Suku Malagasi di Madagaskar, Berdansa dengan Tulang jenazah

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Travel Highlight Suku Unik

Suku Malagasi di Madagaskar, Berdansa dengan Tulang jenazah

- detikTravel
Kamis, 04 Sep 2014 15:53 WIB
Suku Malagasi di Madagaskar, Berdansa dengan Tulang jenazah
Suku Malagasi yang tengah berdansa dengan tulang leluhur (Youtube)
Hauts Plateaux - Upacara kematian tidak hanya di Toraja, tapi juga di Madagaskar. Suku Malagasi yang tinggal di sana punya upacara unik untuk mengingat kematian. Famadihana, upacara dimana mereka berdansa dengan tulang jenazah.

Suku Malagasi di Hauts Plateaux mempercayai adanya hubungan antara orang mati dan orang yang masih hidup. Dilansir oleh detikTravel dari berbagai sumber, Kamis (4/9/2014), mereka melakukan upacara unik Famadihana ini 7 tahun sekali.

Suku Malagasi yang masih menganut kepercayaan mereka, merayakan Famadihana sebagai perwujudan rasa cinta kepada anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Caranya pun cukup unik, mereka membongkar kuburan leluhur dan mengambil tulang belulangnya yang masih tersisa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Upacara ini masih dilakukan oleh orang Merina dan Batsileo yang bermukim di dataran tinggi tengah. Sekali pun agama seperti Katolik Roma dan Protestan telah masuk, tradisi unik ini masih dilestarikan.

Membongkar kuburan memang dianggap tabu di Indonesia, tapi dianggap biasa oleh Suku Malagasi. Setelah membongkar dan mengambil tulang leluhur, tulang itu dibungkus dengan kain dan tikar yang diikat oleh tali. Kegiatan itu pun disambut dengan kegembiraan oleh anggota keluarga yang masih hidup.

Bagi Suku Malagasi, orang mati tidak sepenuhnya meninggal. Mereka yang telah meninggal masih dapat berkomunikasi dengan sanak keluarga yang masih hidup. Orang mati menjadi penghubung antara Tuhan mereka, Zanahary Sang Pencipta, dengan orang yang masih hidup.

Orang mati dianggap sebagai 'Tuhan di Bumi' oleh Suku Malagasi. Dalam proses pembuatan kuburannya juga tidak sembarangan, semuanya dilakukan dengan ketelatenan. Ada yang makamnya terbuat dari batu, kaca, sampai diukir. Semuanya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing.

Layaknya festival, sang pemilik hajat menyediakan berbagai makanan dan minuman, tidak lupa hiburan musik. Semua peserta undangan bernyanyi dan berpesta dalam Famadihana. Daging ternak pun dipotong, dagingnya dibagikan ke tamu undangan.

Untuk sanak saudara yang merayakan Famadihana, perlu melakukan ritual tambahan. Mereka harus mendekati bungkusan tulang, bersukacita, dan membuka bungkusannya. Barulah anggur disiramkan ke atas tumpukan tulang dan ditutup kembali. Terakhir, bungkusan berisi tulang leluhur dikuburkan kembali ke tanah, ditutup tarian.

Kalau Anda tertarik untuk menyaksikan Famadihana di Madagaskar, pastikan dulu tanggal dan tahunnya. Famadihana biasanya dilakukan antara bulan Juli dan September. Acara ini terbuka dan dapat disaksikan oleh siapa saja. Bersiaplah untuk bersukacita dan larut dalam tarian kegembiraan Suku Malagasi.

(shf/shf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads