Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 05 Mei 2020 11:29 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Catatan Perjalanan: Berakhir Pekan di Filipina dengan Bujet Mepet

riswihani
d'travelers
Foto 1 dari 5
Jeepney, transportasi paling popular di Manila
Jeepney, transportasi paling popular di Manila
detikTravel Community -

Akhirnya, ada kesempatan untuk melancong ke Manila. Berikut pengalaman saya mencapai ibu kota Filipina dengan pengeluaran sehemat mungkin, bahkan dari tiket penerbangan.

Awal tahun 2018 lalu, dengan berbekal promo tiket pesawat LCC pertama yang melayani rute langsung Jakarta-Manila, saya bisa menjelajah Manila selama sehari dengan bujet superminim. Saya bisa mendapatkan harga tiket Jakarta - Manila pulang pergi dengan harga Rp 1,1 juta.

Keuntungan kita sebagai pemegang paspor Indonesia yaitu bisa datang ke Filipina tanpa mengurus visa. ITu menjadi poin hemat lain untuk terbang ke Manila.

Karena saya pergi dengan tiket pesawat yang supermurah, saya pun mempunyai uang lebih untuk merasakan menginap di salah satu hotel paling terkenal di Manila. Ya, saya menginap di H2O hotel yang lokasinya satu kompleks  dengan salah satu objek wisata di Manila yaitu Manila Ocean Park.

Dengan berbekal satu tas ransel kecil saya flight selama 4 jam 35 menit menuju ke Ninoy Aquino International Airport Manila. Sampai di airport waktu sudah menjelang sore, yaitu sekitar pukul 02.50 waktu setempat. Manila memiliki beda waktu satu jam lebih cepat dari pada Jakarta.

Dari Airport saya memilih naik taksi menuju ke H2O Hotel. Hotel ini sangat menarik dengan sebagian bangunan terletak di atas laut. Traveler juga bisa memilih untuk menginap di kamar yang memiliki view laut dan cafe-cafe yang berada di balkon menghadap ke laut. Jika harga normal, hanya dengan membayar Rp 1,2 jutaan, namun kali ini saya juga mendapatkan harga promo hotel seharga  Rp 900 ribu.

Baca juga: Tak Hanya Jakarta, Ada Juga Tur Virtual Jelajah Indonesia & Dunia

Sore itu saya menghabiskan waktu untuk mengeksplorasi area sekitar hotel, jalan menelusuri walkway yang langsung menghadap ke laut, santai di tempat tidur atau sofa sambil melempar pandangan jauh ke ujung cakrawala, melihat kesibukan kapal dan ferry yang mondar-mandir. Kemudian, menjelang senja hingga malam saya bersantai di cafe untuk menikmati secangkir kopi hangat dan beberapa menu makanan yang saya pesan.

Keesokan harinya setelah berkemas, check-out dan breakfast sebelum meninggalkan hotel, lokasi pertama yang saya tuju adalah Manila Ocean Park, sayangnya jam operational tempat ini mulai dari jam 10.00 am hingga 09.00 pm. Setelah sarapan selesai, jam masih menunjukkan pukul 08.25, sementara masih sangat banyak destinasi yang ingin saya kunjungi selama satu hari di Manila. Saya pun memutuskan untuk berkeliling Manila Ocean Park hanya dari sisi luar dan sekitarnya.

Untuk menghemat waktu, mendekati pukul 09.00, saya berjalan keluar area ini menyeberang jalan utama. Di seberang jalan ini sekitar 300 meter terdapat destinasi berikutnya yaitu Rizal Park.

Di bagian tengah taman terdapat Monumen Jose Rizal yang dibangun pada tahun 1908 untuk mengenang jasanya. Tepat berhadapan dengan monumen ini terdapat tugu yang bergambar peta wilayah Filipina dan di belakangnya terdapat tugu Monumen Centennial Memorial Clock yang dibangun untuk memperingati 100 tahun kemerdekaan Filipina.

Di taman ini juga terdapat air mancur yang di sekeliling kolam nya terdapat patung setengah badan yang merupakan patung pahlawan Filipina. Lokasinya memang terlihat kurang tertata rapi, ada beberapa pedagang yang berjualan di sini.

Sekitar pukul 10.20 saya melanjutkan langkah kaki menuju ke pemberhentian angkutan umum paling populer disini yang di sebut dengan Jeepney yaitu transportasi yang bentuknya seperti oplet. Tarif nya sangat ekonomis, rata-rata hanya kisaran 20 peso saja untuk sekali jalan atau sekitar Rp 4500. Dengan menaiki Jeepney ini saya menuju ke Intramuros.

