World Muslim Tour Operations Conference 2013 telah di buka di Ningxia, China. Para peserta konferensi dari berbagai negara pun disambut dengan berbagai acara. Salah satu yang paling meriah adalah Bonfire Party.
Bonfire Party adalah pesta yang digelar di Shapotou Dessert di Zhongwei, Ningxia, China. Inilah pesta penyambutan yang diberikan pemerintah China, khususnya Ningxia dalam rangka mempromosikan wisata muslim China ke dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jaket tebal pun jadi teman setia seluruh orang malam itu. Maklum, cuaca sedang dingin-dinginnya yaitu sekitar 12 derajat Celcius. Pasir yang menjadi lantai kami pun terasa begitu dingin. Tak mau kalah, angin malam ikut berhembus dingin. Teh hangat khas China sedikit menghangatkan tubuh.
Tepat pukul 20.30 waktu setempat pesta dimulai. Sebuah panggung tampak megah dengan gemelap lampu. Ada banyak wanita dan pria berpakaian glamor melenggak-lenggok di atas panggung.
Peserta diminta duduk di tengah kursi dan meja yang dipenuhi aneka makanan. Aneka buah, roti dan sate bebek yang masih hangat dihidangkan. Semua tampak biasa saja, namun yang paling menarik adalah letaknya. Kursi dan meja ini berada tepat di tengah gurun pasir.
"Selamat datang untuk para peserta konferensi wisata muslim," ujar pemandu acara.
Tak lama kemudian, satu persatu penari muncul unjuk kebolehan. Selesai satu pertunjukkan, muncul pertunjukkan lain. Kali ini yang hadir adalah para wanita dengan pakaian muslim. Rupanya penari ini datang untuk memperkenalkan wisata muslim lewat tarian.
Selesai tarian, puncak acara dimulai. Tiga orang perwakilan peserta beranjak dari kursi menuju kayu yang disusun rapi.
Ketiganya memegang obor dan buzzzz! Kayu yang tersusun terbakar. Inilah Bonfire Party. Api unggun resmi menyala, para peserta lain mengelilingi api.
Nyanyi-nyanyian terdengar. Saya dan peserta lain ikut hanyut dalam kemeriahan. Bersama yang lain, saya menari mengelilingi api. Tak peduli bangsa, asal negara atau kulit, kami menari bersama sambil berpegangan tangan.
"Bagus banget, seru banget acaranya, kita jadi bisa tahu kebudayaan mereka juga," ujar salah satu peserta konferensi asal Jakarta, Dini kepada detikTravel.
Setelah satu jam, pesta pun berakhir. Tak peduli udara dingin yang semakin menggigit kulit, kami semua pulang dengan wajah penuh senyuman bahagia.
(ptr/aff)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong