Ketika mendarat di Bandara Ataturk, angin kencang langsung menyambut. Meski berada di tengah kota Istanbul, suasana pagi itu seperti berada di kawasan Puncak, Jawa Barat.
Meski waktu setempat masih menunjukkan pukul 07.10, lalu-lalang kendaraan terlihat cukup padat. Tak jauh berbeda dengan kota-kota maju lainnya. Tapi, langit biru tanpa awan di tengah bangunan pencakar langit sangat membedakan suasana yang biasa kita rasakan di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya, tak lama lagi saya akan tiba di kawasan Hagia Sophia. Kesan pertama ketika melihat Hagia Sophia dari jalan adalah sebuah gedung besar berwarna merah bata.
Banyak sekali sejarah umat beragama dalam bangunan tua yang kini menjadi museum tersebut. Dengan mengeluarkan biaya 25 Lira (Rp 140.000), semua bukti sejarah itu bisa Anda lihat.
Bagian dalam gedung berarsitektur eksotis itu seperti mempunyai daya sihir yang bisa membuat merinding. Tepat ketika melihat ke atap gedung berwarna kuning tua itu terdapat lukisan Bunda Maria. Sementara di dindingnya dihias dengan karikatur Allah dan Muhammad yang indah. Hagia Sophia dulunya adalah bangunan gereja yang diubah menjadi masjid.
Persis berada di depan Hagia Sophia terdapat Blue Mosque. Masjid yang memiliki 9 kubah itu juga diyakini warga Turki sebagai pengganti Hagia Sophia yang fungsinya telah berubah menjadi museum.
Ada satu hal yang menarik di kawasan tersebut. Suara adzan terdengar sahut-sahutan. Jika Anda berada persis di tengah-tengah kedua bangunan itu, maka suara adzan akan terdengar tak ada putusnya.
Tak jauh dari lokasi itu juga ada Istana Topkapi, istana raja-raja Dinasti Usmaniyah. Istana tersebut kini dialihfungsikan menjadi tempat wisata setelah dibangunnya Istana Dolmabahce yang lebih modern.
(sst/sst)










































