Tingkat kriminal yang rendah menjadikan Amsterdam sebagai salah satu kota paling ramah bagi turis. Namun sebaiknya tetap waspada, turis yang jalan sendirian di saat malam bisa jadi incaran tukang palak.
Dari pengamatan detikTravel selama 4 malam menjelajah kawasan remang-remang Red Light District, sedikitnya ada 2 jenis tukang palak yang beroperasi. Pertama, tukang palak yang terang-terangan minta uang dengan ancaman akan melukai korban bila tidak diberi uang.
Tukang palak yang satu ini pernah menghampiri detikTravel pada malam kedua. Kesan yang didapatkan, prosedur pemalakannya terlalu sopan karena terlebih dahulu ia menanyakan apakah korbannya adalah turis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan keterangan beberapa sumber, tukang palak seperti ini umumnya hanya memeras turis yang diyakininya benar-benar punya uang banyak. Turis Asia paling banyak diincar karena biasanya banyak membawa uang tunai. Ongkos perjalanan dari Asia ke Eropa cukup mahal sehingga turis Asia diasumsikan sebagai orang kaya.
Jenis tukang palak lain yang ditemukan di tempat ini menggunakan modus menukarkan uang receh. Tidak banyak yang menggubris tukang palak jenis kedua ini, sebab jika memang butuh receh maka seharusnya ia bisa menukarnya di bar dengan membeli sesuatu.
Lagipula dalam pengamatan selama 4 malam, sepertinya hanya orang yang itu-itu saja yang setiap malam selalu butuh uang receh. Caranya meminta tukar uang pun canggung, sama sekali tidak meyakinkan bahwa dia benar-benar butuh menukar uang.
Samira, pemandu wisata lokal yang mendampingi detikTravel selama kunjungan di Amsterdam menjamin bahwa kawasan Red Light District relatif aman bagi turis, sekalipun di waktu malam. Terkait pengalaman buruk dengan tukang palak, ia mengatakan tidak perlu terlalu khawatir.
Menurutnya, tukang palak iseng seperti itu umumnya tidak berani macam-macam karena polisi di Amsterdam cukup rajin berpatroli. Bila didatangi tukang palak, ia menyarankan untuk menyingkir saja dan tidak usah menganggapi. Apapun yang dikatakan, tidak usah didengarkan.
"Kalau mereka masih nekat, berhenti dan bilang padanya 'If you don't stop, I'll call the police'. Biasanya kalau dengar kata 'police', mereka takut," saran Samira.
Selain tukang palak, penjaja kokain yang selalu ada di setiap sudut jalan selepas tengah malam juga cukup mengganggu kenyamanan. Mereka menghampiri turis yang sedang sendirian, lalu menawarkan dagangannya dengan cara bisik-bisik dan akan terus membujuk sampai dagangannya laku.
"Narkotika yang mereka tawarkan itu 'fake'. Tidak dibenarkan untuk menjual atau memakai narkotika di jalanan. Dan kalau Anda butuh ganja, tempatnya di cafeshop, bukan di jalanan," pesan seorang petugas polisi yang kebetulan melintas dan membantu detikTravel mengusir penjaja kokain yang menyebalkan itu.
(/)












































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
Provinsi Jawa Barat Mau Ganti Nama Jadi Sunda, Budayawan Cirebon Tanya Urgensinya Apa?
Kasihan! Tapir yang Viral di Lampung Disembelih Warga, Dimasak Jadi Rica-rica