Mumbai -
Mumbai, India tak hanya terkenal bagi wisatawan sebagai sentra film Bollywood. Mumbai juga punya jalan tol di atas laut seperti di Bali. Nama jalan tol itu Rajiv Gandhi Sea Link dan jadi ikon pembangunan di sana.
detikTravel menjajal jalan tol ini saat traveling ke Mumbai beberapa waktu lalu. Inilah sejumlah kesan dan informasi saat mencoba jalan tol di atas laut ini:
1. Solusi macet di Mumbai
(Angga/detikTravel)
|
Jalan tol di atas laut ini juga dikenal dengan nama BandraβWorli Sea Link. Jembatan ini menghubungkan bagian Barat Mumbai yang merupakan daerah pemukiman di pinggiran kota dan bagian Selatan Mumbai yang merupakan pusat bisnis. Jembatan ini adalah solusi untuk menghindari kemacetan di antara utara dan selatan Mumbai.
2. Bayar tol seperti di Indonesia
(Angga/detikTravel)
|
Untuk masuk ke jembatan tol ini kita harus siap merogoh kocek yang bervariasi. Tarifnya untuk mobil ukuran kecil mulai dari 55 rupee (Rp 10.500) untuk sekali jalan, 82,5 rupee (Rp 15.800) untuk bolak-balik, dan 137,5 rupee (Rp 26.400) untuk seharian. Tarif mobil van berukuran sedang berbeda, begitu juga truk dan bus yang lebih mahal.
3. Antrean panjang
(Angga/detikTravel)
|
Mirip di Indonesia, pintu tol di sini juga antre. Bahkan di saat hujan, saat detiktravel mencoba jembatan tol ini pekan lalu, antrean mobil malah tambah panjang.
4. Bikin deg-degan saat badai
(Angga/detikTravel)
|
Cukup menegangkan juga melintasi jembatan ini di kala hujan yang cukup deras. Pasalnya, laut yang berada di bawah jembatan berombak cukup kencang, belum lagi ditambah angin yang bertiup cukup kencang.
Perjalanan dari ujung barat ke ujung selatan jembatan ini ditempuh tidak lama, hanya sekitar 20 menit saja ketika jalanan ramai lancar. Namun jika jembatan ini sedang padat, waktu tempuhnya bisa sampai 60 menit.
5. Puluhan ribu kendaraan/hari
(Angga/detikTravel)
|
Dalam sehari, jembatan tol ini melayani hingga 37.500 kendaraan roda empat per hari. Jembatan ini merupakan proyek Maharashtra State Road Development Corporation (MSRDC) yang dikerjakan oleh Hindustan Construction Company dengan biaya 16 miliar rupee (Rp 3,1 triliun).
6. Kawasan kumuh di Mumbai
(Angga/detikTravel)
|
Saat melintasi BandraβWorli Sea Link, kita juga akan melihat kawasan pemukiman kumuh di Mumbai. Seperti halnya di Jakarta, kita bisa melihat hal yang kontras antara gedung-gedung pencakar langit dan pemukiman kumuh di pinggir jembatan.
Jalan tol di atas laut ini juga dikenal dengan nama BandraβWorli Sea Link. Jembatan ini menghubungkan bagian Barat Mumbai yang merupakan daerah pemukiman di pinggiran kota dan bagian Selatan Mumbai yang merupakan pusat bisnis. Jembatan ini adalah solusi untuk menghindari kemacetan di antara utara dan selatan Mumbai.
Untuk masuk ke jembatan tol ini kita harus siap merogoh kocek yang bervariasi. Tarifnya untuk mobil ukuran kecil mulai dari 55 rupee (Rp 10.500) untuk sekali jalan, 82,5 rupee (Rp 15.800) untuk bolak-balik, dan 137,5 rupee (Rp 26.400) untuk seharian. Tarif mobil van berukuran sedang berbeda, begitu juga truk dan bus yang lebih mahal.
Mirip di Indonesia, pintu tol di sini juga antre. Bahkan di saat hujan, saat detiktravel mencoba jembatan tol ini pekan lalu, antrean mobil malah tambah panjang.
Cukup menegangkan juga melintasi jembatan ini di kala hujan yang cukup deras. Pasalnya, laut yang berada di bawah jembatan berombak cukup kencang, belum lagi ditambah angin yang bertiup cukup kencang.
Perjalanan dari ujung barat ke ujung selatan jembatan ini ditempuh tidak lama, hanya sekitar 20 menit saja ketika jalanan ramai lancar. Namun jika jembatan ini sedang padat, waktu tempuhnya bisa sampai 60 menit.
Dalam sehari, jembatan tol ini melayani hingga 37.500 kendaraan roda empat per hari. Jembatan ini merupakan proyek Maharashtra State Road Development Corporation (MSRDC) yang dikerjakan oleh Hindustan Construction Company dengan biaya 16 miliar rupee (Rp 3,1 triliun).
Saat melintasi BandraβWorli Sea Link, kita juga akan melihat kawasan pemukiman kumuh di Mumbai. Seperti halnya di Jakarta, kita bisa melihat hal yang kontras antara gedung-gedung pencakar langit dan pemukiman kumuh di pinggir jembatan.
(ptr/fay)
Komentar Terbanyak
Aturan Bagasi Gratis Garuda Indonesia Berubah Mulai 1 September 2026
Curhatan Wisatawan Situ Bagendit: Tempatnya Nyaman, tapi Apa-apa Bayar
Viral Turis Lokal Diusir dari Pantai Bali, Pemilik Warung Klarifikasi