Setelah naik Jeepney sekitar 40 menit, dengan 1 kali transit berganti jurusan, saya tiba di Intramuros yang merupakan district tertua dan warisan sejarah di Manila. Kawasan tua ini menjadi pusat pemerintahan saat Filipina di jajah Spanyol.

Di gerbang Intramuros banyak pengumudi becak yang menawarkan jasa untuk paket keliling semua objek yang ada di dalam kawasan Intramuros. Karena kawasan ini cukup luas dan jika saya berkeliling dengan berjalan kaki akan menghabiskan waktu lebih dari 4 jam maka saya memutuskan untuk sewa becak. Harga sewa becak 300 peso atau sekitar Rp 70 ribu per jam. Saya sewa selama dua jam untuk berkeliling Intramuros memulai start dari Fort Santiago yang berupa benteng runtuh di utara Intramuros yang dibangun oleh Kolonial Spanyol.

Berkeliling dan foto di sini sekitar 15 menit kemudian melanjutkan jalan lagi dengan naik becak, di sebelah kanan jalan terdapat deretan cafe dan kantin tradisional yang terbuat dari kayu. Sebagian besar pengunjung adalah mahasiswa dan warga lokal. Tetapi, banyak juga turis asing yang ikut mencoba kuliner di kantin tradisional ini.

Kemudian saya menuju ke Puerta Real Gardens yang biasa digunakan sebagai taman untuk lokasi resepsi pernikahan. Kemudian melanjutkan lagi ke Ayuntamiento de Manila yang merupakan sebuah bangunan di sudut Andreas Soriano Avenue dan Cabildo Street menghadap Plaza de Roma. Bangunan ini juga dikenal sebagai Casas Consistoriales serta dijuluki sebagai Istana Marmer dan arsitektur nya di dominasi dengan warna putih serta jendela-jendela berukuran besar yang mencerminkan gaya arsitektur klasik Spanyol.

Baca Juga: Batu Lepe, Ikon Wisata Baru di Perbatasan Indonesia

Setelah itu melanjutkan ke Cathedral Manila. Di perjalanan, saya melihat keunikan di sepanjang jalan banyak terdapat sepeda yang terbuat dari bambu. Saya bertanya kepada supir becak dan dia mengantar saya ke tempat persewaan sepeda bambu yang bernama Bambike.

Sampai di Cathedral kita bisa melihat bangunan yang penuh dengan hiasan ukiran-ukiran perunggu dan jendela patri. Bangunan Basilika Katolik Roma ini di dedikasikan kepada Bunda Maria sebagai pelindung terpenting Filipina.

Tidak jauh dari Cathedral ini terdapat taman yang cukup luas dan dipenuhi hamparan rumput hijau. Setelah puas mengelilingi taman saya membeli souvenir di toko seberang taman kemudian lanjut naik becak ke Baluarte de San Diego yang bentuknya bulat dibagian tengah dan dibangun di sepanjang Kortina dengan tujuan untuk persiapan menghadapi penjajah. Sebelum mengakhiri tour ini saya mampir ke Memorare Manila 1945 yaitu lokasi untuk mengenang kejadian pada 3 maret 1945, pertempuran pembebasan Manila dari pasukan Jepang.

Dari intramuros saya minta di antarkan ke National Museum Of Filipina dengan menambah uang 100 peso saja. Museum ini merupakan lembaga pemerintah Filipina yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan kebudayaan. Disini kita bisa melihat koleksi antropologi, arkeologi dan seni rupa di Filipina.

Jam operasional mulai pukul 10.00 hingga 17.00. Sekitar pukul 15.00, saya menuju ke destinasi selanjutnya yaitu Cultural Center of The Philippines yang merupakan Pusat Kebudayaan Filipina. Dari lokasi ini saya menelusuri jalan di tepian laut menuju ke Manila Baywalk untuk menikmati sore di cafe tepi laut yang menurut saya adalah momen paling menyenangkan ketika melihat sunset sambil meneguk secangkir kopi di tepi laut.

Memandang pergantian hari dari terang menjadi gelap, marasakan hembusan angin sore yang meneduhkan hati. Cukup seru bukan,..? Dengan budget all-in sekitar Rp 2,5jt kita bisa menikmati waktu akhir pekan di Manila.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA