Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 28 Apr 2020 09:55 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Desa yang Jadi Warisan Budaya UNESCO di NTT

Rosita Uhau
d'travelers
Foto 1 dari 5
7 Mbaru Niang Kampung Wae Rebo
7 Mbaru Niang Kampung Wae Rebo
detikTravel Community -

Nama Kampung Adat Wae Rebo di Manggarai, NTT, tentu sudah populer di kalangan traveler. Destinasi ini juga masuk Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Sebuah pengalaman menarik dan berharga dalam catatan perjalanan saya saat menuju Timurnya Indonesia, tepatnya di kampung Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dikenal dengan sebutan kampung di atas awan dan dinyatakan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada Agustus 2012 dengan menyisihkan 42 negara lainnya. Luar biasa bukan?

Tidak hanya itu saja, letaknya yang berada di ketinggian 1.200 M di atas permukaan laut dan terdapat 7 rumah utama yang disebut "Mbaru Niang" menjadi daya tarik tersendiri.

Perjalanan panjang pun dimulai dengan rute Tanjung Selor - Tarakan - Makassar - Denpasar - Labuan Bajo - Ruteng - Wae Rebo.

Tanjung Selor (Kalimantan Utara) - Labuan Bajo (Flores, Nusa Tenggara Timur)

Saya butuh waktu dua hari untuk bisa tiba di Labuan Bajo, dimulai dari Tanjung selor menuju Tarakan menggunakan speedboat melewati sungai dan laut kurang lebih satu setengah jam. Selanjutnya bertolak menuju Makassar, memilih kota Makassar sebagai tempat perhentian pertama saya untuk keesokan harinya kembali melanjutkan perjalanan dengan rute Makassar - Denpasar - Labuan Bajo. Setelah berkali-kali harus naik turun pesawat saya pun tiba di Bandar Udara Komodo "Labuan Bajo", ini adalah perhentian kedua saya sebelum saya melanjutkan perjalanan darat menuju Kota Ruteng.

Labuan Bajo - Ruteng, Manggarai

Dari Labuan Bajo menuju kota 1000 Gereja "Julukan kota Ruteng", kami butuh waktu 4 jam menyusuri jalan Trans Flores yang terkenal dengan jalur berkelok berpadu pemandangan alam. Kota ini memiliki tempat tersendiri di hati saya selain dengan mudahnya saya menemukan gereja, warganya yang ramah membuat saya betah untuk berbincang-bincang sembari bersantai.

Bisa mengunjungi kampung Wae Rebo tidak lepas dari bantuan kawan saya yang tinggal di Flores, dari mencarikan saya guide hingga memastikan segalanya sudah dipersiapkan dengan baik kala itu.

Ruteng - Wae Rebo

"Nan" begitu saya memanggilnya, dia yang menjadi Guide saya menuju kampung Wae Rebo. Dari Ruteng ke desa Denge yang merupakan titik terakhir kendaraan melintas menggunakan motor metic yang kami sewa butuh waktu 3 jam. Dari sini perjuangan pun kembali dimulai, berbekalkan tongkat yang saya sewa "walau hanya seharga 10 ribu jangan lupa untuk dikembalikan ya."

Melintasi jalan yang masih berupa jurang tanpa pembatas, hingga tanah dan bebatuan licin ketika hujan diperlukan kehati-hatian saat melangkah, beruntung saat mendaki kami tidak di guyur hujan walau jalan berkabut karena diguyur hujan sebelum kami mendaki. Cuaca mulai cerah hingga tiba di pos dua, dari sini kita bisa melemparkan pandangan jauh ke depan untuk melihat lebatnya hutan dan laut biru di kejauhan.

Kembali menyusuri jalan setapak yang diselimuti hutan kami bertemu dua warga asli kampung Wae Rebo yang akan turun ke Desa Denge, sempat berbincang-bincang sembari mengamati atap kerucut yang sudah terlihat, "membuat saya semakin tidak sabar untuk cepat-cepat bisa sampai di sana."

Kampung Wae Rebo

Hampir 3 jam untuk sampai di pos terakhir sebelum benar-benar memasuki kampung. Hal wajib yang di lakukan sebelum memasuki kampung adalah membunyikan kentongan bambu yang berada pada pos kecil penanda kedatangan, ketika memukul pun tak boleh sembarangan, karena jumlah pukulan berarti jumlah wisatawan yang akan masuk.

Selain itu wisatawan tidak diperbolehkan melakukan segala aktifitas di area kampung termasuk mengambil gambar sebelum dilakukanya upacara penyambutan, yang disebut penduduk setempat "Pau Wae Lu" upacara ini bertujuan untuk memohon izin dan perlindungan kepada roh leluhur bagi wisatawan yang sedang berkunjung.

