Piala Dunia 2026 menghadirkan tantangan baru bagi para kontestan. Selain harus bersaing di lapangan, tim-tim juga dituntut beradaptasi dengan perjalanan jarak jauh karena turnamen digelar di tiga negara dan empat zona waktu berbeda.
Republik Ceko menjadi salah satu tim yang merasakan beratnya tantangan tersebut. Setelah menjalani laga pembuka melawan Korea Selatan di Guadalajara, Meksiko, tim itu kembali ke markas latihan di Dallas, Amerika Serikat, untuk bersiap menghadapi pertandingan berikutnya di Atlanta.
Setelah itu, mereka harus kembali lagi ke Meksiko untuk laga terakhir fase grup. "Kami hanya harus menerimanya karena memang itulah yang sudah direncanakan untuk kami," kata pelatih Republik Ceko, Miroslav Koubek, dikutip dari AP, Rabu (17/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami senang bisa berada di sini dan ingin meraih hasil terbaik. Logistik kami berjalan baik, tetapi tentu tidak ideal jika harus melakukan perjalanan sejauh itu," lanjutnya.
Tim debutan Curacao juga menghadapi jadwal yang tidak ringan. Dengan pusat latihan di Florida, mereka diperkirakan menempuh sekitar 8.600 kilometer pulang-pergi untuk menjalani pertandingan di Houston, Kansas City, dan Philadelphia. Bosnia-Herzegovina bahkan harus menempuh sekitar 8.400 kilometer dari markas mereka di Utah menuju Toronto, Los Angeles, dan Seattle selama fase grup.
Pelatih Turki, Vincenzo Montella, mengatakan timnya tidak punya pilihan selain beradaptasi. Turki bermarkas di Arizona, sekitar 1.930 kilometer dari Vancouver, lokasi pertandingan pertama mereka melawan Australia.
"Inilah kenyataannya, kami harus beradaptasi," ujar Montella.
Menurutnya, perjalanan panjang membuat proses pemulihan fisik pemain menjadi lebih sulit. Namun, kondisi tersebut merupakan bagian dari tantangan yang harus dihadapi semua peserta.
"Amerika Serikat sangat besar, Kanada sangat besar, Meksiko juga besar. Kami harus beradaptasi. Ada hal-hal yang tidak bisa diubah dan tidak bisa dipilih, kami hanya harus menyesuaikan diri agar tidak punya alasan," lanjut Montella.
Tak hanya perjalanan, kondisi geografis dan cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Korea Selatan, misalnya, harus beradaptasi dengan ketinggian Mexico City yang berada sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut dan Guadalajara yang berada di ketinggian sekitar 1.500 meter.
Pelatih Korea Selatan, Hong Myung-bo, mengatakan timnya sudah melakukan latihan khusus untuk menghadapi kondisi tersebut. Meski demikian, dampaknya tetap terasa saat pertandingan berlangsung.
"Pada babak kedua, kami bisa melihat semua pemain sangat kelelahan," ucap Hong.
Sementara mengutip CNN, pelatih dan para pemain Iran secara terbuka mengungkapkan kekecewaan mereka karena harus terbang kembali ke markas latihan di Tijuana, Meksiko, pada Senin malam, tak lama setelah bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru.
Pelatih Amir Ghalenoei mengatakan timnya semula mengira akan menginap semalam di California sebelum kembali ke Tijuana, namun mereka justru diperintahkan segera naik pesawat setelah pertandingan berakhir.
"Mereka bahkan tidak memberi kami waktu untuk pemulihan," kata Ghalenoei seperti dikutip Associated Press.
"Setelah pertandingan hari ini, mereka mengatakan kepada kami, 'Anda harus segera pergi.' Bagi kami, waktu untuk pemulihan sangat penting, tetapi kami diminta langsung naik pesawat dan kembali ke kamp latihan di Tijuana. Kami benar-benar kesulitan dengan situasi ini," lanjutnya.
Dalam wawancara yang ditayangkan CBS News pada Senin, Direktur Eksekutif Satuan Tugas Piala Dunia AS, Andrew Giuliani, menyatakan bahwa tim Iran memang dijadwalkan berangkat pada malam hari setelah pertandingan. Seorang juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) mengatakan kepada CNN bahwa pihak Iran sebenarnya telah menyetujui ketentuan tersebut.
Di sisi lain cuaca panas dan kelembapan tinggi di sejumlah kota tuan rumah juga mulai dikeluhkan pemain. Penyerang Brasil, Vinicius Junior, mengaku kondisi tersebut memengaruhi permainan timnya saat menghadapi Maroko.
"Karena cuaca dan panas, lapangan cepat mengering sehingga permainan menjadi tersendat dan kami tidak bisa menjaga ritme pertandingan. Itu menyulitkan kami karena kami ingin memainkan bola dari satu sisi ke sisi lain," sebutnya.
Meski begitu, Vini menyadari semua tim menghadapi situasi yang sama sepanjang turnamen. "Tetapi kami harus beradaptasi karena saya yakin kondisi seperti ini akan terjadi sepanjang kompetisi dan semua tim bermain di lapangan yang sama," lengkap Vini.











































Komentar Terbanyak
Aturan Bagasi Gratis Garuda Indonesia Berubah Mulai 1 September 2026
Curhatan Wisatawan Situ Bagendit: Tempatnya Nyaman, tapi Apa-apa Bayar
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan