"Rumah Suku Lundayeh mirip dengan suku-suku lain di kawasan Sabah. Terbuat dari kayu dan beratapkan jerami," ujar Alister, pemandu di Mari Mari Village kepada saya beberapa waktu ketika mengantarkan rombongan wartawan dari ASEAN saat jalan-jalan di sana.
Alister mempersilakan saya dan rombongan untuk masuk ke dalam. Menurut pengamatan saya, terdapat sekitar dua kamar untuk tidur, dapur dan ruang tamu. Bahan bangunannya yang terbuat dari kayu, membuat suasana di dalamnya cukup sejuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, di mana tengkorak manusia hasil dari perburuan kepala? Alister menjawab, jika di rumah-rumah Suku Lundayeh, tengkorak manusia dipajang sampai tinggi di dalam rumah. Itu menandakan, berapa banyak anak lelaki yang sudah menikah di suatu keluarga. Sebab, mereka memang berburu kepala sebagai syarat untuk menikah. Kepala yang diburu, juga kepala pria dan menjadi musuh dari kampungnya.
"Sayang, kalau di sini memang kami tidak tampilkan. Tidak boleh oleh peraturan adat dan takutnya turis malah tidak nyaman," ungkap Alister.
Sedikit kecewa, tapi tak apalah. Toh, saya masih bisa melihat replika rumah Suku Lundayeh yang mirip aslinya. Di dalamnya pun terdapat berbagai aneka sayur mayur untuk memasak dan aneka senjata dari pedang, panah sampai tombak.
"Yang harus Anda tahu, rumah Suku Lundayeh selalu dekat dengan sungai dan berbentuk seperti rumah panggung. Di perkampungan aslinya, satu kampung Suku Lundayeh harus memiliki patung buaya karena itu dianggap dewa oleh mereka. Di sini, kami buatkan replikanya juga," papar pria berkulit putih tersebut.
Ya, patung buaya yang terbuat dari gundukan tanah ada persis di sebelah replika rumah Suku Lundayeh ini. Saya pun sibuk mengabadikan sudut-sudutnya, meski susah karena terlalu banyak orang.
Mari Mari Village sudah dibuka untuk umum sejak tahun 2008. Dengan luas 7 hektar di tengah hutan, di sini ada 5 suku yang masing-masing letak rumahnya terpisah. Kelimanya yakni Kadazan Dusun, Bajo, Lundayeh, Murut, dan Rungus. Tiket masuk ke dalamnya sebesar 80 Ringgit atau sekitar Rp 285 ribu, yang sudah termasuk makan dan jasa pemandu.
(fay/fay)












































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
Provinsi Jawa Barat Mau Ganti Nama Jadi Sunda, Budayawan Cirebon Tanya Urgensinya Apa?
Kasihan! Tapir yang Viral di Lampung Disembelih Warga, Dimasak Jadi Rica-rica