Ayutthaya adalah ibukota Thailand di masa lampau sebelum pindah ke Bangkok. Kini, Ayutthaya menjadi destinasi wisata sejarah, karena di kota ini bertebaran reruntuhan kerajaan Siam.
Meski demikian, sejumlah bangunan bersejarah masih sangat terawat di dalam kawasan Ayutthaya Historical Park. Bayangkanlah kompleks Candi Prambanan, tapi lebih luas dengan reruntuhan candi yang lebih menyebar.
detikTravel menjelajah Ayutthaya bulan lalu bersama Tourism Authority of Thailand (TAT). Ada satu tempat spesial yang dituju di dalam kompleks Ayutthaya Historical Park ini yaitu vihara bernama Phra Mongkhon Bophit.
Cuaca panas terik saat itu di Ayutthaya, membuat saya memang ingin bergegas masuk ke vihara yang atapnya tampak menjulang tinggi dari kejauhan ini. Begitu masuk di pintu utama ini, langsung tampak patung Buddha yang besarnya bukan main!
Keterangan di dalam vihara menyebutkan Phra Mongkhon Bophit adalah patung Buddha perunggu paling besar di Thailand. Ini adalah patung Buddha duduk bersila. Lebar patung dari rentang dua kaki Buddha adalah 9,55 meter. Tinggi patung diukur dari posisi duduknya adalah 12,45 meter.
Karena Buddha ini berwarna keemasan, hampir tidak percaya kalau ini hanya perunggu saja. Patung ini dibangun di awal periode Ayutthaya sekitar tahun 1448-1602. Bangunan pelindung patung Buddha ini direnovasi dan diubah menjadi vihara dan restorasi Phra Mongkhon Bophit selesai di masa Raja Boroma Kote (1742-1743).
Pada kejatuhan Ayutthaya tahun 1767, atap vihara kebakaran. Kepala dan tangan kanan patung Buddha perunggu raksasa ini rusak. Phra Mongkhon Bophit pulih sepenuhnya direstorasi tahun 1956.
Yang agak beda, patung Buddha ini tidak tersenyum layaknya patung Buddha pada umumnya. Untuk yang satu ini, pemandu saya punya cerita.
"Patung Buddha ini dibangun ketika kerajaan Thailand sedang dalam peperangan dengan Kamboja. Sehingga wajah Buddha yang dibangun pun menunjukan sikap galak," kata Nee, pemandu saya.
Suasana di dalam vihara memang begitu tenang dengan sebagian pengunjung yang datang memang untuk berdoa. Kita bisa berjalan-jalan melihat interior vihara. Yang menarik perhatian saya adalah sejumlah patung Buddha yang ditempeli kertas emas.
Yak betul, emas betulan dicetak setipis dan seringan kertas. Kertas emas ini berukuran kecil sekitar 5x5 cm. Kertas ini ditempeli di patung Buddha sebagai persembahan umat untuk vihara.
Tidak ada yang berani mengorek lapisan emas ini, tentu saja. Lapisan emas ini dibiarkan tua dan teroksidasi, sehingga warnanya berubah menjadi kehijauan. Antik dan artistik.
Puas menikmati patung Phra Mongkhon Bophit, kaki pun beranjak keluar vihara. Bagian reruntuhan Ayutthaya yang lain menggoda hati saya untuk terus menjelajah kota kuno ini.
(fay/shf)












































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
Provinsi Jawa Barat Mau Ganti Nama Jadi Sunda, Budayawan Cirebon Tanya Urgensinya Apa?
Kasihan! Tapir yang Viral di Lampung Disembelih Warga, Dimasak Jadi Rica-rica