Bukan Sepatu Cinderella, Ini Selop Berhias Intan dari Singapura

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Singapura

Bukan Sepatu Cinderella, Ini Selop Berhias Intan dari Singapura

Muhamad Reza Sulaiman - detikTravel
Kamis, 28 Mei 2015 19:00 WIB
Bukan Sepatu Cinderella, Ini Selop Berhias Intan dari Singapura
Selop berhias intan di Museum The Intan Singapura (Reza/detikTravel)
Singapura - Jalan-jalan ke Singapura ternyata tak hanya belanja saja. Bagi traveler yang ingin liburan anti mainstream, coba belajar sejarah peranakan Tionghoa-Singapura di museum The Intan. Ada selop berhias intan yang unik lho!

Salah satu sejarah yang menarik adalah soalβ€Ž peranakan, yakni warga Singapura keturunan Tiongkok yang merupakan kelompok etnis terbesar di Singapura. The Intan, sebuah museum-rumah yang menyimpan ribuan koleksi soal sejarah dan budaya peranakan Tiongkok.

Salah satunya adalah selop yang berhiaskan manik-manik berhiaskan intan, atau yang dikenal sebagai manik potong di Singapura. Alvin sang pengelola museum, mengatakan selop berhiaskan intan merupakan salah satu pakaian adat peranakan Tiongkok yang digunakan ketika pesta pernikahan.

"Kebudayaan peranakan tidak mengenal berlian. Dulu, selop berhiaskan intan merupakan pertanda kemapanan dan gengsi bagi sebuah keluarga ketika melaksanakan pernikahan," ungkap Alvin ketika ditemui di museum-rumahnya, Rabu (25/5/2015).

Alvin memiliki puluhan selop berhiaskan intan, baik selop laki-laki maupun perempuan. Yang paling tua sudah berumur 70 hingga 80 tahun dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Pria berusia 45 tahun ini mengaku hobi mengoleksi barang-barang khas kebudayaan peranakan Tiongkok. Sebabnya, ia ingin melestarikan kebudayaan serta sejarah peranakan Tiongkok di Singapura yang perlahan-lahan tergerus oleh zaman.

"Banyak dari kami, warga peranakan Tiongkok di Singapura yang mungkin saja melupakan budaya asli kami karena kemajuan zaman. Saya tidak ingin itu terjadi, karena itulah saya memutuskan untuk mengoleksi barang-barang antik khas peranakan," urainya lagi.

Selain selop dengan manik-manik intan, ragam benda khas peranakan Tiongkok lainnya juga dimiliki Alvin. Mulai dari alat-alat pesta pernikahan, baju, kursi, meja hingga meja abu serta keramik tersimpan rapi di rumahnya. Barang-barang tersebut didapatnya dengan membeli ataupun diperoleh sebagai hadiah dari orang-orang peranakan lainnya.

Salah satu koleksi menarik lain miliknya adalah kain altar bermotif batik. Alvin mengatakan kain altar yang biasa digunakan untuk beribadah ini sangat unik memiliki motif batik yang kental dengan unsur-unsur budaya peranakan Tiongkok.

"Sangat lazim melihat motif naga, bunga peoni, ataupun burung phoenix di kain altar Tiongkok. Namun saya menemukan motif-motif tersebut dalam kain batik khas Indonesia, dan digunakan sebagai alat beribadah hanya oleh peranakan Tiongkok di sana. Tentu saja ini hal ini sangat unik," ungkapnya lagi.

Selain melihat dan belajar soal peranakan Tiongkok, The Intan juga menyediakan teh dan makan malam bagi tamu yang berkunjung. Hanya saja, traveler yang ingin berkunjung harus terlebih dahulu memesan tempat dan jadwal karena keterbatasan tempat.

Untuk paket minum teh sembari melihat koleksi dan belajar soal peranakan Tiongkok, Alvin mengenakan tarif sekitar SGD 40-45/orang (Rp 391 ribu-440 ribu). Untuk makan malam, tarifnya bisa lebih mahal, yakni di kisaran SGD 100/orang (Rp 980 ribu).

"Karena ini koleksi pribadi yang kebetulan dikategorikan sebagai museum oleh pemerintah, saya hanya menerima tamu yang benar-benar tertarik. Dan memang karena ini rumah, tempatnya juga tidak terlalu besar.

The Intan terletak di Joo Chiat Terrace No 69, dekat stasiun MRT Eunos. Jika ingin melakukan reservasi, traveler bisa menghubungi Alvin melalui email atau membuka situs The-Intan.com.

(Kurnia Yustiana/Fitraya Ramadhanny)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads