Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 17 Mei 2020 16:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengenang Euforia Grebeg Keraton Yogyakarta

Foto 1 dari 5
Masyarakat sedang menyaksikan arak-arakan gunungan dan prajurit Keraton
Masyarakat sedang menyaksikan arak-arakan gunungan dan prajurit Keraton
detikTravel Community -

Yogyakarta punya banyak tradisi yang ramai dilakukan pasca sebelum COVID-19. Salah satunya tradisi Grebeg Keraton Yogyakarta.

Tradisi Grebeg Keraton Yogyakarta diadakan ketika bertepatan dengan Hari Besar Islam. Hal itu pertama kali digagas oleh Sultan Hamengku Buwono I dan hingga saat ini, masyarakat percaya bila mendapat hasil rebutan dari Gunungan Grebeg akan membawa berkah.

Yogyakarta memang terkenal dengan kota budaya. Kalian pernah mendengar budaya tradisi grebeg di Yogyakarta? Tradisi Grebek diadakan bertepatan dengan Hari Besar Agama Islam, tujuannya awalnya adalah untuk menyebarkan ajaran Islam. Hal itu pertama kali digagas oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga saat ini.

Istilah Grebeg menurut sejarah berawal dari peristiwa keluarnya Sultan dari istana atau sering disebut dengan Miyos untuk memberikan gunungan kepada rakyatnya. Peristiwa keluarnya Sultan tersebut diibaratkan seperti suara tiupan angin yang keras sehingga menimbulkan bunyi grebeg.

Dalam satu tahun terdapat 3 kali Grebeg yaitu (Grebeg Syawal) dilaksanakan sebagai bentuk ucapan syukur dari keraton setelah melalui bulan puasa dan sekaligus menyambut bulan syawal. (Grebeg Maulud) diadakan untuk merayakan dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sedangkan (Grebeg Besar) diselenggarakan untuk merayakan Idul Adha yang terjadi di bulan Dzulhijah yang dalam kalender Jawa disebut bulan besar.

Upacara Grebeg ini diawali dengan parade prajurit Keraton Yogyakarta lengkap dengan senjata, panji dan alat musik. Pada akhir parade terdapat Gunungan yang merupakan tumpukan makanan yang menyerupai gunung yang menjadi ciri khas pada saat U pacara Grebeg.

Gunungan akan dibawa menuju Alun- alun Utara dan akan dibawa ke Masjid Gedhe Kauman untuk didoakan. Setelah didoakan, Gunungan tersebut akan direbutkan oleh masyarakat yang ikut dalam acara Grebeg tersebut. Gunungan tersebut berisi hasil bumi simbol kemakmuran Keraton Yogyakarta.

Acara Grebeg ini tidak dipungut biaya, masyarakat akan memadati Keraton Yogyakarta sejak pagi hari. Masyarakat biasanya rela berpanas-panasan demi hanya melihat acara grebeg maupun ikut memperebutkan gunungan. Masyarakat percaya bila mendapat hasil dari berebut gunungan akan membawa berkah. Acara Grebeg biasanya dimulai pukul 10.00 WIB.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA