Suku Malagasi di Hauts Plateaux mempercayai adanya hubungan antara orang mati dan orang yang masih hidup. Dilansir oleh detikTravel dari berbagai sumber, Kamis (4/9/2014), mereka melakukan upacara unik Famadihana ini 7 tahun sekali.
Suku Malagasi yang masih menganut kepercayaan mereka, merayakan Famadihana sebagai perwujudan rasa cinta kepada anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Caranya pun cukup unik, mereka membongkar kuburan leluhur dan mengambil tulang belulangnya yang masih tersisa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Membongkar kuburan memang dianggap tabu di Indonesia, tapi dianggap biasa oleh Suku Malagasi. Setelah membongkar dan mengambil tulang leluhur, tulang itu dibungkus dengan kain dan tikar yang diikat oleh tali. Kegiatan itu pun disambut dengan kegembiraan oleh anggota keluarga yang masih hidup.
Bagi Suku Malagasi, orang mati tidak sepenuhnya meninggal. Mereka yang telah meninggal masih dapat berkomunikasi dengan sanak keluarga yang masih hidup. Orang mati menjadi penghubung antara Tuhan mereka, Zanahary Sang Pencipta, dengan orang yang masih hidup.
Orang mati dianggap sebagai 'Tuhan di Bumi' oleh Suku Malagasi. Dalam proses pembuatan kuburannya juga tidak sembarangan, semuanya dilakukan dengan ketelatenan. Ada yang makamnya terbuat dari batu, kaca, sampai diukir. Semuanya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing.
Layaknya festival, sang pemilik hajat menyediakan berbagai makanan dan minuman, tidak lupa hiburan musik. Semua peserta undangan bernyanyi dan berpesta dalam Famadihana. Daging ternak pun dipotong, dagingnya dibagikan ke tamu undangan.
Untuk sanak saudara yang merayakan Famadihana, perlu melakukan ritual tambahan. Mereka harus mendekati bungkusan tulang, bersukacita, dan membuka bungkusannya. Barulah anggur disiramkan ke atas tumpukan tulang dan ditutup kembali. Terakhir, bungkusan berisi tulang leluhur dikuburkan kembali ke tanah, ditutup tarian.
Kalau Anda tertarik untuk menyaksikan Famadihana di Madagaskar, pastikan dulu tanggal dan tahunnya. Famadihana biasanya dilakukan antara bulan Juli dan September. Acara ini terbuka dan dapat disaksikan oleh siapa saja. Bersiaplah untuk bersukacita dan larut dalam tarian kegembiraan Suku Malagasi.
(shf/shf)











































Komentar Terbanyak
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Indonesia Bakal Punya Negara Tetangga Baru, Siap Merdeka di 2030
Malaysia Rajai Pariwisata ASEAN, Indonesia Kalah dari Vietnam