Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 12 Mei 2015 16:30 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Belajar dari Tragedi, Begini Cara Australia Hargai Pejalan Kaki

detikTravel
Monumen yang dibangun untuk mengenang dua korban (Andi Saputra/detikTravel)
Monumen yang dibangun untuk mengenang dua korban (Andi Saputra/detikTravel)
Melbourne - Traveler akan senang menjelajah sebuah kota ketika memiliki area pejalan kaki yang nyaman. Seringkali hak para pejalan kaki diabaikan. Australia punya contoh bagaimana menghargai pejalan kaki, karena belajar dari tragedi.

Kecelakaan memang jadi kejadian yang tak bisa dielakkan. Tak ingin melupakan begitu saja, Kota Melbourne punya monumen untuk 2 pejalan kaki yang tewas tertimpa tembok. Iya betul, ini monumen untuk menghargai pejalan kaki.Rupanya ini berkaca dari sebuah tragedi tewasnya pejalan kaki.

Kasus itu terjadi pada Maret 2013 saat seorang mahasiswi asal Prancis, Marie-Faith Fiawoo (23) dan kakak beradik Bridget (18) dan Alexander Jones (19) tengah berjalan di trotoar Jalan Swanston Street, Melbourne. Di sebelah trotoar, berdiri sebuah tembok pagar tanah kosong yang dibangun oleh pengembang konstruksi Grocon.

Saat mereka berjalan sekitar pukul 15.00 WIB, angin bertiup kencang dan tiba-tiba tembok jatuh. Bruk! Fiawoo meninggal dunia seketika. Adapun Jones masih bisa menahan tembok beberapa detik yang menimpa mereka supaya adiknya selamat. Tetapi berat tembok terlalu berat sehingga kedua kakak beradik itu lalu menghembuskan nafas di lokasi. Warga yang melihat lalu langsung menyelamatkan mereka tetapi nyawanya tidak tertolong.

Kejadian ini menggoncang warga Melbourne. Pengembang lalu diadili dan diajukan ke pengadilan setempat. Hakim tunggal Charlie Rozebcwajg memutuskan Grocon bersalah karena tembok itu memungkinkan banyak kemungkinan orang mengalami kecelakaan dan kecelakaan itu menunjukan pengembang gagal melakukan tugasnya.

Hakim Charlie mengesampingkan keterangan saksi ahli yang menyatakan tembok itu bisa bertahan selama 5 hingga 10 tahun dan kecelakaan itu disebabkan karena faktor alam. Alhasil, hakim Charlie menjatuhkan hukuman denda kepada Grocon sebesar AUD 250 ribu atau setara dengan Rp 2,5 miliar. Selain itu, pengembang juga dihukum membangun monumen peringatan kejadian nahas itu.

detikTravel mendapat kesempatan mengunjungi monumen tersebut di sela-sela undangan dari Melbourne Tourism (dinas pariwisata negara bagian Victoria) pada 5-10 Mei 2015 yang bekerjasama dengan Indonesia AirAsia X dan Tune Hotels. Monumen itu tidak terlalu besar tetapi cukup menyita perhatian masyarakat yang lewat.

Sebuah tembok setinggi 1 meter dibangun memanjang sekitar 2 meter dengan di atasnya terdapat 3 lubang yang difungsikan untuk menempatkan bunga. Sebuah kalimat dituliskan di atas marmer dengan kalimat penghormatan setinggi-tingginya bagi meninggalnya ketiga pejalan kaki itu dan untuk mengingatkan pengembang supaya lebih berhati-hati dalam membangun gedung.

Sebuah foto kakak-beradik, Bridget dan Alexander yang dilaminating dipasang di monumen itu. Adapun bekas dinding yang jatuh, kini kembali berdiri dan ditanami pohon.

"Keluarganya atau warga sini sering memberikan bunga di atas monumen ini. Budaya orang Australia seperti ini, sangat menghormati hal seperti ini," kata Norman, warga Indonesia yang telah bermukim selama 6 tahun di Melbourne.

Beda Australia, beda Indonesia. Kerap warga Jakarta meninggal saat menikmati fasilitas publik tetapi semua seakan berlalu begitu saja. Tidak ada hukuman dari pengadilan satu pun yang dijatuhkan, bahkan monumen pun tidak ada satu pun yang didirikan.

Seperti saat 9 orang pejalan yang tengah asik olah raga pagi di dekat Tugu Tani, Jakarta Pusat tewas seketika gara-gara diseruduk mobil yang dikendarai oleh Afriyani. Atau seorang pemotor yang jatuh di lubang galian sedalam 9 meter di Cibubur, Jakarta Timur beberapa waktu lalu. Pemerintah lempar bola dengan menyalahkan kontraktor. Kasus ini menguap begitu saja.

(shf/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA