Melestarikan dan mewariskan kepada generasi berikutnya menjadi salah satu tantangan keluarga pengrajin bambu yang terkenal di Jepang, keluarga Tanabe Chikuunsai. Shouchiku Tanabe sebagai penerus generasi keempat ini berpikiran cukup terbuka. Dia tak mau memaksa anaknya. Namun dia tetap punya cara agar anaknya tertarik pada bidang kerajinan ini.
"Di Jepang kini ada sekitar 4 keluarga pengrajin bambu (termasuk keluarga Tanabe Chikuunsai-red). 3 Lainnya sudah tidak diteruskan oleh anak-anaknya, kalau saya tidak meneruskannya, siapa lagi?" kata Shouchiko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai generasi muda, dirinya tak mau memaksa anak-anaknya meneruskan kerajinan ini. Namun Shouchiko memiliki cara sendiri.
"Anak saya dua, yang paling tua masih berumur 5 tahun. Saya tidak bermaksud memaksa anak saya meneruskan kerajinan ini, tapi saya ingin membentuk lingkungan agar anak saya menikmati membuat kerajinan bambu, dengan menimbulkan rasa, itu yang penting," ungkap Shouchiku.
Dia lantas menunjukkan foto-foto dalam iPad-nya. Dalam foto itu terlihat anak-anaknya bermain di bengkel ayahnya, dikelilingi benda-benda dari bambu. Tampak Shouchiku sendiri mengajak bermain anak-anaknya memanfaatkan benda-benda bambu di sekitarnya.
"Tahun depan keluarga kami akan merencanakan pameran keluarga, anak saya akan ikut. Saya akan berdemonstrasi bersama," tutur Shouchiko sambil tersenyum ramah.
Mengenalkan kerajinan bambu sejak dini ini rupanya juga sudah merupakan tradisi keluarga Tanabe. Shouchiku sendiri sudah diperkenalkan kerajinan bambu ini sejak umur 3 tahun.
"Saya sudah belajar membuat bambu sejak umur 3 tahun, sampai-sampai jempol kanan saya terluka," imbuh Shouchiko sambil menunjukkan bekas lukanya yang sudah samar.
Chikuunsai sendiri adalah gelar yang diberikan kepada kakek buyutnya yang bernama asli Tuneo, putra ketiga dari Tanabe Shinjyou. Tuneo mendapatkan gelar itu saat berusia 24 tahun pada tahun 1901 dari guru seni kerajinan bambunya di Osaka, Wada Waichisai I. Kemudian gelar Tanabe Chikuunsai diwariskan turun temurun kepada keturunan yang paling ahli dalam membuat kerajinan ini.
Kakek Shouchiku, Tanabe Chikuunsai II, anak pertama dari kakek buyutnya bahkan sempat mengejutkan pengunjung pameran seni ayahnya karena sudah bisa menganyam dengan pola heksagonal saat berusia 5 tahun! Ayahnya, Hisao Tanabe atau Tanabe Chikuunsai III, sudah pandai membuat keranjang bambu sejak masih SD.
Shouchiku Tanabe sendiri selain belajar dari keluarganya, dia memperdalam seni melalui sekolah formal seperti mengambil jurusan fine art di SMA Osaka Craft, dan jurusan seni patung di Tokyo Art University. Kini, dirinya sering diundang pameran di berbagai belahan dunia.
"Saya sangat bersemangat keliling ke luar negeri untuk memberikan seminar, workshop menyebarkan budaya Jepang. Tiap tahun saya ke AS, Eropa, Prancis, Inggris, Swiss dan Belanda. Saya sangat semangat hidup di dunia globalBambu pada dasarnya ada di Asia, tapi untuk art ada di Jepang, yang saya lakukan adalah ekspresi identitas Asia," kata dia.
"Saya percaya tradisi itu tantangan, tidak boleh berhenti untuk membuat sesuatu yang baru," tuturnya.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5