Unik! Ada Kafe Bertema Zaman Komunis di St Petersburg

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Rusia

Unik! Ada Kafe Bertema Zaman Komunis di St Petersburg

- detikTravel
Jumat, 22 Agu 2014 11:53 WIB
Unik! Ada Kafe Bertema Zaman Komunis di St Petersburg
Ukha, roti Rusia dan vodka, makanan khas zaman komunis (Aji Surya/detikTravel)
St Petersburg - Punya waktu 2 jam di kota tua St Petersburg, Rusia, banyak hal bisa dilakukan wisatawan. Daripada tidak tuntas semua, lebih baik bernostalgia dengan kejayaan komunis di sebuah kafe yang unik bernama Soviet Cafe.

Minggu ketiga Agustus, adalah tanggal yang tanggung untuk menjelajah sebuah kota di bagian barat Rusia. Matahari sudah malas keluar, angin mulai bertiup sementara hujan sewaktu-waktu datang. Dengan ketersediaan waktu yang sangat singkat, kaki ini harus diayun ke arah yang tepat dan akurat.

Sore itu, saya berada di Nevsky Prospek. Titik paling ramai di kota yang dibangun Kaisar Peter. Sama dengan Champs Elysees di Paris, atau Malioboro di Yogya. Inilah jantung kota yang sesungguhnya di St Petersburg.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sini semua kebutuhan pelancong ada. Trotoar lebar dengan gedung-gedung kuno. Toko aneka barang bermerek. Jalanan dengan mobil-mobil mewah unjuk gigi. Juga, tempat pacaran muda-mudi, setengah baya, termasuk kaum lesbi. Wah!

Tiba-tiba, mata ini terjebak sebuah kafe dengan berwarna merah: Soviet Cafe dengan logo USSR. Wow, tanpa pikir panjang, langsung saja kaki diayun ke kafe bawah tanah dalam arti yang sebenarnya itu.

Aroma komunis memang langsung menyentak mata, telinga dan perasaan saya ketika pintu dibuka. Suasana remang, dekorasi jadul dan lagu-lagu masa komunis membawa pengunjung ke masa 25 tahun silam.

Foto kosmonot Yuri Gagarin dan penyanyi-penyanyi bergaya Elvis Presley dipajang di dinding. Bangku kuno dengan dekorasi model kotak-kotak membawa suasana sayu. Sedangkan pelayan berkaos merah tanpa senyuman di bibir, sungguh melengkapi suasana komunis. Hampir tidak ada sesuatu yang modern. Edan tempat ini!

Sebelah saya, seorang ibu setengah baya asyik ngobrol dengan anak gadisnya. Tidak ada keceriaan, tawa dan canda. Dua gelas besar berisi bir menemani perhelatan mereka. Sementara di bangku depannya sepasang suami istri tua menikmati vodka sambil bermain domino. "Kharoso (bagus)!" teriaknya.

Dari berbagai menu yang disajikan, akhirnya saya ambil yang paling ekstrim berbau Soviet. Sop ikan ukha, sepotong roti isi dan tentu satu sloki vodka. Rasanya tiga komponen ini sudah cukup mewakili aroma dan nuansa kejayaan komunis Uni Soviet.

Lama menunggu datangnya pesanan adalah hal normal di negeri mantan adidaya ini. Justru waktu senggang itu saya pakai untuk menikmati suasana sambil melayangkan angan-angan ke masa lalu.

Muncul di benak, ketika kota ini termehek-mehek dikepung tentara Prancis dan rakyatnya makan daging dari kulit sepatu. Mengelana jauh tatkala Leningrad sebagai ibukota, hingga kunjungan Presiden Soekarno kesini atas undangan Kruschev. Semua campur aduk jadi satu.

Tiba-tiba sop ukha datang ke meja. Tidak berani sendirian, alias ditemani sekepal roti isi daging ikan dan satu gelas kecil vodka. Dari aromanya, sungguh menggugah selera. Ukha yang panas ditambah roti hangat plus vodka sekeras spirtus. Wah, Soviet banget!

Setelah dipikir-pikir sejenak, vodka mendapat previlege untuk disambangi terlebih dahulu. Dua tahun tidak menyeruput vodka membuat rasa kangen yang membuncah. Aromanya yang khas sudah mengundang nafsu. Pasti mak nyos!

Benar saja, ketika tetesan pertama vodka menyentuh lidah, sontak membuat kaget seluruh tubuh. Mulai mata, hidung, telinga, dan bahkan rambut terasa tegak berdiri. Seperti ledakan mercon. Bagaikan api yang menyengat. Stop, jangan dilanjutkan. Cukup sekian dulu, jika diteruskan bisa mabuk.

Kini giliran menyeruput ukha, sop ikan salmon. Konon, sop ini merupakan warisan masa Tsar, walaupun ada yang bilang berasal dari Armenia. Yang jelas, makanan berkuah panas tersebut rasanya sangat gurih, seperti sop buntut di hotel Borobudur Jakarta. Rempah-rempahnya terasa mulai di ujung lidah dan biasanya nyangkut di langit-langit mulut. Selain ikan, potongan kentang menambah gelora makan semakin bergelora.

Agar lebih eksotis, di tengah makan sop, gigi ini menggigit roti Rusia. Meskipun enaknya bisa dibilang sangat jauh dari roti Prancis, namun yang penting eksotika komunis tetap kental. Maklumlah, zaman roti itu populer, gandumnya pasti kawe nomor sekian. Namanya juga masa komunis!

Menikmati makanan Soviet di kafe kuno begini kadang menyenangkan. Mengingatkan pada suasana tertentu di masa lalu. Apalagi, video yang diputar di TV kafe itu menggambarkan kegiatan spionase di masa perang dingin. Kejar-kejaran dengan mobil Lada dan Ziguli tak bisa dielakkan. Sungguh elok dan menakjubkan.

Untuk menetralisir semua goyang lidah berselera ala komunis sore tersebut, saya pesan satu cangkir cappucino. Rasa manis sedikit pahit layak sebagai sajian penutup yang paripurna. Persis seperti sebuah tulisan berwarna merah komunis di WC kafe yang berbunyi: Berikan Daku Kesempurnaan!

Tidak terasa, satu jam sudah berlalu. Saya harus berlari menuju stasiun agar tidak ketinggalan kereta cepat Sabsan. Duduk menikmati aroma komunis ternyata hanya seharga kisaran 10 dolar, atau 120 ribu rupiah. Terasa murah di tengah kota besar St Petersburg.

Sore itu, kereta yang saya tumpangi melaju kencang menuju kota Moskow. Perjalanan 4 jam terasa sangat singkat. Maklumlah, saya terlelap tidur akibat vodka dan ukha yang mengalir ke seluruh jaringan darah. Sungguh, saya telah melewati sebuah perjalanan singkat yang tak sia-sia.

M Aji Surya adalah penulis buku-buku tentang Rusia

(fay/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads