Perjalanan saya ke Kinabalu bersama rekan-rekan media dari Jakarta pada beberapa waktu lalu menyisakan banyak pengalaman menarik. Salah satunya, ada yang nyeletuk kalau kami rasanya tidak seperti sedang ke luar negeri.
Terang saja, hampir di tiap objek wisata kami cukup mudah berbincang-bincang dengan masyarakat setempat. Saat saya belanja di Pasar Kraftangan, ibu-ibu penjual suvenir dan mutiara memakai bahasa Indonesia yang sangat fasih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan berjilbab ini menambahkan, Kinabalu pun sering dikunjungi turis Indonesia. Maka bagi masyarakat setempat, itu memudahkan memakai bahasa Indonesia.
Sebelas dua belas dengan hal tersebut, Alister yang merupakan pemandu di Mari Mari Village juga berbahasa Indonesia dengan baik. Awalnya saya memakai bahasa Inggris, tapi dia justru lebih nyaman pakai bahasa Indonesia.
"Teman-teman saya juga banyak dari Kalimantan. Jadi biasalah pakai bahasa kamu," ucapnya.
Lain lagi dengan Zainal Abidin Bin Nordin, seorang supir taksi Exzora bikin rombongan kami kaget. Dia ternyata punya keturunan Bugis. Dia pun sangat senang, karena tahu kami dari Indonesia.
"Bapak saya Bugis, ibu saya Sabah. Tapi, saya lahir di sini jadinya warga negara Malaysia. Saya pun sering pulang ke Makassar," katanya penuh semangat.
Dia meneruskan, banyak orang-orang dari Indonesia yang menetap di Kinabalu untuk bekerja. Dengan sedikit merendahkan nada, dia bilang memang lebih mudah cari pekerjaan di Kinabalu.
"Tapi tetap Mas, ada enak dan tidak enaknya juga," ucapnya.
(aff/fay)












































Komentar Terbanyak
Kubu PB XIV Purbaya Protes Keras ke Menbud Fadli Zon sampai Naik ke Panggung
Bukan Hanya Wisatawan, Menkes Juga Merasa Berat Bayar Tiket Pesawat
DPR Beberkan Biang Keladi Harga Tiket Pesawat Domestik di Indonesia Mahal