Seperti yang terjadi pada suatu malam pekan lalu, saat detikTravel melipir ke kawasan ini. Seorang pekerja seks tiba-tiba keluar dari jendelanya. Dengan masih mengenakan bikini, ia menghampiri seorang turis yang berdiri persis di depan jendelanya.
"No picture please! You know what, I don't show my body for nothing," bentak PSK berambut pirang itu kepada si turis yang kepergok mengambil gambarnya dengan kamera ponsel. Tampak masih dongkol, perempuan itu pun masuk lagi untuk melanjutkan mejeng di balik jendela.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kejengkelan yang sama juga dirasakan oleh Olivia, seorang pekerja seks yang sempat berbincang dengan detikTravel. Meski tidak suka, ia memilih untuk tidak ambil pusing dengan kelakuan para turis yang suka curi-curi gambar karena turis dengan kelakuan seperti itu memang susah diatur.
"Kalau ditanya jengkel atau tidak, ya pasti jengkel. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak banyak yang bisa kita lakukan, karena orang-orang bisa dengan mudah menyembunyikan kameranya," keluh Olivia yang mengaku asli dari Amsterdam.
Untuk sekedar melihat-lihat tubuh molek yang berlenggak-lenggok di balik kaca jendela, para turis sebenarnya sangat dimanjakan di tempat ini. Tidak dipungut retribusi untuk masuk ke kawasan ini dan para pekerja seks pun cukup terbiasa dengan perilaku para turis yang hanya ingin 'window shopping'.
Bahkan tidak sedikit travel agent yang memang menawarkan paket jalan-jalan di kawasan Red Light District, baik untuk sekedar melihat-lihat dari jalan maupun masuk teater dan menonton pertunjukan live-sex-show. Untuk layanan yang disebutkan terakhir ini, teater Casa Rosso biasanya paling dibanjiri pengunjung meski sebenarnya ada banyak tempat serupa di kawasan ini.
Pengunjung yang penasaran dan ingin sekedar menanyakan tarif pun masih dilayani dengan ramah oleh sebagian pekerja seks, terutama yang masih muda. Tapi bagi para pekerja seks yang sudah berpengalaman, tidak sulit membedakan turis yang hanya iseng dengan turis yang serius minta dilayani.
"Terus terang itu buang-buang waktu. Saat ada orang iseng bertanya-tanya, maka pada saat itu orang lain yang lebih serius jadi tidak bisa melihat saya," kata Olivia yang mengaku berusia 27 tahun dan sudah 5 tahun berpraktik sebagai pekerja seks.
Cukup beralasan jika Olivia maupun pekerja seks lainnya agak pelit meladeni pertanyan-pertanyaan iseng. Untuk diketahui, harga sewa kamar tempat mereka 'praktik' memang tidak murah, yakni EUR 250 (sekitar Rp 3,75 juta) untuk durasi waktu 8 jam.
Dengan tarif kencan short-time sebesar EUR 50 per 20 menit, para pekerja seks di Red Light District minimal harus melayani 5 tamu dalam durasi tersebut, hanya untuk mencapai titik impas atau Break Even Point (BEP). Kurang dari angka tersebut, berarti harus nombok. Red Light District Amsterdam memang bikin geleng-geleng kepala...
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
PDIP Vs PSI Soal Jokowi Jalani Ritual Injak Kepala Kerbau di Lampung
Di Lampung, Jokowi Jalani Tradisi Injak Kepala Kerbau