Setelah upacara selesai saya dibawa menuju salah satu "Mbaru Niang" tempat biasa para wisatawan menginap sekaligus membaur dengan pemilik rumah. Terlihat jelas keunikan saat berada di dalam rumah berbentuk kerucut beratap daun lontar anyam ditambah ijuk ini karena terbagi menjadi 5 tingkat dengan fungsinya masing-masing.

Tingkat kelima tingkat paling atas difungsikan sebagai tempat mereka menaruh sesaji untuk lelehur, turun ke bawah yaitu tingkat keempat sebagai tempat menyimpan stok makanan. Di bawahnya tingkat ketiga berfungsi sebagai penyimpanan benih untuk bercocok tanam. Untuk tingkat ke dua tidak jauh berbeda dengan tingkat keempat, fungsinya juga sebagai tempat penyimpanan makanan dan terakhir ruangan dasar diperuntukkan sebagai tempat tinggal.

Karena hari ini tidak ada wisatawan selain saya dan Nan, kamipun bebas memilih tempat tidur beralaskan tikar yang sudah tersusun melingkar di sudut-sudut ruangan. Selain unik proses pembangunan "Mbaru Niang" cukup menarik perhatian para arsitektur dalam hingga luar negeri. Pasalnya bangunan ini bisa berdiri kokoh meski tanpa menggunakan paku hanya diikat dengan rotan dan paku pasak.

Karena terlalu asyik mendengarkan cerita Nan, tak terasa kopi dan teh hangat digelas sudah habis, saya pun bergegas untuk mandi. Oh iya, walau kamar mandi tidak menyatu dengan "Mbaru Niang" letaknya berada di belakang tak jauh dari rumah. Sudah dilengkapi dengan closet duduk dan jongkok bagi para wisatawan, tapi jangan berharap ada air hangat untuk mandi. Pengalaman mandi di sana airnya terasa sangat dingin, tapi segar.

Hidangan makan malam sederhana telah di tata rapi di bagian tengah rumah, yang memang diperuntukkan sebagai tempat makan bersama. Setelah santap malam tak banyak yang bisa saya lakukan karena cuaca begitu dingin dan sempat gerimis sehingga saya memilih untuk berada di dalam "Mbaru Niang" sembari memainkan game offline. Tak ada layanan internet maupun sinyal sekedar untuk telepon, hanya tersedia aliran listrik walau hanya sampai pukul 22:00, tapi cukup untuk penerangan malam hari, mengisi daya handphone dan kamera.

Mencoba memejamkan mata setelah lampu padam dengan ditemani suara jangkrik dan gelak tawa dari rumah sebelah, begitu tenang rasanya berada di tengah-tengah suasana itu. Seketika gelak tawa tadi berubah menjadi isak tangis, tepat pukul 22:04 seorang warga kampung Wae Rebo meninggal dunia.

Lampu kembali menyala. Setelah merapikan diri saya dan Nan menuju rumah duka, tak seperti biasanya seperti di tempat saya, mereka masih memegang teguh tradisi sehingga saya tak mau melewatkan satu prosesi pun kala itu hingga upacara benar-benar selesai pada pukul 1 dini hari.

Warga yang datang mengisi sudut-sudut lingkar ruangan, ada yang ke sana ke mari mempersiapkan peralatan dan seekor ayam putih untuk ritual. Sepanjang rutual menggunakan bahasa manggarai, karena penasaran akan maknanya sesekali saya memberanikan diri untuk bertanya dengan senang hati pun mereka menjelaskan.

Yang menarik perhatian saya kala itu ketika seekor ayam putih di sembelih dan di buka bagian perutnya lalu di perlihatkan ke tetua. Menurut mereka, itu sebagai penentu waktu pemakaman jenazah. Sebuah pengalaman berharga bisa menyaksikan salah satu tradisi di negeri sendiri yang masih begitu kental dan sarat akan makna. Tak banyak wisatawan yang bisa menyaksikan hal serupa atau bahkan menghindarinya, tapi bagi saya ini adalah sebuah rezeki yang begitu luar biasa.

Mentari pagi ini bersinar cerah seolah bersahabat untuk memulai perjalanan kembali menuju Kota Ruteng. Setelah sarapan pagi kami pamit undur diri. Sebelum benar-benar melangkah menjauhi perkampungan, sejenak saya terdiam dan melihat sekeliling. Dan benar, tak sulit untuk bisa jatuh cinta pada kampung Wae Rebo dengan segala keterbatasannya. Mereka memegang teguh dan melestarikan tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka.




BERITA TERKAIT
BACA JUGA