging bison berambut panjang khas Himalaya. Kami tidak bermalam disini dan kami memutuskan untuk langsung turun gunung, karena beberapa anggota mulai menderita penyakit ketinggian (AMS), ada yang merasa demam dan pusing.

Suasana di ketinggian ini tipis oksigen, dan biasanya orang dari dataran rendah seperti dari Indonesia akan merasakan dizzyness dan mau muntah. Kami segera turun ke arah desa Marpha, di mana 250 orang tinggal di ketinggian 3.168 meter di atas permukaan laut.

Sekali lagi, perjalanan pulang kami disambut oleh hujan salju. Kami Menginap di penginapan, yang terletak di jalan yang dipenuhi penjual suvenir. Biasanya pelancong membeli mangkuk khas budha yakni 'mangkuk bernyanyi' yang umum ada di wilayah ini.

Mangkuk yang terbuat dari kuningan logamnya bisa beresonansi dengan suara bernada tinggi ketika digosok dengan gerakan melingkar dengan tongkat kayu kecil. Mangkuk ini biasanya digunakan dalam upacara-upacara oleh para biksu Budha, suara dari mangkuk-mangkuk semacam itu diyakini menciptakan suasana penyembuhan untuk meditasi.

Dari Marpha, kami kembali ke Pokhara, kali ini perjalanan relatif mudah dan tidak ada masalah sama sekali dengan motor yang kami kendarai.

Rasa kegembiraan terpancar di wajah seluruh peserta karena telah mencapai ketinggian Himalaya. Hal ini juga menyemangati setiap anggota tim. Sekembalinya dari Himalaya, kami merasakan betapa bersyukurnya dia dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia.

Di negara tropis ini hampir semua tanaman akan tumbuh, matahari bersinar sepanjang tahun dan iklimnya ringan dan hangat. Di sana ketinggian 3500 saja sudah tidak ada tanaman yang tumbuh. Namun kembali lagi perjalanan ini sangat berkesan karena 6 hari kami berendara semua medan yang kami lalui adalah gravel dan lumpur.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA