Les Fetes de Gayant, begitu nama festival yang telah berlangsung ratusan tahun ini. Festival ini berawal pada tahun 1530 di Kota Douai di utara Prancis, yang dulu ditempati oleh pasukan Spanyol. Pada awalnya, festival ini digelar untuk merayakan kekalahan Prancis atas Spanyol.
Masyarakat lokal kemudian membuat boneka kayu raksasa bernama 'Gayant', yang merepresentasikan pahlawan sekaligus pendeta terkemuka di kota tersebut yakni Saint Maurand. Gayant inilah yang menjadi sosok utama parade boneka di utara Prancis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Atlas Obscura, Senin (24/2/2014), tiap bulan Juli keluarga boneka kayu ini diarak keliling kota. Bahkan setelah Douai resmi menjadi bagian dari Prancis pada 1667, festival ini tetap berjalan meski sempat dilarang.
Halangan tak sampai di situ. Pada Perang Dunia II, Kota Douai ditempati pasukan Nazi. Mereka pun membakar keluarga boneka kayu raksasa tersebut.
Namun pada akhir Perang Dunia II, festival tersebut kembali digelar. Boneka-boneka kayu raksasa itu dibuat kembali dengan tinggi beragam. Mulai dari 2,4 meter sampai 8,2 meter.
Dua boneka kayu yang paling besar, yakni Gayant dan istrinya, masing-masing butuh 6 orang agar bisa bergerak keliling kota. Sementara boneka kayu anaknya hanya butuh masing-masing 1 orang. Boneka Gayant itu sendiri berbentuk seperti ksatria.
Sulit rasanya membayangkan boneka-boneka kayu ini sudah bertahan ratusan tahun lamanya. Kalau berkunjung ke Prancis pada pertengahan tahun, Douai bisa jadi destinasi unik untuk Anda.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
Bule Australia Terlunta-lunta di Bali, Hidup di Bangunan Kosong-Kakinya Luka
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal