Rasa Indonesia di Kinabalu, Malaysia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Malaysia

Rasa Indonesia di Kinabalu, Malaysia

- detikTravel
Selasa, 24 Mar 2015 07:45 WIB
Rasa Indonesia di Kinabalu, Malaysia
Suasana di Kota Kinabalau (Afif/detikTravel)
Kinabalu - Anda cukup mudah jalan-jalan ke negeri tetangga Malaysia. Bahasa tak jadi kendala, karena mirip-mirip dengan Indonesia. Seperti di Kinabalu misalnya, hampir semua orang bisa bahasa Indonesia, tak hanya Melayu.

Perjalanan saya ke Kinabalu bersama rekan-rekan media dari Jakarta pada beberapa waktu lalu menyisakan banyak pengalaman menarik. Salah satunya, ada yang nyeletuk kalau kami rasanya tidak seperti sedang ke luar negeri.

Terang saja, hampir di tiap objek wisata kami cukup mudah berbincang-bincang dengan masyarakat setempat. Saat saya belanja di Pasar Kraftangan, ibu-ibu penjual suvenir dan mutiara memakai bahasa Indonesia yang sangat fasih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya orang Sabah, Malaysia tapi sehari-hari pakai bahasa Indonesia. Memang, lebih banyak yang pakai bahasa Indonesia di sini dibanding di kota-kota, seperti di Kuala Lumpur," paparnya.

Perempuan berjilbab ini menambahkan, Kinabalu pun sering dikunjungi turis Indonesia. Maka bagi masyarakat setempat, itu memudahkan memakai bahasa Indonesia.

Sebelas dua belas dengan hal tersebut, Alister yang merupakan pemandu di Mari Mari Village juga berbahasa Indonesia dengan baik. Awalnya saya memakai bahasa Inggris, tapi dia justru lebih nyaman pakai bahasa Indonesia.

"Teman-teman saya juga banyak dari Kalimantan. Jadi biasalah pakai bahasa kamu," ucapnya.

Lain lagi dengan Zainal Abidin Bin Nordin, seorang supir taksi Exzora bikin rombongan kami kaget. Dia ternyata punya keturunan Bugis. Dia pun sangat senang, karena tahu kami dari Indonesia.

"Bapak saya Bugis, ibu saya Sabah. Tapi, saya lahir di sini jadinya warga negara Malaysia. Saya pun sering pulang ke Makassar," katanya penuh semangat.

Dia meneruskan, banyak orang-orang dari Indonesia yang menetap di Kinabalu untuk bekerja. Dengan sedikit merendahkan nada, dia bilang memang lebih mudah cari pekerjaan di Kinabalu.

"Tapi tetap Mas, ada enak dan tidak enaknya juga," ucapnya.

(aff/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads