Kalau melihat peta Semenanjung Korea, DMZ berbentuk semacam garis yang memisahkan Korut dan Korsel. DMZ terbentang sepanjang 250 kilometer dengan lebar sekitar 4 kilometer. Di tengah-tengah DMZ terbentang Garis Demarkasi Militer (MDL).
DMZ dibuat setelah berakhirnya Perang Korea (5 Juni 1950-27 Juli 1953). Setelah perang berakhir, kedua belah pihak sepakat untuk menarik mundur tentaranya masing-masing sejauh 2 kilometer dari garis depan. Meski demikian, Korut dan Korsel tetap menempatkan tentaranya di sisi DMZ masing-masing untuk mengantisipasi potensi serangan dari pihak seberang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi, untuk masuk ke DMZ, wisatawan harus mematuhi sejumlah aturan ketat yang diterapkan otoritas setempat. Aturan utamanya adalah setiap wisatawan, terutama wisatawan asing, harus membawa paspor masing-masing.
Sebelum masuk ke DMZ, bus yang ditumpangi para wisatawan akan berhenti di sebuah check point. Di titik ini, seorang tentara Korsel akan naik ke atas bus dan memeriksa paspor masing-masing wisatawan. Dia juga akan menghitung berapa jumlah wisatawan di dalam bus. Jumlah pelancong harus sama ketika masuk dan keluar DMZ. Kalau tidak, bus Anda tidak akan dibiarkan meninggalkan DMZ.
Dengan alasan keamanan, Anda dilarang mengambil foto si tentara ketika pemeriksaan paspor berlangsung.
"Kalau Anda memotret tentara itu dan kemudian mempostingnya di internet, itu bisa mengancam keselamatan si tentara. Anda sama saja menjadi seorang mata-mata," jelas seorang pemandu wisata, Lee Yukyung, saat menemani detikTravel memasuki DMZ pada Sabtu (4/7/2014) lalu.
Setelah mendapatkan lampu hijau dari otoritas setempat, barulah bus bisa meninggalkan check point dan masuk ke wilayah DMZ.
Ada beberapa destinasi wisata di dalam DMZ sisi Korsel, salah satunya adalah Dora Observatory. Dora Observatory terletak di puncak Dorasan (Gunung Dora) dan merupakan bagian Korsel yang paling dekat dengan Korut. Letaknya di Kota Paju, Provinsi Gyeonggi, Korsel.
Dari Dora Observatory, pengunjung bisa melihat gambaran sekilas Korut. Di sana disediakan beberapa teropong untuk mengintip wilayah Korut. Untuk memakai teropong-teropong tersebut, pengunjung harus memasukkan koin 500 won (sekitar Rp 5.700).
Apa yang bisa dilihat dari teropong-teropong tersebut? Salah satu yang paling jelas terlihat adalah Wilayah Industri Gaeseong. Meski letaknya di Korut, Wilayah Industri Gaeseong justru dipakai oleh perusahaan-perusahaan Korsel untuk melakukan proses produksi dengan pertimbangan upah buruh yang murah. Para pekerja di sana sebagian besar adalah warga negara Korut, tapi ada juga sebagian kecil warga Korsel yang bekerja sebagai staf.
Lewat teropong-teropong tersebut, pengunjung juga bisa melihat patung Kim Il Sung meski tak terlalu jelas. Kim Il Sung adalah pemimpin pertama Korut dan kakek dari pemimpin Korut sekarang, Kim Jong Un.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
'Dulu Ramai Sekali, Sekarang Sepi Seperti Kota Mati'
Setuju atau Tidak Bandara Husein & Adisutjipto Dibuka Lagi?
Ribuan Vila Terancam Delisting, Pemerintah Tegaskan Bukan Mempersulit Usaha